RADAR TULUNGAGUNG - Penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan elit Amerika Serikat memicu kehebohan geopolitik global.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, menilai peristiwa tersebut sebagai sinyal berbahaya bagi tatanan dunia internasional dan menjadi peringatan serius bagi Indonesia agar lebih waspada menghadapi dinamika global yang kian keras.
Penangkapan Nicolas Maduro, Presiden Venezuela, diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pemerintah Venezuela menyebut peristiwa tersebut sebagai aksi penculikan, sementara pihak AS mengklaimnya sebagai operasi penegakan keamanan nasional.
Maduro ditangkap pada Sabtu pagi, 3 Januari, dalam sebuah operasi militer rahasia yang melibatkan pasukan elit Delta Force.
Operasi Rahasia Delta Force di Venezuela
Dalam pernyataannya, Trump menyebut operasi penangkapan Nicolas Maduro sebagai puncak dari kampanye panjang Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman narkoba, migrasi ilegal, dan apa yang disebut sebagai narkoterorisme.
Pasukan Delta Force, unit misi khusus militer AS, diterjunkan langsung ke wilayah Venezuela untuk menangkap Maduro.
Sumber intelijen menyebutkan, CIA diduga memiliki jaringan kuat di dalam pemerintahan Venezuela.
Informasi internal itulah yang memungkinkan Amerika Serikat melacak lokasi Maduro sebelum operasi dilakukan.
Operasi ini disebut sebagai bagian dari jaringan intelijen luas yang telah dibangun AS selama bertahun-tahun di kawasan Amerika Latin.
Trump juga menuding Venezuela sebagai salah satu sumber utama gelombang migran ilegal yang membanjiri perbatasan selatan Amerika Serikat.
Sejak krisis ekonomi Venezuela pada 2013, sekitar delapan juta warga negara dilaporkan meninggalkan negaranya, sebagian besar menuju negara-negara tetangga di Amerika Latin.
Klaim Migrasi dan Tuduhan Kontroversial
Dalam narasinya, Trump mengklaim memiliki bukti bahwa pemerintahan Nicolas Maduro secara sengaja membebaskan tahanan kriminal dan pasien rumah sakit jiwa untuk dikirim ke Amerika Serikat sebagai bagian dari skema migrasi massal.
Klaim ini menambah ketegangan politik antara Washington dan Caracas, sekaligus menuai kritik dari berbagai pihak internasional.
Namun, klaim-klaim tersebut belum diverifikasi secara independen oleh lembaga internasional.
Pemerintah Venezuela sendiri membantah tuduhan tersebut dan menilai penangkapan Nicolas Maduro sebagai bentuk agresi militer terang-terangan terhadap kedaulatan negara.
Dinopati Jalal: Dunia Masuki Tatanan Berbahaya
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, memberikan pandangan kritis terhadap penangkapan Nicolas Maduro.
Menurutnya, tindakan Amerika Serikat tersebut merupakan bentuk invasi militer dan mencerminkan runtuhnya supremasi hukum internasional.
“Ini adalah alarm bagi dunia. Hukum rimba mulai menggantikan hukum internasional. Negara kuat merasa berhak melakukan apa saja terhadap negara lain,” ujar Dino.
Ia menilai penangkapan pimpinan negara berdaulat tanpa proses hukum internasional yang jelas menandai masuknya dunia ke dalam era yang ia sebut sebagai a dangerous world order.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, harus meningkatkan kewaspadaan diplomatik dan strategis.
Sorotan pada PBB dan Sikap Indonesia
Dino juga mempertanyakan sikap Dewan Keamanan PBB, negara-negara G7, hingga posisi Indonesia terhadap kasus penangkapan Nicolas Maduro.
Menurutnya, diamnya komunitas internasional justru berpotensi melegitimasi praktik-praktik sepihak oleh negara adidaya.
Ia menegaskan, Indonesia perlu bersikap aktif dan konsisten dalam membela prinsip kedaulatan negara serta supremasi hukum internasional.
Jika tidak, preseden semacam ini dapat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas global di masa depan.
Penangkapan Nicolas Maduro bukan sekadar isu Amerika Latin, melainkan persoalan serius yang berdampak luas pada tata hubungan internasional.
Dunia kini dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah hukum internasional masih memiliki makna di tengah dominasi kekuatan militer negara-negara besar?***