RADAR TULUNGAGUNG – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan menyatakan kepada awak media bahwa konflik berkepanjangan di Gaza "telah berakhir," sesaat sebelum ia lepas landas menuju Timur Tengah.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Trump di atas pesawat kepresidenan Air Force One, pada Minggu (12/10/2025) waktu setempat, menjelang dimulainya pembebasan sandera yang dijadwalkan pada hari Senin.
Kunjungan ini sangat penting karena Trump tidak hanya dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan berpidato di parlemen Israel, tetapi juga akan memimpin Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) penting mengenai masa depan Gaza di Mesir.
Trump yang terlihat sangat yakin menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah ia percaya konflik antara Israel dan kelompok Palestina benar-benar telah selesai. "Perang telah berakhir. Oke? Anda mengerti?" tanya Trump, menegaskan pendiriannya.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan para negosiator yang masih berupaya menyelesaikan rincian akhir dari peta jalan perdamaian yang diajukannya.
Trump didampingi oleh pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam perjalanannya kali ini.
Rencana perdamaian yang digagas Trump menekankan bahwa Hamas harus menyerahkan semua sandera yang masih hidup yang ditahan sejak Oktober 2023, dan sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina.
Meskipun Donald Trump menyatakan perang usai, suasana di Yerusalem menunjukkan optimisme yang lebih hati-hati dari pihak Israel, terutama dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Deklarasi Trump ini merupakan titik balik diplomasi yang akan berlanjut di KTT Gaza yang akan dihadiri oleh lebih dari 20 pemimpin negara di Sharm El-Sheikh, Mesir.
Kehadiran Trump di KTT tersebut diharapkan mampu mengukuhkan perjanjian gencatan senjata dan memetakan langkah selanjutnya pasca-konflik yang telah menewaskan lebih dari 67.800 orang di Gaza sejak Oktober 2023, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Hamas yang dianggap kredibel oleh PBB.
Baca Juga: Monaco, Pusat Kemewahan Global dalam Negeri Kecil, Jadi Tempat Tinggal Pesohor Dunia
Rincian Pertukaran Sandera dan Tahanan
Pertukaran sandera dan tahanan merupakan inti dari kesepakatan gencatan senjata yang sementara ini mengakhiri pertempuran.
Juru bicara kantor Netanyahu, Shosh Bedrosian, mengonfirmasi bahwa proses pembebasan sandera akan dimulai pada Senin pagi, dengan harapan 20 sandera yang masih hidup akan dibebaskan secara serentak.
Pihak Israel berjanji bahwa tahanan Palestina akan dibebaskan setelah Israel menerima konfirmasi keamanan bahwa semua sandera yang dijadwalkan telah melintasi perbatasan dengan aman.
Namun, proses pertukaran ini tidak berjalan mulus. Hingga Minggu malam (12/10), dua sumber Hamas mengungkapkan kepada AFP bahwa kelompok tersebut masih bersikeras agar Israel menyertakan tujuh pemimpin senior Palestina dalam daftar pembebasan, termasuk setidaknya satu nama yang sebelumnya ditolak oleh Israel.
Di sisi lain, ada peringatan dari pejabat militer senior Israel bahwa tidak semua sandera yang tewas akan dikembalikan pada Senin.
Hamas sendiri telah menyatakan bahwa mereka telah menyelesaikan semua persiapan untuk penyerahan 47 sandera, termasuk mereka yang masih hidup, yang telah meninggal, dan bahkan jenazah seorang tentara Israel yang tewas dalam Perang Gaza tahun 2014.
Daftar tahanan Palestina yang akan dibebaskan mencakup sekitar 250 tahanan keamanan beberapa dihukum karena membunuh warga Israel serta 1.700 lainnya yang ditangkap oleh pasukan Israel di Gaza selama konflik dua tahun terakhir.
Klaim Kemenangan Israel di Tengah Ketidakpastian
Meskipun Trump secara eksplisit menyatakan perang telah usai, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan pesan yang lebih nuansatif kepada publiknya di Yerusalem.
Netanyahu mengklaim bahwa negaranya telah mencapai "kemenangan luar biasa" yang "memukau seluruh dunia".
Namun, ia dengan tegas menambahkan, "perjuangan ini belum berakhir". Netanyahu menggambarkan momen pembebasan sandera yang akan datang sebagai "malam yang emosional, malam yang penuh air mata, malam yang penuh sukacita," sambil mengutip ayat dari kitab suci.
Sentimen serupa juga disampaikan oleh Panglima Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir. Ia mengklaim kemenangan telah dicapai melalui kombinasi "tekanan militer yang kami terapkan selama dua tahun terakhir, bersama dengan langkah-langkah diplomatik pelengkap," yang diyakini merupakan "kemenangan atas Hamas".
Meskipun Israel merasa telah meraih kemenangan, faktanya, Hamas, walaupun telah kehilangan banyak pemimpin penting, dilaporkan belum sepenuhnya hancur.
Memetakan Masa Depan Gaza Pasca-Gencatan Senjata
KTT yang akan dipimpin oleh Trump di Sharm El-Sheikh memiliki agenda krusial: menentukan pemerintahan Gaza di masa depan. Dalam rencana yang diajukan oleh Trump, penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza akan dilakukan.
Pasukan Israel ini rencananya akan digantikan oleh pasukan multinasional yang berada di bawah komando pusat yang dipimpin oleh AS dan akan berbasis di Israel.
Namun, ada kekosongan yang signifikan dalam KTT tersebut: perwakilan dari Israel dan Hamas tidak akan menghadiri upacara penandatanganan perjanjian damai tersebut.
Sumber dekat komite negosiasi Hamas menyatakan bahwa meskipun kelompok tersebut tidak akan ikut serta dalam pemerintahan Gaza pascaperang, mereka juga menolak untuk menyerahkan senjata mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata telah berlaku dan Trump telah mengumumkan perang berakhir, kerangka perdamaian jangka panjang masih penuh dengan tantangan dan ketidakpastian politik di wilayah tersebut. ****
Editor : Dharaka R. Perdana