RADAR TULUNGAGUNG - Kabar Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang geopolitik dunia.
Pemimpin tertinggi Ali Khamenei itu dilaporkan meninggal dunia setelah kompleks kediamannya di Teheran dihantam gelombang serangan udara besar pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian tersebut pada Minggu (1/3).
Jenazah disebut ditemukan di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat bombardir dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury.
Informasi mengenai Ali Khamenei tewas sebelumnya lebih dulu dilaporkan media Israel.
Bahkan, foto jasad pemimpin spiritual Iran itu disebut telah diperlihatkan kepada Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Serangan tersebut menjadi salah satu operasi militer terbesar dalam beberapa tahun terakhir di kawasan Timur Tengah.
Operation Epic Fury dan Serangan 900 Target
Militer Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan melancarkan sekitar 900 serangan hanya dalam kurun waktu 12 jam.
Targetnya mencakup fasilitas nuklir, pangkalan militer, sistem pertahanan udara hingga gedung pemerintahan.
Kompleks tempat Khamenei berada menjadi sasaran utama pada gelombang pembuka serangan.
Baca Juga: Perang Tarif AS Memanas! Donald Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15%, Indonesia Tetap Kena 19%
Tubuhnya ditemukan mengalami luka berat akibat pecahan proyektil di antara puing bangunan yang runtuh.
Washington menyebut operasi tersebut sebagai upaya menghancurkan infrastruktur militer strategis Iran.
Trump bahkan mengumumkan langsung kabar kematian Khamenei melalui media sosial pribadinya.
Banyak analis menyebut peristiwa ini sebagai pukulan paling telak terhadap pemerintahan Iran sejak Revolusi Islam 1979 yang membawa para ayatullah berkuasa.
Iran Balas Serangan, Rudal Hantam Pangkalan AS
Tak lama setelah serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut setidaknya 65 rudal balistik dan 12 drone dikerahkan untuk menyerang aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Targetnya meliputi pangkalan udara Al Udeid di Qatar, fasilitas militer di Bahrain, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Salah satu serangan berhasil menghantam pangkalan udara Amerika Serikat setelah tiga sistem pertahanan Patriot gagal menghalau rudal yang datang.
Qatar mengumumkan sebagian besar serangan berhasil dicegat.
Dalam konferensi pers bersama Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri, pejabat setempat menyebut 63 rudal dan 11 drone berhasil ditembak jatuh sebelum mencapai target vital.
Namun dua rudal dilaporkan tetap menghantam area pangkalan udara.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Abu Dhabi. Rekaman warga memperlihatkan serpihan rudal jatuh di kawasan permukiman setelah berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Seorang warga Indonesia yang tinggal di Dubai Marina mengaku mendengar dentuman keras sebelum melihat asap membumbung di langit.
“Kami sedang makan tiba-tiba ada suara ledakan besar. Serpihan rudal jatuh dekat area tempat tinggal,” ujarnya dalam video yang viral di media sosial.
Serangan Meluas ke Laut dan Negara Teluk
Korps Garda Revolusi Iran mengklaim turut menyerang kapal komando Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan regional.
Di Bahrain, asap tebal terlihat di dekat markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama. Meski demikian, Washington belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Serangan juga dilaporkan menyasar bandara Erbil di Irak melalui drone, meski berhasil dicegat pertahanan udara.
Iran bahkan menyatakan seluruh aset militer Amerika Serikat di kawasan kini dianggap sebagai target sah.
Oman menjadi satu-satunya negara Teluk yang relatif aman karena berperan sebagai mediator diplomatik antara Washington dan Teheran.
Dunia di Ambang Eskalasi Besar
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai titik balik sejarah dunia Islam.
Pemerintah Iran menetapkan tujuh hari libur nasional dan masa berkabung selama 40 hari.
Di sisi lain, Trump mengeluarkan peringatan keras agar Iran tidak memperluas serangan balasan.
Washington menegaskan siap menggempur Teheran dengan kekuatan penuh jika kepentingan militernya kembali diserang.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan potensi konflik regional yang lebih luas.
Sejumlah negara Teluk mengutuk serangan lintas wilayah yang menyebabkan kerusakan material serta ancaman terhadap warga sipil.
Dengan meningkatnya intensitas serangan udara dan rudal di berbagai negara, dunia kini menunggu apakah konflik akan mereda lewat diplomasi atau justru berkembang menjadi perang terbuka berskala besar di Timur Tengah.
Editor : Krisna Pambudi