Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Demo Olimpiade Musim Dingin 2026 Meledak! 50 Ribu Warga Milan Turun ke Jalan, Soroti Krisis Perumahan dan Kerusakan Lingkungan

Krisna Pambudi • Rabu, 11 Februari 2026 | 10:56 WIB
Demo Olimpiade Milano Cortina 2026 di Milan. (Sumber: X @boiagentone)
Demo Olimpiade Milano Cortina 2026 di Milan. (Sumber: X @boiagentone)

RADAR TULUNGAGUNG – Demo Olimpiade Musim Dingin 2026 pecah di pusat Kota Milan, Italia, Sabtu malam (7/2).

Lebih dari 50 ribu orang turun ke jalan memprotes dampak ekonomi dan lingkungan dari ajang Olimpiade Musim Dingin 2026 tersebut.

Aksi massa ini menyoroti krisis perumahan, lonjakan harga sewa, hingga dugaan pemborosan anggaran publik terkait penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2026.

Demo Olimpiade Musim Dingin itu 2026 itu menjadi salah satu gelombang protes terbesar sejak pembukaan resmi rangkaian Olimpiade Musim Dingin digelar.

Ribuan demonstran memadati jalanan utama kota mode tersebut, membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan terhadap pemerintah lokal maupun panitia penyelenggara.

Ketegangan sempat mewarnai jalannya demo Olimpiade Milano Cortina 2026 ketika aparat kepolisian anti huru-hara mendorong mundur massa.

Beberapa pengunjuk rasa menyalakan kembang api dan bom asap, memicu suasana panas di sejumlah titik.

Sorotan pada Krisis Perumahan

Aksi tersebut digerakkan oleh serikat akar rumput, kelompok pembela hak perumahan, serta aktivis komunitas pusat sosial.

Mereka menilai model pembangunan kota Milan dalam satu dekade terakhir semakin tidak berkelanjutan.

Sejak Expo Dunia 2015, Milan mengalami ledakan sektor properti. Harga sewa melonjak tajam, sementara kepemilikan hunian semakin sulit dijangkau warga lokal.

Aktivis menyebut Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina sebagai puncak dari ekspansi pembangunan yang memicu ketimpangan sosial.

“Warga lokal semakin terdesak,” demikian salah satu seruan yang bergema dalam aksi tersebut.

Banyak warga kelas pekerja mengaku kesulitan menghadapi biaya hidup yang terus meningkat, terutama harga sewa apartemen dan hunian di pusat kota.

Selain itu, kebijakan pajak Italia yang dirancang untuk menarik warga kaya baru, ditambah dampak Brexit yang mendorong masuknya profesional asing ke pusat keuangan Italia, dinilai semakin memperparah tekanan terhadap pasar properti.

Akibatnya, komunitas lokal merasa tersisih di kota mereka sendiri.

Kritik terhadap Dampak Lingkungan

Tak hanya isu ekonomi, para demonstran juga menyoroti dampak lingkungan dari proyek infrastruktur Olimpiade.

Sejumlah kelompok menilai pembangunan fasilitas pendukung, terutama di wilayah pegunungan sekitar lokasi pertandingan, berpotensi merusak ekosistem alami.

Mereka menuding proyek-proyek tersebut sebagai pemborosan uang publik dan sumber daya.

Dalam pandangan para aktivis, prioritas anggaran seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan sosial seperti perumahan terjangkau dan layanan publik.

Rute pawai dimulai dari Lapangan Meda Glede Oro di pusat Kota Milan.

Massa kemudian berjalan hampir empat kilometer menuju kawasan Corveto, wilayah kelas pekerja bersejarah di bagian tenggara kota.

Sepanjang perjalanan, spanduk bertuliskan kritik terhadap “model pembangunan tidak berkelanjutan” terlihat di antara barisan demonstran.

Respons IOC dan Panitia

Menanggapi gelombang protes tersebut, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyatakan bahwa sebagian besar pertandingan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina menggunakan fasilitas yang sudah ada.

IOC mengklaim pendekatan tersebut dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dan meningkatkan keberlanjutan.

Pihak penyelenggara juga menekankan bahwa Olimpiade membawa manfaat ekonomi jangka panjang, termasuk peningkatan pariwisata dan penciptaan lapangan kerja.

Namun, argumen tersebut belum sepenuhnya meredam kekhawatiran warga.

Bagi para demonstran, janji pertumbuhan ekonomi belum tentu dirasakan secara merata.

Mereka menilai keuntungan lebih banyak dinikmati investor dan kelompok ekonomi atas, sementara masyarakat kelas pekerja menghadapi tekanan biaya hidup yang semakin berat.

Simbol Ketegangan Kota Global

Gelombang protes ini mencerminkan dilema kota-kota global yang menjadi tuan rumah ajang internasional berskala besar.

Di satu sisi, Olimpiade dianggap sebagai momentum prestise dan promosi global.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang gentrifikasi, lonjakan harga properti, serta dampak ekologis.

Demo besar di Milan menjadi pengingat bahwa pembangunan kota harus mempertimbangkan keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Dengan lebih dari 50 ribu orang turun ke jalan, pesan yang ingin disampaikan para demonstran jelas: pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan hak dasar warga atas hunian layak dan lingkungan yang sehat.

Situasi di Milan pun menjadi sorotan dunia, menandai bahwa Olimpiade bukan hanya panggung olahraga, tetapi juga arena perdebatan soal masa depan kota dan kesejahteraan warganya.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#krisis perumahan milan #ioc #olimpiade musim dingin #kerusakan lingkungan #demo olimpiade musim dingin 2026