Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Aksi Pencurian Paling Legendaris Guncang Paris, Mahkota Istri Napoleon III Raib dari Museum Louvre

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Rabu, 22 Oktober 2025 | 16:40 WIB

kondisi museum louvre pasca perampokan.
kondisi museum louvre pasca perampokan.

RADAR TULUNGAGUNG – Sebuah perampokan dramatis telah mengguncang jantung budaya global. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, Museum Louvre yang paling ikonik di Paris kembali menjadi sasaran aksi kriminal terencana.

Peristiwa ini menambah daftar panjang sejarah pencurian besar yang pernah terjadi di institusi tersebut, dan yang terbaru menargetkan perhiasan berharga koleksi era Napoleon.

Mahkota Permaisuri Eugénie—artefak bersejarah dari era Napoleon III—menjadi pusat perhatian dalam babak terbaru aksi kriminal di Museum Louvre.

Peristiwa ini menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa bahkan sistem keamanan tercanggih sekalipun tidak sepenuhnya kebal terhadap kejahatan yang terencana dengan matang.

Aksi perampokan terbaru ini dinilai sebagai "penghinaan tak tertahankan bagi Prancis" oleh politisi oposisi Jordan Bardella, mengingat Museum Louvre adalah simbol global budaya negara tersebut. Operasi perampok tersebut sangat cepat dan terhitung berani.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Gencatan Senjata Gaza Jadi Awal Penting Menuju Perdamaian Menyeluruh

Menurut keterangan jaksa Laura Beccuau, truk derek tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Hanya berselang empat menit, pada pukul 09.34, para perampok sudah berhasil memasuki Galeri Apollon.

Mereka menghabiskan waktu yang sangat singkat di dalam, antara enam hingga tujuh menit, sebelum keempat pelaku melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Geng perampok ini dilaporkan membobol museum dan membawa kabur sembilan perhiasan yang dipajang dalam sebuah pameran, meskipun benda kesembilan, yang kabarnya adalah mahkota Permaisuri Eugénie, ditemukan rusak di luar Museum Louvre. Mereka berhasil membawa kabur delapan benda berharga lainnya.

Insiden yang menargetkan koleksi Napoleon dan permaisurinya ini sontak menyebabkan Museum Louvre ditutup pada hari itu juga karena alasan luar biasa.

Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, segera mengunjungi lokasi kejadian dan memastikan tidak ada korban luka dalam perampokan tersebut, sementara penyelidikan intensif sedang berlangsung.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengakui bahwa peningkatan signifikan pada sistem keamanan Museum Louvre tidak dapat menjamin keamanan yang mutlak.

Nuñez menyatakan bahwa langkah-langkah keamanan akan ditinjau ulang sebagai bagian dari rencana yang lebih luas untuk memperkuat protokol perlindungan museum.

Perampokan ini, yang terjadi di tengah meningkatnya gelombang pencurian artefak dan perhiasan bersejarah di Eropa, menunjukkan tantangan serius yang dihadapi institusi budaya.

Sebagai museum paling ikonik di dunia, Museum Louvre telah menjadi saksi bisu berbagai aksi pencurian legendaris yang membentang lebih dari satu abad.

Museum ini menyimpan lebih dari 33.000 karya seni, termasuk mahakarya tak ternilai seperti lukisan "Mona Lisa" karya Leonardo da Vinci dan patung "Venus de Milo".

Dengan nilai sejarah dan budaya yang luar biasa, tidak heran jika Louvre menjadi salah satu target utama bagi para pencuri profesional di seluruh dunia.

Salah satu kasus yang paling terkenal dan masih dikenang hingga kini adalah pencurian lukisan Mona Lisa pada tahun 1911.

Vincenzo Peruggia, seorang karyawan museum, berhasil mencuri lukisan paling terkenal di dunia itu dan menyembunyikannya selama dua tahun sebelum akhirnya tertangkap di Italia.

Kasus serupa terjadi kembali pada tahun 1976. Tiga pencuri memanjat perancah untuk membobol Museum Louvre dan mencuri pedang bertahtakan berlian milik Raja Charles X.

Pencurian lain yang mengguncang dunia seni terjadi pada tahun 1990, ketika lukisan Potret Wanita Duduk karya Pierre-Auguste Renoir dipotong dari bingkainya dan dibawa kabur dari galeri.

Kini, dengan hilangnya perhiasan koleksi Napoleon, kejadian 2025 ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan institusi budaya terbesar di dunia ini.

Baca Juga: Starbucks Guncang Dunia Bisnis, Tutup 400 Gerai dan PHK 900 Karyawan, Strategi Baru atau Tanda Bahaya?

Meskipun Museum Louvre telah melakukan modernisasi sistem keamanannya, perampokan yang hanya membutuhkan waktu singkat di Galeri Apollon ini menunjukkan adanya celah yang dimanfaatkan oleh para perampok.

Pihak berwenang Prancis kini sedang melakukan evaluasi ulang terhadap protokol keamanan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyampaikan kepada media bahwa meskipun upaya modernisasi dilakukan, "kita tidak dapat mencegah semuanya".

Aksi pencurian ini juga menyoroti pola kejahatan yang lebih luas di Eropa. Sebagai perbandingan, pada tahun 2019, sekelompok pencuri membobol Green Vault di Istana Kerajaan Dresden, Jerman, dan mencuri perhiasan dengan nilai kerugian mencapai lebih dari EUR100 juta.

Sebagian besar barang curian baru ditemukan kembali setelah proses hukum dan kesepakatan pembelaan yang panjang.

Penggunaan metode yang canggih, seperti truk derek yang dilengkapi lift keranjang dan kaburnya pelaku dengan sepeda motor, menunjukkan perencanaan tingkat tinggi yang melampaui sistem pengawasan rutin.

Meskipun mahkota Permaisuri Eugénie akhirnya ditemukan, kondisinya yang rusak di dekat Museum Louvre menjadi kerugian yang signifikan dari segi sejarah dan nilai.

Penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap dan menangkap para pelaku yang telah mempermalukan Prancis dengan membobol harta karun ikonik di Museum Louvre. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#paris #museum louvre #perampokan museum nasional #Napoleon