Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Revolusi Iran 1979: Dari Kudeta CIA Gulingkan Mossadegh hingga Kembalinya Ayatollah Khomeini dan Runtuhnya Dinasti Pahlavi

Divka Vance Yandriana • Senin, 2 Maret 2026 | 18:25 WIB

Revolusi Iran 1979: dari kudeta CIA 1953, jatuhnya Shah, hingga lahirnya Republik Islam Iran di bawah Khomeini.
Revolusi Iran 1979: dari kudeta CIA 1953, jatuhnya Shah, hingga lahirnya Republik Islam Iran di bawah Khomeini.

JAKARTA - Revolusi Iran 1979 menjadi titik balik paling dramatis dalam sejarah modern Timur Tengah. Jutaan rakyat turun ke jalan, membakar foto Shah dan mengangkat potret Ayatollah Khomeini sambil meneriakkan “Matilah Shah!”. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian rezim, melainkan runtuhnya Dinasti Pahlavi dan lahirnya Republik Islam Iran.

Revolusi Iran 1979 dipicu akumulasi panjang krisis politik, ketimpangan ekonomi, dan campur tangan asing. Sejak era Reza Shah Pahlavi hingga putranya, Mohammad Reza Pahlavi, kebijakan sekularisasi dan modernisasi paksa memicu ketegangan dengan ulama Syiah. Namun faktor yang paling membekas dalam ingatan kolektif rakyat Iran adalah kudeta 1953 yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh.

Peristiwa itu menjadi fondasi kemarahan yang akhirnya meledak dalam Revolusi Iran 1979.

Baca Juga: Anak Buah Purbaya Jadi Tersangka! KPK Sita Uang Rp5,1 Miliar dalam Lima Koper di Apartemen Ciputat, Kasus Korupsi Bea Cukai Melebar

Kudeta 1953 dan Campur Tangan Barat

Pada 1951, Mossadegh menasionalisasi perusahaan minyak Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) milik Inggris. Kebijakan ini membuat London murka. Inggris kemudian menggandeng Amerika Serikat yang saat itu tengah waspada terhadap pengaruh Uni Soviet di kawasan.

Pada Agustus 1953, CIA dan MI6 menjalankan Operasi Ajax. Melalui propaganda media, mobilisasi demonstrasi, dan dukungan terhadap militer loyalis, Mossadegh akhirnya ditangkap. Shah yang sempat melarikan diri kembali berkuasa dengan dukungan Barat.

Sejak saat itu, Iran menjadi sekutu strategis Amerika Serikat. Kendali minyak kembali terbuka bagi kepentingan asing. Kudeta ini meninggalkan luka mendalam dan memperkuat narasi bahwa Shah hanyalah boneka Barat.

Baca Juga: IHSG Terancam Uji Support 8.200, Saham Komoditas Masih Jadi Andalan Saat Pasar Berfluktuasi

SAVAK dan White Revolution

Untuk mengamankan kekuasaan, pada 1957 Shah membentuk polisi rahasia SAVAK dengan bantuan CIA dan Mossad. Lembaga ini dikenal represif: menangkap, menyiksa, bahkan menghilangkan lawan politik.

Pada 1963, Shah meluncurkan program White Revolution. Isinya meliputi reformasi agraria, pendidikan sekuler, pemberian hak politik bagi perempuan, serta modernisasi ekonomi. Secara teori, program ini bertujuan membawa Iran menjadi negara maju.

Namun implementasinya pincang. Infrastruktur tak memadai, ketimpangan desa-kota melebar, dan korupsi merajalela. Bagi ulama Syiah, kebijakan ini dianggap menggerus nilai Islam dan mempersempit peran agama dalam kehidupan publik.

Baca Juga: Rekomendasi Saham 2–7 Maret 2026: Supa, WiFi, Elsa hingga AADI, Harapan IHSG Bangkit Setelah Koreksi Dalam

Munculnya Ayatollah Khomeini

Penentangan terbuka terhadap Shah muncul dari seorang ulama karismatik, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pada 3 Juni 1963 di kota Qom, ia mengecam keras kebijakan Shah. Sehari kemudian, demonstrasi besar meletus di berbagai kota.

Khomeini ditangkap dan diasingkan. Namun pengasingan justru memperluas pengaruhnya. Dari Najaf, Irak, hingga Paris, Prancis, ia menyebarkan gagasan pemerintahan Islam berbasis Syiah melalui rekaman kaset dan buku “Hukumat-e Islami” yang diselundupkan ke Iran.

Jaringan masjid dan mahasiswa menjadi motor penyebaran ide revolusi. Nama Khomeini kian populer di tengah ketidakpuasan rakyat.

Tragedi Cinema Rex dan Black Friday

Krisis memuncak pada 1978. Pada 19 Agustus, kebakaran Cinema Rex di Abadan menewaskan sekitar 400 orang. Publik menuduh rezim Shah sebagai dalang, meski fakta peristiwa ini masih diperdebatkan.

Pada 8 September 1978, militer menembaki demonstran di Lapangan Jaleh, Teheran. Peristiwa ini dikenal sebagai Black Friday. Ratusan hingga ribuan orang tewas. Insiden ini menghancurkan legitimasi Shah di mata rakyat.

Gelombang pemogokan meluas, termasuk di sektor perbankan dan minyak. Ekonomi lumpuh. Tekanan politik semakin kuat.

Shah Kabur, Republik Islam Lahir

Pada 16 Januari 1979, Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran. Kepergiannya menandai runtuhnya Dinasti Pahlavi. Dua pekan kemudian, 1 Februari 1979, Khomeini kembali ke Teheran dan disambut jutaan pendukung.

Pada 11 Februari, militer menyatakan netral. Sistem monarki praktis berakhir. Referendum digelar 31 Maret 1979 dengan pertanyaan sederhana: apakah Iran harus menjadi Republik Islam? Hasilnya, sekitar 98 persen pemilih menyatakan setuju.

Revolusi Iran 1979 resmi melahirkan Republik Islam Iran dengan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi. Struktur politik berubah total. Ulama memegang kekuasaan tertinggi melalui konsep Wilayat al-Faqih.

Perubahan ini juga menggeser orientasi geopolitik Iran. Amerika Serikat yang dulu sekutu dekat kini disebut “Setan Besar”. Iran mulai memainkan peran sentral dalam dinamika konflik Timur Tengah, termasuk ketegangan dengan Irak dan rivalitas kawasan.

Revolusi Iran 1979 bukan sekadar cerita tentang kejatuhan seorang raja. Ia adalah kisah tentang perlawanan terhadap intervensi asing, pertarungan identitas antara sekularisme dan Islam politik, serta babak baru dalam sejarah Timur Tengah yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Editor : Divka Vance Yandriana
#ayatollah khomeini #iran #Republik Islam Iran