Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ali Khamenei Tantang Donald Trump: Iran Tak Takut Perang, Kekuatan Rakyat Jadi Senjata Utama Jelang Revolusi Islam

Krisna Pambudi • Selasa, 10 Februari 2026 | 16:45 WIB
Ali Khamenei menantang Donald Trump dan menegaskan Iran tak takut perang. (Sumber: Jawa Pos)
Ali Khamenei menantang Donald Trump dan menegaskan Iran tak takut perang. (Sumber: Jawa Pos)

RADAR TULUNGAGUNG - Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, secara terbuka menyampaikan pesan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman perang dari AS dan menekankan bahwa kekuatan utama negaranya tidak bertumpu pada persenjataan militer semata.

Pernyataan Ali Khamenei itu disampaikan menjelang peringatan ke-47 Revolusi Islam Iran yang jatuh pada 11 Februari 2026.

Pidato tersebut disiarkan secara nasional melalui televisi pemerintah Iran dan menjadi sorotan internasional di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.

Dalam pidatonya, Ali Khamenei menegaskan bahwa kekuatan sejati Iran bersumber dari kemauan, ketekunan, dan solidaritas rakyatnya, bukan hanya dari rudal balistik atau pesawat tempur.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Iran mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal karena persatuan nasional yang kuat.

Khamenei: Kekuatan Bangsa Ada pada Rakyat

Khamenei memuji rakyat Iran atas keteguhan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk sanksi ekonomi dan tekanan politik dari negara-negara Barat.

Ia menekankan bahwa musuh-musuh Iran selalu berusaha melemahkan negara tersebut, namun kerap gagal karena kuatnya persatuan rakyat.

“Keputusan dan kekuatan sejati suatu bangsa bergantung pada kemauan dan keteguhan rakyatnya,” ujar Khamenei dalam pidatonya.

Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat Iran untuk terus menunjukkan solidaritas dan kesiapan menghadapi segala bentuk ancaman.

Menurutnya, unsur-unsur yang membentuk kekuatan nasional Iran tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup akal sehat, motivasi, keyakinan ideologis, serta keteguhan dalam menghadapi godaan dan tekanan musuh.

11 Februari, Simbol Loyalitas terhadap Republik Islam

Khamenei menyebut tanggal 11 Februari sebagai momentum penting yang mencerminkan loyalitas rakyat Iran terhadap Republik Islam dan komitmen terhadap kedaulatan nasional.

Ia berharap peringatan Revolusi Islam tahun ini dapat menjadi sarana untuk kembali memperkuat persatuan nasional di tengah situasi regional yang tidak stabil.

Pidato ini juga dimaknai sebagai pesan politik yang kuat, baik untuk publik domestik maupun komunitas internasional.

Terlebih, pidato tersebut muncul di saat hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah adanya pembicaraan tidak langsung di Oman.

Ketegangan Iran-AS Usai Pembicaraan di Oman

Pidato Ali Khamenei disampaikan hanya beberapa hari setelah pertemuan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Oman pada Jumat, 6 Februari 2026.

Meski tidak menghasilkan kesepakatan konkret, pertemuan itu sempat memunculkan harapan akan meredanya ketegangan.

Namun, harapan tersebut kembali memudar setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ultimatum kepada Iran.

Trump menetapkan dua syarat utama agar Iran terhindar dari serangan militer Amerika Serikat.

Syarat pertama adalah Iran tidak boleh memiliki kemampuan nuklir.

Syarat kedua adalah tidak adanya tindakan pembunuhan dalam aksi-aksi protes yang terjadi di dalam negeri Iran. Ultimatum tersebut memicu respons keras dari Teheran.

Iran Tegas Tolak Negosiasi Soal Rudal

Menanggapi sikap Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghci menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan program rudal Iran tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi dengan pihak mana pun.

Ia menyebut hal tersebut sebagai bagian dari kedaulatan nasional yang tidak bisa ditawar.

Meski demikian, Araghci menegaskan bahwa Iran tetap membuka pintu diplomasi dengan Amerika Serikat, selama proses tersebut berlangsung secara adil dan tanpa tekanan.

Menurutnya, dialog tetap menjadi opsi, tetapi tidak dengan mengorbankan kepentingan strategis Iran.

Pernyataan Ali Khamenei ini mempertegas posisi Iran yang tetap keras menghadapi tekanan AS, sekaligus menunjukkan bahwa isu Iran-AS masih akan menjadi perhatian utama geopolitik kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ali khamenei #ketegangan timur tengah #Iran vs Amerika Serikat #donald trump #revolusi islam iran