RADAR TULUNGAGUNG - Korban jiwa akibat gempa buma berkekuatan magnitudo 6,9 yang mengguncang Fillipina bagian tengah terus bertambah.
Kemarin (1/10), Deputi Administrator Badan Pertahanan Sipil Filipina Rafaelito Alejandro menyebut bahwa jumlah korban meninggal kini mencapai 69 orang.
Selasa malam (30/9), Kota Bogo di Pulau Cebu diguncang gempa dangkal.
Kurang lebih 90 ribu jiwa penduduk di sana panik. Gempa menyebabkan bangunan roboh dan jalan-jalan retak.
Baca Juga: Tsunami Hantam Pesisir Jepang Usai Gempa Dahsyat Rusia, Nasib Warga Setempat jadi Perhatian
"Kami masih menerima laporan tambahan korban jiwa. Situasi sangat dinamis," kata Alejandro seperti dilansir dari The Guardian.
Upaya penyelamatan tengah dilakukan di Bogo maupun San Remigio. Banyaknya reruntuhan menyebabkan tim penyelamat harus hati-hati sekaligus teliti.
Menurut laporan upaya evakuasi terganggu oleh kegelapan malam dan gempa susulan. Layanan Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat empat gempa susulan berkekuatan Magnitudo 5,0 ke atas sejak gempa utama.
Baca Juga: Gempa di Alaska Guncang Aleutian Peninsula, Sempat Terjadi Peringatan Tsunami
Filipina dikenal sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia karena terletak di Cincin Api Pasifik yang rentan gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Selain itu, negara kepulauan ini rutin diterjang sekitar 20 siklon tropis tiap tahun.
Bencana ini menjadi salah satu gempa paling mematikan di Filipina dalam beberapa tahun terakhir.
Kerusakan infrastruktur, runtuhnya bangunan, dan terganggunya layanan dasar menambah beban masyarakat di wilayah terdampak.
Meski tidak memicu tsunami, gempa ini memicu ratusan gempa susulan yang membuat warga semakin waspada.
Pemerintah Filipina merespons cepat dengan operasi penyelamatan, bantuan darurat, dan deklarasi keadaan bencana, sementara dukungan dari berbagai organisasi kemanusiaan terus mengalir.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam, khususnya di wilayah yang berada di zona rawan gempa seperti Filipina.
Masyarakat, pemerintah, dan dunia internasional perlu terus bekerja sama dalam meningkatkan mitigasi risiko serta memperkuat sistem tanggap darurat di masa depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana