RADAR TULUNGAGUNG - Perang saudara di Sudan telah mencapai titik didih yang mengerikan menyusul jatuhnya kota strategis El Fasher, benteng terakhir militer Sudan di Darfur.
Pengambilalihan El Fasher oleh milisi Rapid Support Forces (RSF) disebut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai "eskalasi mengerikan dari konflik".
RSF, sebuah kelompok paramiliter yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan Daglo atau "Hemeti," mengumumkan telah menguasai penuh kota tersebut pada Minggu, 26 Oktober. Tingkat penderitaan yang disaksikan di Sudan saat ini dianggap tak tertahankan, menurut Guterres.
Sekitar 260.000 warga sipil kini terjebak di El Fasher di timur Sudan, di mana separuh dari mereka adalah anak-anak. Kota tersebut telah dikepung secara brutal oleh RSF selama berbulan-bulan dan terputus dari segala bentuk kontak dengan dunia luar.
Kekejaman bermotif etnis dilaporkan meningkat tajam sejak kota itu direbut RSF. Sekutu militer Sudan, Joint Forces, mengatakan lebih dari 2.000 warga tak bersenjata dieksekusi dan dibunuh pada 26 dan 27 Oktober.
Korban pembantaian tersebut didominasi oleh perempuan, anak-anak, dan lansia. Kelompok pemantau Laboratorium Riset Kemanusiaan Universitas Yale menyatakan kekejaman massal yang dikhawatirkan kini menjadi kenyataan.
Kelompok pemantau tersebut mengandalkan citra satelit dan intelijen sumber terbuka dalam laporannya. Mereka menduga kota itu sedang dalam proses pembersihan etnis yang sistematis terhadap komunitas pribumi non-Arab seperti Fur, Zaghawa, dan Berti.
Para ahli khawatir akan terjadi peningkatan tajam dalam situasi yang ditandai kekerasan besar-besaran terhadap penduduk sipil. Laporan menunjukkan rata-rata tiga anak meninggal setiap jam di dalam kota, menurut kontak di sana.
Seluruh komunikasi di kota tersebut telah diputus, termasuk jaringan satelit, menurut Asosiasi Jurnalis Sudan. Pasokan makanan sudah lama tidak masuk ke El Fasher, yang terletak sekitar 200 kilometer dari perbatasan Chad.
Saksi mata melaporkan bahwa banyak orang kini bertahan hidup dengan memakan pakan ternak. RSF dan milisi sekutunya telah menargetkan dan membunuh warga sipil secara luas, seringkali karena etnis mereka.
Baca Juga: Drama Jelang KTT Perdamaian di Mesir: Trump Nyatakan Perang Gaza Berakhir, Netanyahu Menolak Takluk!
HRW (Human Rights Watch) melaporkan bahwa RSF juga melakukan kekerasan seksual yang meluas, terutama pemerkosaan berkelompok.
Mereka juga menjarah bantuan kemanusiaan dalam skala besar dan menghancurkan desa, seringkali dengan cara membakar.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah menemukan adanya indikasi kejahatan perang di Sudan. Pola kekerasan yang dikhawatirkan terulang di El Fasher adalah tujuannya untuk mematahkan semangat musuh.
Tujuan ini dicapai secara efektif dengan memperkosa perempuan, dan semakin sering juga laki-laki. Selain itu, RSF telah menggali parit-parit di sekitar kota untuk mencegah pelarian warga sipil.
Tujuan dari taktik ini adalah membuat kota itu kelaparan secara sistematis. Kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk juga berbicara tentang meningkatnya risiko kekejaman bermotif etnis di El Fasher.
Konflik Sudan berakar pada berakhirnya pemerintahan otoriter Presiden Omar al-Bashir pada tahun 2019. Perang pecah secara terbuka pada April 2023 antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan RSF.
SAF berada di bawah komando Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, sementara RSF dipimpin oleh Mohamed Hamdan Daglo.
Keduanya berselisih mengenai struktur dan hierarki dari tentara gabungan, sebab Hemeti menolak mengintegrasikan militannya ke dalam angkatan bersenjata nasional.
Baca Juga: Dari Tragedi ke Transformasi, Inilah 5 Perang Terbesar dan Dampaknya yang Mengguncang Dunia
Meskipun RSF menjadi pelaku kekerasan utama, SAF juga dilaporkan melakukan "serangan brutal terhadap penduduk sipil". Daftar kekejaman oleh kedua pihak terus bertambah hampir setiap hari.
Lebih dari 26.000 orang diperkirakan berhasil melarikan diri dari El Fasher ketika kekerasan meningkat. Arjan Hehenkamp dari International Rescue Committee (IRC) mengatakan para pengungsi datang dari "neraka," sangat trauma dan hanya memiliki pakaian di badan mereka.
Ribuan orang mencari perlindungan di Kota Tawila, namun kota itu kini berada di ambang batas kemampuannya. Penderitaan akan terus meningkat tanpa adanya perluasan besar-besaran bantuan kemanusiaan.
Kekhawatiran yang makin nyata adalah bahwa Sudan dapat terpecah akibat perang saudara ini. Krisis ini membutuhkan perhatian serius internasional untuk menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung. ****
Editor : Dharaka R. Perdana