RADAR TULUNGAGUNG - Starbucks mengumumkan akan menutup ratusan gerai berkinerja buruk dan mem-PHK sekitar 900 karyawan sebagai bagian dari rencana restrukturisasi senilai USD1 miliar.
Langkah ini diambil untuk menyederhanakan struktur operasional dan memperkuat daya saing di tengah tekanan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen.
Perusahaan menyebut bahwa gerai yang ditutup adalah mereka yang dinilai tidak memiliki prospek keuangan yang sehat ataupun lingkungan yang memenuhi harapan pelanggan.
Rencana Penutupan Gerai & PHK
Dalam pengumuman resminya, Starbucks menyatakan akan menutup sekitar 1 persen gerai di Amerika Utara yang diperkirakan sekitar 400 toko dari total gerai yang ada.
Gerai‑gerai yang ditutup dipilih berdasarkan evaluasi performa finansial dan kemampuan mereka memberikan pengalaman yang diharapkan pelanggan.
Bersamaan dengan itu, Starbucks akan mem-PHK 900 karyawan level non‑ritel/korporat sebagai bagian dari efisiensi struktur dan penghapusan posisi yang dianggap duplikatif atau kurang relevan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Akui Negosiasi AS Alot: Tapi Saya Wajib Lindungi Buruh Kita dari PHK
Selain itu, posisi-posisi kosong yang belum diisi pun akan dibatalkan sebagai bagian dari pemangkasan struktur pendukung.
Langkah ini bukanlah yang pertama, pada Februari 2025 lalu Starbucks juga sebelumnya telah melakukan PHK terhadap 1.100 karyawan korporat sebagai langkah awal restrukturisasi.
Anggaran dan Dampak Biaya
Total alokasi anggaran untuk restrukturisasi ini diperkirakan mencapai USD 1 miliar (sekitar Rp16,7–16,8 triliun), mencakup berbagai pos biaya.
Rinciannya termasuk sekitar USD 150 juta untuk pesangon dan kompensasi PHK karyawan, sekitar US$ 400 juta untuk pelepasan aset toko dan penurunan nilai (impairment) aset toko yang akan ditutup, dan sekitar USD 450 juta terkait biaya sewa dan pemutusan perjanjian sewa awal (lease exit costs).
Starbucks memperkirakan bahwa sebagian dari biaya tersebut akan menjadi pencatatan non-kas (non-cash charges) sekitar USD 400 juta, sedangkan sisanya akan benar-benar dikeluarkan dalam bentuk uang tunai ke depan.
Baca Juga: Jangan Takut PHK, Masih Ada Kunci Sukses dan 5 Pekerjaan Masa Depan
Alasan dan Strategi Kebangkitan (“Back to Basics”)
Menurut Brian Niccol, CEO Starbucks, langkah ini diambil setelah proses evaluasi internal terhadap gerai-gerai yang tidak memenuhi standar lingkungan fisik yang diharapkan pelanggan atau tidak memiliki prospek kinerja finansial.
Dia menyebut bahwa perusahaan ingin kembali ke akar bisnis kopi, menyederhanakan operasi, mengurangi kompleksitas, dan meningkatkan kecepatan serta pengalaman pelanggan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana