Mengejutkannya, Jeffrey Epstein file Indonesia turut menyeret sejumlah nama, lokasi, dan entitas yang berkaitan dengan Tanah Air, mulai dari konglomerat, kota Jakarta, Bali, hingga tokoh nasional.
Dokumen yang dirilis pada 30 Januari itu mencakup lebih dari 3 juta halaman, 180 ribu gambar, dan sekitar 2.000 video.
Ini menjadi salah satu rilis dokumen terbesar dalam sejarah hukum Amerika Serikat.
Berkas-berkas tersebut berisi korespondensi email, catatan internal, serta laporan yang mengaitkan Epstein dengan jaringan elite global.
Nama Konglomerat Indonesia Disebut dalam Dokumen
Salah satu bagian paling mencengangkan dalam Jeffrey Epstein file Indonesia adalah munculnya nama seorang konglomerat Indonesia, Heritanu Sudipjo.
Dalam dokumen tersebut, Heritanu disebut sebagai miliarder yang memiliki relasi bisnis dengan Donald Trump, termasuk keterlibatan dalam pengembangan hotel milik Trump.
Dokumen juga menyebut Heritanu diduga memperkenalkan Confidential Human Source (CHS) kepada pihak intelijen.
Selain itu, terdapat catatan mengenai pembelian rumah Trump di Beverly Hills dengan harga jauh di atas pasar, yang oleh dokumen tersebut ditafsirkan sebagai bentuk donasi politik terselubung.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait mengenai tuduhan tersebut.
Bali dan Jakarta Masuk dalam Jeffrey Epstein File
Tak hanya nama individu, Jeffrey Epstein file Indonesia juga mencantumkan wilayah geografis Indonesia.
Bali disebut dalam sejumlah email yang berkaitan dengan hotel, furnitur, pengiriman kargo, serta dugaan pelatihan perempuan yang dikaitkan dengan jaringan Epstein.
Lebih jauh, Epstein juga disebut diduga mengunjungi Bali pada 2009, periode yang seharusnya ia menjalani hukuman penjara.
Klaim ini memicu tanda tanya besar, meskipun belum ada bukti hukum yang menguatkan dugaan tersebut.
Sementara itu, Jakarta disebut sebagai lokasi pertemuan Epstein dengan pendiri Microsoft, Bill Gates.
Dalam dokumen, disebutkan adanya pertemuan di Jakarta yang melibatkan pihak dari Bali, meski identitas pengirim email telah disensor oleh otoritas AS karena masih dalam proses penyelidikan.
Nama Tokoh Nasional dan Organisasi Tercantum
Dalam Jeffrey Epstein file Indonesia, nama Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga tercantum.
Namun, dokumen menegaskan bahwa penyebutan tersebut hanya sebatas update berita dan tidak menunjukkan adanya komunikasi langsung dengan Epstein.
Nama Presiden ke-2 RI Soeharto juga muncul sebagai bagian dari rekomendasi bacaan yang dikirimkan kepada Epstein oleh Gregory Brown, CEO Motorola.
Selain itu, organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), juga disebut sebagai referensi bacaan Epstein terkait studi Islam moderat.
Dokumen menekankan bahwa tidak semua nama yang tercantum memiliki keterlibatan langsung, melainkan bisa berupa bahan bacaan, referensi, atau catatan umum yang dikumpulkan Epstein.
Rekening “Baal” dan Dugaan Simbolisme Gelap
Bagian lain yang memicu kontroversi adalah penyebutan rekening bank Epstein atas nama “Baal”.
Dalam salah satu berkas, Epstein meminta transfer dana sebesar USD 11.000 ke rekening tersebut.
Baal dikenal dalam sejarah sebagai simbol dewa kesuburan dalam peradaban kuno dan sering dikaitkan dengan praktik ritual ekstrem.
Sebagian pihak menilai penggunaan nama Baal mencerminkan obsesi simbolik Epstein, sementara yang lain menduga hanya kesalahan penulisan.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait makna penggunaan nama tersebut.
Klaim Kepemilikan Kiswah Ka’bah
Dokumen juga memuat email yang mengklaim Epstein menerima potongan Kiswah Ka’bah pada 2017.
Kiswah tersebut disebut dikirim dari Arab Saudi ke kediaman Epstein di Florida sebagai hadiah, bukan transaksi jual beli.
Pengiriman dilakukan melalui kargo resmi dengan dokumen bea cukai lengkap.
Klaim ini memicu kontroversi luas, mengingat Kiswah merupakan simbol sakral umat Islam.
Namun, hingga kini tidak ada verifikasi independen yang memastikan tujuan atau penggunaan kiswah tersebut.
Editor : Nabiyah Putri Wibowo