RADAR TULUNGAGUNG - Kematian Ayatollah Ali Khamenei menjadi sorotan dunia setelah klaim saling bertentangan muncul menyusul serangan militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke ibu kota Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan besar tersebut memicu eskalasi konflik kawasan Timur Tengah hingga berdampak pada jalur energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai serangan tempur besar yang menargetkan kemampuan rudal Iran.
Dalam pernyataannya, ia mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat gempuran udara.
Namun pemerintah Teheran langsung membantah kabar tersebut. Pejabat Iran memastikan seluruh pimpinan negara masih menjalankan tugasnya masing-masing.
Kantor humas pemimpin tertinggi bahkan menyebut laporan kematian itu sebagai bagian dari perang psikologis yang dilakukan pihak musuh.
Situasi yang simpang siur justru memperkeruh kondisi regional. Serangan udara dilaporkan menyebabkan ledakan besar di berbagai titik Teheran.
Media lokal menyebut ratusan korban jiwa berjatuhan, sementara fasilitas militer hingga bangunan sipil ikut terdampak.
Selat Hormuz Ditutup, Pasokan Energi Dunia Terancam
Dampak terbesar muncul ketika Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur vital energi dunia. Sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati perairan itu, termasuk ekspor gas alam cair dari kawasan Teluk.
IRGC memperingatkan seluruh kapal agar tidak melintas hingga pemberitahuan lanjutan. Siaran radio darurat bahkan dikirimkan ke kapal-kapal niaga di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga: Perang Tarif AS Memanas! Donald Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15%, Indonesia Tetap Kena 19%
Akibatnya, sejumlah perusahaan energi internasional langsung menangguhkan pengiriman minyak mentah dan LNG.
Citra satelit menunjukkan antrean kapal mulai menumpuk di dekat pelabuhan utama.
Angkatan Laut Inggris menyebut perintah tersebut tidak memiliki kekuatan hukum internasional, tetapi tetap meminta kapal berhati-hati.
Sementara militer Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan keamanan pelayaran.
Serangan Balasan Iran Mengguncang Negara Teluk
Ketegangan meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah wilayah kawasan Teluk pada Minggu (1/3/2026).
Uni Emirat Arab melaporkan lebih dari 300 proyektil, termasuk rudal balistik dan drone, menghantam wilayahnya.
Sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara, namun beberapa fasilitas sipil tetap terdampak.
Bandara Internasional Dubai mengalami kerusakan ringan pada ruang tunggu. Kebakaran juga sempat terjadi di hotel ikonik Burj Al Arab akibat serpihan ledakan.
Kepanikan serupa terjadi di Kuwait setelah laporan serangan drone menghantam fasilitas bandara internasional.
Video yang beredar memperlihatkan asap memenuhi terminal dan penumpang berlarian mencari perlindungan.
Sejumlah negara Teluk kemudian mengambil langkah darurat. Penutupan wilayah udara sementara dilakukan, sementara penerbangan menuju Iran dibatalkan demi keselamatan.
Rudal Iran Hantam Israel, Dunia Terbelah
Iran juga meluncurkan serangan langsung ke wilayah Israel sebagai balasan atas gempuran sebelumnya.
Rekaman memperlihatkan sirene peringatan berbunyi sebelum rudal jatuh di kawasan permukiman dekat Yerusalem dan Tel Aviv.
Seorang perempuan dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat serangan tersebut. Pemerintah Israel menetapkan status darurat nasional dan memperluas operasi militer.
Di tengah konflik, reaksi internasional bermunculan. Rusia dan Tiongkok mengecam serangan awal Amerika Serikat dan Israel sebagai agresi terhadap negara berdaulat.
Sebaliknya, Kanada, Australia, dan Ukraina menyatakan dukungan terhadap langkah Washington dan Tel Aviv.
Presiden Ukraina bahkan menyebut Iran sebagai sekutu strategis Rusia dalam konflik global.
Ancaman Operasi Balasan Terbesar Iran
IRGC kemudian mengumumkan dimulainya operasi ofensif terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran setelah laporan wafatnya pemimpin tertinggi mereka beredar luas.
Operasi tersebut disebut akan menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah.
Garda Revolusi bersumpah pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu akan menerima pembalasan tegas.
Hingga kini, klaim kematian Ayatollah Ali Khamenei masih menjadi perdebatan internasional. Informasi yang saling bertentangan membuat dunia berada dalam ketidakpastian.
Yang pasti, konflik terbaru ini tidak hanya memicu korban jiwa besar, tetapi juga mengancam stabilitas energi global serta keselamatan penerbangan internasional.
Dunia kini menanti apakah eskalasi akan berujung perang terbuka atau kembali ke meja diplomasi.
Editor : Krisna Pambudi