Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perang Iran Israel Bikin Selat Hormus Sepi, Saham Emas dan Minyak di BEI Diprediksi Volatile Senin Besok

Ayu Dhea Cheryl • Senin, 2 Maret 2026 | 11:38 WIB

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormus terpantau melambat di tengah eskalasi perang Iran Israel. Jalur strategis yang dilalui 20–30 persen pasokan minyak dunia ini berpotensi memicu volatilitas harg
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormus terpantau melambat di tengah eskalasi perang Iran Israel. Jalur strategis yang dilalui 20–30 persen pasokan minyak dunia ini berpotensi memicu volatilitas harg

Isu perang Iran Israel kembali memanas dan memicu kekhawatiran global. Salah satu dampak paling krusial adalah kabar penutupan Selat Hormus oleh Iran, menyusul eskalasi konflik yang disebut-sebut berkaitan dengan kematian pemimpin tertinggi Iran. Situasi ini langsung mengguncang jalur distribusi energi dunia.

Dalam sejumlah laporan dan pantauan lalu lintas kapal secara real time, terlihat pergerakan kapal tanker di Selat Hormus menurun drastis. Banyak kapal memilih menunggu di luar kawasan atau menunda pelayaran. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa distribusi minyak global bisa terganggu jika konflik benar-benar meluas.

Selat Hormus sendiri berada di antara Iran dan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Jalur sempit ini sangat strategis karena sekitar 20–30 persen pasokan minyak dunia dikirim melalui perairan tersebut. Jika benar-benar ditutup atau dibatasi, dampaknya bisa menjalar ke harga minyak global hingga pasar saham.

Baca juga:Dampak Langsung Perang Iran Israel ke Pasar Saham

Di dalam negeri, efek perang Iran Israel diperkirakan terasa pada saham-saham sektor energi dan komoditas, khususnya minyak dan emas. Dua sektor ini biasanya menjadi “safe haven” atau pilihan defensif saat terjadi ketidakpastian geopolitik.

Beberapa saham yang disebut berpotensi terdampak antara lain:

Secara fundamental, saham-saham ini memiliki karakter berbeda. Misalnya CTBN bergerak di sektor manufaktur pipa untuk industri migas. Artinya, dampaknya tidak langsung dari kenaikan harga minyak, melainkan melalui proyek dan permintaan industri.

Sementara itu, saham emas seperti ANTM dan ARCI dinilai lebih sensitif terhadap sentimen geopolitik. Emas secara historis menjadi aset lindung nilai saat terjadi konflik internasional. Jika tensi perang Iran Israel terus meningkat, harga emas berpotensi kembali menguat.

Baca juga:Antam Berpotensi Uji Level Tertinggi

ANTM sempat mengalami kenaikan harga sebelum terkoreksi dan membentuk pola lower high. Secara teknikal, kondisi ini bisa mengarah ke tren penurunan. Namun, dengan narasi konflik yang berkembang, bukan tidak mungkin harga kembali menguji level tertinggi sebelumnya di kisaran 4.760.

UNTR juga menarik dicermati. Meski sempat turun dua kali, investor asing disebut masih melakukan aksi koleksi. Namun, eksposur UNTR lebih besar ke batubara dibanding emas, sehingga pengaruhnya terhadap sentimen perang Iran Israel relatif lebih tidak langsung.

Sementara MEDC, sebagai emiten migas, memiliki potensi kenaikan jika harga minyak global melonjak. Namun dari sisi dividen, yield-nya relatif kecil di kisaran 2–3 persen pada harga saat ini.

Baca juga:Dividen Jadi Pertimbangan Investor

Selain sentimen harga komoditas, aspek dividen menjadi pertimbangan penting. Saham-saham seperti CTBN, ANTM, AKRA, hingga UNTR memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Bagi investor, dividen dianggap sebagai “uang tunggu” saat harga saham bergerak sideways atau belum menunjukkan kenaikan signifikan.

CTBN misalnya, meski transaksi hariannya relatif tipis, memiliki potensi dividen yang cukup menarik. Namun, likuiditas rendah tetap menjadi catatan risiko tersendiri.

Di sisi lain, AKRA yang bergerak di distribusi BBM sudah mencatat kenaikan sekitar 3 persen lebih dan masih bergerak dalam pola sideways. Jika konflik Iran dan Israel berlanjut dan harga minyak terdongkrak, saham ini bisa mendapat sentimen tambahan.

Baca juga:Potensi Volatilitas Awal Pekan

Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, perdagangan awal pekan diperkirakan akan volatile, terutama pada grup saham tambang emas dan minyak. Investor jangka pendek cenderung memanfaatkan momentum sentimen global, sementara investor jangka panjang lebih selektif dengan mempertimbangkan fundamental dan konsistensi dividen.

Perlu dicatat, pergerakan saham tetap dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk harga komoditas global, nilai tukar rupiah, serta arus dana asing. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa perang Iran Israel menjadi katalis utama yang saat ini membayangi pasar.

Jika Selat Hormus benar-benar terganggu dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya pada harga minyak, tetapi juga inflasi global dan stabilitas ekonomi kawasan. Untuk sementara, investor disarankan mencermati perkembangan konflik dan mengelola risiko secara disiplin.

Pasar boleh bergejolak, tetapi keputusan investasi tetap harus berbasis data dan strategi yang matang.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#SAHAM MINYAK #Perang Iran Israel #Selat Hormus #Dividen saham #saham EMAS