RADAR TULUNGAGUNG - Sebuah video yang memperlihatkan wanita tinggal di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) selama hampir satu tahun mendadak viral di media sosial dan memicu beragam reaksi publik.
Video tersebut memperlihatkan seorang perempuan berteriak di area Bandara KLIA, Malaysia, hingga akhirnya ditenangkan oleh sejumlah orang yang berada di lokasi.
Peristiwa ini menyita perhatian warganet lantaran perempuan tersebut disebut-sebut menjadikan bandara sebagai tempat tinggalnya dalam jangka waktu lama.
Informasi mengenai wanita tinggal di Bandara KLIA ini pun dibenarkan pihak kepolisian setempat setelah video tersebut menyebar luas dan menimbulkan keresahan di kalangan pengguna jasa bandara.
Dalam rekaman yang viral, perempuan tersebut tampak emosional dan berteriak ke arah seorang wanita lain di dalam terminal.
Petugas bandara bersama warga sekitar kemudian berupaya menenangkan situasi agar tidak mengganggu aktivitas penumpang.
Setelah video itu ramai diperbincangkan, pihak berwenang langsung melakukan penelusuran dan mengambil langkah penanganan.
Polisi Ungkap Kondisi Sebenarnya Wanita di KLIA
Wakil Kepala Kepolisian Distrik KLIA, Inspektur Albani Hamzah, memberikan penjelasan resmi terkait kasus wanita tinggal di Bandara KLIA tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa perempuan itu memiliki kartu kesehatan mental, yang menandakan adanya riwayat gangguan kesehatan jiwa.
“Perempuan tersebut telah kami serahkan ke Rumah Sakit Kajang untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut setelah adanya laporan gangguan ketertiban,” ujar Albani Hamzah, dikutip dari keterangan kepolisian setempat.
Penanganan medis menjadi prioritas setelah perempuan itu dinilai membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan mental maupun keselamatan dirinya sendiri.
Polisi juga menegaskan bahwa tindakan ini diambil demi menjaga ketertiban umum di area bandara yang merupakan fasilitas vital internasional.
Bukan Satu-satunya, Ada Tunawisma Lain di Terminal KLIA
Fakta lain yang terungkap, perempuan tersebut bukan satu-satunya yang menetap di Bandara Internasional Kuala Lumpur.
Polisi mengungkapkan bahwa terdapat setidaknya lima tunawisma yang telah tinggal di Terminal 1 KLIA selama lebih dari satu tahun.
Kelompok tunawisma ini memanfaatkan berbagai fasilitas umum bandara untuk bertahan hidup. Mereka menggunakan kursi di ruang keberangkatan sebagai tempat tidur sementara, sementara toilet di lantai empat terminal dijadikan lokasi untuk mandi dan membersihkan diri.
Selama tinggal di bandara, para tunawisma ini bergantung pada fasilitas gratis seperti pendingin ruangan, akses air bersih, dan area publik yang terbuka selama 24 jam.
Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi pengelola bandara dan aparat keamanan dalam menjaga kenyamanan serta keamanan penumpang.
Strategi Berpindah Tempat untuk Hindari Penertiban
Untuk menghindari penahanan atau tindakan tegas dari aparat, para tunawisma tersebut dilaporkan kerap berpindah-pindah lokasi. Mereka bergiliran antara bandara dan sejumlah titik lain di sekitar wilayah Kuala Lumpur.
Baca Juga: Pesawat Antonov An-22 Rusia Meledak di Udara, Tujuh Awak Tewas, Investigasi Besar Diluncurkan
Pola ini membuat keberadaan mereka sulit terdeteksi secara permanen. Namun, setelah video wanita tinggal di Bandara KLIA viral dan menjadi sorotan publik, aparat kepolisian memperketat pengawasan dan melakukan pendataan lebih intensif.
Pihak bandara bersama kepolisian kini berupaya mencari solusi jangka panjang yang tidak hanya menitikberatkan pada penertiban, tetapi juga pendekatan kemanusiaan, khususnya bagi individu dengan gangguan kesehatan mental.
Fenomena Tunawisma di Bandara Jadi Sorotan Publik
Kasus ini kembali membuka diskusi publik mengenai fenomena tunawisma yang menjadikan bandara sebagai tempat berlindung.
Bandara dengan fasilitas lengkap dan akses bebas memang kerap menjadi pilihan bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.
Namun, keberadaan tunawisma dalam jangka panjang berpotensi mengganggu kenyamanan, keamanan, serta citra bandara internasional.
Oleh karena itu, koordinasi lintas lembaga, termasuk dinas sosial dan layanan kesehatan, dinilai menjadi kunci penanganan kasus serupa di masa depan.
Kasus wanita tinggal di Bandara KLIA ini menjadi pengingat bahwa persoalan sosial dan kesehatan mental membutuhkan pendekatan menyeluruh, bukan sekadar penindakan semata. ****
Editor : Dharaka R. Perdana