Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Iran dari Persia Kuno hingga Revolusi 1979: Kisah Kejayaan Cyrus Agung, Kudeta CIA, dan Lahirnya Republik Islam

Divka Vance Yandriana • Senin, 2 Maret 2026 | 18:15 WIB

Sejarah Iran dari Persia kuno hingga Revolusi 1979, kisah kejayaan, kudeta 1953, dan lahirnya Republik Islam.
Sejarah Iran dari Persia kuno hingga Revolusi 1979, kisah kejayaan, kudeta 1953, dan lahirnya Republik Islam.

JAKARTA - Sejarah Iran dari Persia kuno hingga Revolusi 1979 adalah perjalanan panjang tentang kejayaan, identitas, dan perubahan besar yang membentuk wajah Timur Tengah modern. Ketika mendengar nama Iran, banyak orang langsung teringat konflik, revolusi, atau isu nuklir. Namun di balik itu, tersimpan kisah peradaban besar yang pernah mengguncang dunia.

Sejarah Iran bermula dari bangsa Persia, salah satu kekaisaran terbesar di dunia kuno. Lebih dari 2.500 tahun lalu, seorang pemimpin muda bernama Cyrus Agung atau Cyrus the Great mendirikan Kekaisaran Akhemeniyah pada abad ke-6 sebelum Masehi. Ia bukan sekadar penakluk, tetapi juga dikenal sebagai pemimpin visioner yang mengedepankan toleransi.

Baca Juga: Ali Khamenei Tewas Diserang AS–Israel? Operation Epic Fury Picu Perang Balasan Iran, Rudal Hantam Pangkalan Amerika di Timur Tengah

Ketika menaklukkan Babilonia pada 539 SM, Cyrus tidak menghancurkan kota. Ia justru membebaskan budak, termasuk bangsa Yahudi yang diasingkan. Kebijakannya tercatat dalam Silinder Cyrus, yang kini disimpan di British Museum dan sering disebut sebagai salah satu deklarasi hak asasi manusia paling awal dalam sejarah.

Kejayaan Persia dan Sistem Pemerintahan Modern

Di masa kejayaannya, Kekaisaran Persia membentang dari India hingga Mesir dan Anatolia. Diperkirakan satu dari lima orang di dunia saat itu hidup di bawah kekuasaan Persia. Untuk menjaga wilayah seluas itu, Persia membangun sistem administrasi canggih melalui pembagian wilayah bernama satrapi yang dipimpin gubernur lokal.

Mereka juga membangun Jalan Kerajaan sepanjang ribuan kilometer sebagai jalur komunikasi tercepat di dunia kuno. Sistem pajak, pos, serta hukum tertata rapi. Di jantung kekuasaan berdiri Persepolis, kota megah yang menjadi simbol kesatuan budaya berbagai bangsa.

Baca Juga: Keluarga Ungkap Perjuangan Terakhir Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Dari RSPAD ke Rumah Duka dan TMP Kalibata

Namun kejayaan tak berlangsung selamanya. Setelah wafatnya Darius Agung, kekaisaran melemah akibat perebutan kekuasaan. Pada abad ke-4 SM, Alexander Agung dari Makedonia menaklukkan Persia. Meski runtuh, warisan peradaban Persia tak pernah benar-benar hilang.

Islamisasi Persia dan Lahirnya Peradaban Baru

Memasuki abad ke-7 Masehi, Kekaisaran Sasanid yang menjadi benteng terakhir budaya Persia melemah akibat perang panjang melawan Romawi Timur. Tahun 636 M, pasukan Islam mengalahkan Persia dalam Pertempuran Qadisiyah. Pada 651 M, Persia resmi berada di bawah kekuasaan Islam.

Meski ditaklukkan, Persia tidak kehilangan identitasnya. Bahasa Persia tetap hidup, bahkan berkembang berdampingan dengan bahasa Arab. Dari tanah Persia lahir ilmuwan dan pemikir besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, hingga Jalaluddin Rumi.

Baca Juga: Rp100.000 Cuma Cukup Sehari? Alarm Daya Beli Melemah dan Tekanan Inflasi yang Makin Terasa

Persia juga memperkaya peradaban Islam lewat arsitektur, sastra, dan seni. Konsep taman surgawi Pairi Daiza bahkan menjadi asal kata “paradise” dalam bahasa Inggris. Sejarah Iran menunjukkan bahwa bangsa ini mampu menyerap perubahan tanpa kehilangan akar budayanya.

Modernisasi Dinasti Pahlavi dan Perubahan Nama Iran

Memasuki abad ke-20, Persia menghadapi tekanan Rusia dan Inggris yang berebut pengaruh atas sumber daya minyak. Pada 1921, seorang perwira militer bernama Reza Khan melakukan kudeta dan kemudian menjadi Reza Shah Pahlavi.

Ia melakukan modernisasi besar-besaran, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga reformasi hukum. Pakaian tradisional dilarang, hukum Islam diganti sistem sipil, dan pendidikan sekuler diperluas. Pada 1935, ia mengganti nama negara dari Persia menjadi Iran, yang berarti “tanah bangsa Arya”.

Namun modernisasi ini menuai kontroversi. Banyak kalangan merasa identitas Islam ditekan demi meniru Barat. Ketidakpuasan itu menjadi benih perlawanan.

Kudeta 1953 dan Jalan Menuju Revolusi 1979

Setelah Reza Shah turun pada 1941, putranya Mohammad Reza Pahlavi naik takhta. Pada 1953, Perdana Menteri Mohammad Mossadegh yang menasionalisasi minyak Iran digulingkan melalui operasi rahasia CIA dan MI6. Sejak itu, kekuasaan Shah semakin kuat namun bergantung pada Barat.

Di permukaan, Iran tampak modern dengan gedung pencakar langit dan gaya hidup Barat. Namun di bawahnya, ketimpangan sosial dan represi politik melalui intelijen rahasia SAVAK memicu kemarahan rakyat.

Tahun 1978, gelombang protes meluas. Ayatollah Ruhollah Khomeini yang diasingkan menjadi simbol perlawanan. Pada 16 Januari 1979, Shah meninggalkan Iran. Tak lama kemudian, monarki dihapus dan lahirlah Republik Islam Iran.

Iran Modern dan Pergulatan Identitas

Sejak Revolusi 1979, Iran menganut sistem republik Islam dengan pemimpin tertinggi atau rahbar sebagai otoritas utama. Negara ini mendefinisikan diri melalui perlawanan terhadap Barat, terutama Amerika Serikat.

Namun Iran hari ini adalah negeri penuh paradoks. Di satu sisi, ia mempertahankan sistem teokrasi yang kuat. Di sisi lain, generasi muda menginginkan perubahan dan kebebasan lebih luas.

Sejarah Iran dari Persia kuno hingga Revolusi 1979 menunjukkan satu hal: bangsa ini selalu berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Dari kekaisaran besar hingga republik Islam, Iran terus mencari jati dirinya di tengah arus zaman.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Persia kuno #sejarah iran #revolusi iran