RADAR TULUNGAGUNG - Benjamin Netanyahu kini berada di ambang krisis politik yang serius, setelah sejumlah partai koalisi meninggalkan pemerintahan dan oposisi menyusun blok kuat untuk menggulingkannya dari kursi Perdana Menteri Israel.
Tekanan meningkat seiring ketidakpuasan publik terhadap kebijakan militer dan tudingan otoritarianisme di. Dengan pemilu 2026 di cakrawala, kursi kekuasaan Netanyahu makin goyah.
Setelah bertahun-tahun saling gontok, kubu oposisi dari sayap kanan hingga kiri menyadari: satu-satunya cara mengakhiri era Netanyahu adalah bersatu.
Yair Lapid, Naftali Bennett, dan tokoh-tokoh sentral oposisi menandatangani “kesepakatan anti-Netanyahu” sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Tujuan mereka bukan cuma merebut kekuasaan, tapi juga memulihkan demokrasi yang dianggap “semakin tercekik” oleh dominasi Netanyahu dan sekutunya dari sayap kanan ekstrem.
Baca Juga: Trump Desak Netanyahu Bersikap Baik terhadap Warga Gaza yang Menderita akibat Blokade
Tak hanya dari luar, Netanyahu juga dilanda badai dari dalam pemerintahannya. Kepala badan intelijen Shin Bet, Ronen Bar, mundur setelah konflik tajam dengan Netanyahu.
Ketika PM Israel mencoba memecatnya, Mahkamah Agung justru membatalkan langkah itu mempermalukan Netanyahu di hadapan publik.
Pemilu Dini, Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja
Baca Juga: Netanyahu Langgar Gencatan Senjata, Senator Desak Pemerintah AS Tak Lagi Bantu Israel
Meskipun pemilu dijadwalkan 2026, situasi saat ini seperti mendekati titik didih. Jika satu lagi partai meninggalkan koalisi, Netanyahu tak punya pilihan selain menghadapi pemilu dini.
Dengan popularitas yang menurun dan skandal yang membayangi, ini bisa jadi akhir dari karier politiknya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana