RADAR TULUNGAGUNG - Toyoake, sebuah kota kecil di Prefektur Aichi, Jepang, menjadi perbincangan hangat dunia.
Hal ini dipicu pemerintah Toyoake membuat aturan membatasi penggunaan gawai maksimal dua jam per hari.
Meski awalnya menuai kritik karena dianggap mencampuri urusan pribadi, kebijakan yang mulai berlaku per 1 Oktober lalu itu pada akhirnya dijalani oleh warga Toyoake.
Baca Juga: Si Juki dan Black Jack Selidiki Wabah Bulu Hidung di Kyokarta: Komik Kolaborasi Indonesia-Jepang
Setelah sepekan atau kemarin (8/10/2025), ternyata sebagian besar warga Toyoake mulai meninjau ulang kebiasaan digital mereka.
Yuri, bukan nama sebenarnya, mahasiswi di Toyoake, tidak keberatan dengan aturan ini. Menurutnya, hal tersebut tidak sulit.
"Aku secara umum setuju karena aku tidak terlalu bergantung pada ponsel untuk hobi atau minatku. Tetapi, bagi mereka yang memakai ponsel untuk hiburan dan pelepas stres, aturan seperti ini akan lebih sulit diterima," bebernya kepada The Guardian.
Baca Juga: Mahjong Semakin Populer di Kalangan Siswa SMA Jepang, Bisa Tingkatkan IQ Hingga Delapan Poin
Yuri mengaku sudah rutin membatasi penggunaan ponsel sejak lama, terutama menjelang ujian. Bahkan, dia sempat menyembunyikan aplikasi Instagram dan memasang kunci sandi agar tidak tergoda.
"Kalau tujuannya mendorong orang untuk me mikirkan kembali kebiasaan-nya, menurut saya mereka seharusnya diajak untuk me-netapkan aturan sendiri," tuturnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana