RADAR TULUNGAGUNG- Gempa Jepang kembali menggetarkan kawasan Negeri Sakura. Kali ini, gempa berkekuatan awal magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Cugoku di Jepang bagian barat pada Selasa (6/1) pagi waktu setempat.
Guncangan kuat tersebut sempat memicu kepanikan warga di sejumlah kota, meski otoritas memastikan tidak ada potensi tsunami akibat peristiwa ini.
Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) melaporkan, gempa Jepang itu terjadi sekitar pukul 10.18 waktu setempat atau 01.18 GMT.
Pusat gempa terdeteksi berada di wilayah timur Prefektur Shimane, dengan kedalaman yang relatif dangkal sehingga getarannya terasa cukup kuat di permukaan.
Beberapa menit setelah gempa utama, tercatat sejumlah gempa susulan dengan intensitas yang signifikan.
Menurut JMA, sedikitnya empat wilayah mencatat intensitas seismik di atas level 5 pada skala Jepang yang memiliki rentang 1 hingga 7.
Skala ini mengukur tingkat guncangan yang dirasakan di permukaan, bukan hanya kekuatan magnitudo.
Artinya, gempa Jepang tersebut memang dirasakan cukup kuat oleh masyarakat, terutama di kawasan Cugoku.
Guncangan Terekam Kamera Pengawas
Rekaman kamera pengawas yang beredar di media lokal memperlihatkan bagaimana guncangan terasa nyata di sejumlah kota.
Bangunan tampak bergetar, lampu bergoyang, dan beberapa warga terlihat bergegas keluar ruangan untuk mencari tempat aman.
Meski demikian, hingga laporan ini disusun, belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan besar akibat gempa tersebut.
Otoritas Jepang bergerak cepat melakukan pemantauan di berbagai sektor vital.
Salah satu perhatian utama tertuju pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Shimane yang berada di Prefektur Shimane, sekitar 32 kilometer dari pusat gempa.
Keberadaan fasilitas nuklir ini kerap menjadi sorotan setiap kali gempa besar melanda Jepang.
PLTN Shimane Dipastikan Beroperasi Normal
Chugoku Electric Power Company, operator PLTN Shimane, memastikan bahwa operasional pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut tetap berjalan normal.
Tidak ditemukan gangguan pada sistem pendinginan maupun reaktor setelah gempa terjadi.
Otoritas Regulasi Nuklir Jepang juga menegaskan tidak ada anomali atau kebocoran yang terdeteksi pascagempa.
Pernyataan ini penting untuk menenangkan publik, mengingat Jepang memiliki sejarah panjang terkait risiko gempa dan fasilitas nuklir.
Pemerintah Jepang secara rutin melakukan simulasi dan peningkatan standar keselamatan untuk memastikan kesiapan menghadapi bencana alam, termasuk gempa bumi berkekuatan besar.
Transportasi Terdampak, Shinkansen Dihentikan
Meski sektor energi nuklir dinyatakan aman, dampak gempa Jepang terasa pada sektor transportasi.
West Japan Railway Company menghentikan sementara layanan kereta cepat Shinkansen sebagai langkah antisipasi keselamatan.
Penghentian operasi dilakukan pada jalur Shin-Osaka hingga Hakata, yang merupakan salah satu rute vital di Jepang bagian barat.
Pihak operator menyatakan penghentian dilakukan untuk pemeriksaan jalur rel dan infrastruktur pendukung guna memastikan tidak ada kerusakan yang dapat membahayakan perjalanan.
Layanan baru akan kembali beroperasi setelah seluruh proses pengecekan dinyatakan aman.
Jepang dan Ancaman Gempa Bumi
Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas gempa tertinggi di dunia. Letaknya yang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gempa bumi.
Secara global, Jepang menyumbang sekitar seperlima dari total gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di dunia setiap tahunnya.
Kondisi geografis tersebut mendorong Jepang untuk terus mengembangkan sistem peringatan dini gempa, standar bangunan tahan gempa, serta prosedur evakuasi yang matang.
Meski demikian, setiap gempa besar tetap menjadi pengingat bahwa risiko bencana alam selalu mengintai.
Hingga saat ini, otoritas Jepang masih terus memantau aktivitas seismik di wilayah Cugoku dan sekitarnya.
Warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, meskipun tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.
Pemerintah daerah juga diminta siaga untuk memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga.***
Editor : Vidya Sajar Fitri