JAKARTA - Perbedaan Islam Sunni dan Syiah menjadi salah satu isu paling krusial dalam sejarah panjang umat Islam. Hingga kini, dua aliran besar tersebut kerap dibandingkan, bahkan tak jarang dikaitkan dengan konflik di sejumlah kawasan dunia Muslim.
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah bermula sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Saat Rasulullah masih hidup, setiap persoalan umat dapat langsung dikonsultasikan kepada beliau. Namun setelah wafatnya Nabi, muncul beragam pandangan tentang siapa yang paling berhak memimpin umat Islam.
Dalam konteks ini, perbedaan Islam Sunni dan Syiah tidak berawal dari persoalan ibadah, melainkan dari masalah kepemimpinan. Mayoritas sahabat meyakini bahwa pemimpin atau khalifah bisa dipilih melalui musyawarah dan konsensus. Sementara sebagian lainnya meyakini bahwa Nabi telah memberikan isyarat ilahiah bahwa kepemimpinan harus berada di tangan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah.
Awal Mula Perpecahan
Golongan yang kemudian dikenal sebagai Sunni menerima terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama melalui mekanisme musyawarah. Adapun Ali bin Abi Thalib baru menjadi khalifah keempat. Sementara kelompok yang mendukung kepemimpinan Ali sejak awal berkembang menjadi Syiah.
Secara global, Sunni merupakan mayoritas umat Islam, sekitar 77 persen dari total 1,9 miliar Muslim dunia. Mereka tersebar di berbagai negara seperti Arab Saudi, Turki, Pakistan, India, Malaysia, dan Indonesia. Bahkan Indonesia disebut sebagai negara dengan populasi Sunni terbesar.
Sementara itu, Syiah diperkirakan mencapai sekitar 20 persen dari populasi Muslim dunia dan mayoritas berada di Iran. Selain dua aliran besar tersebut, ada pula kelompok lain seperti Khawarij, Muktazilah, hingga Ahmadiyah, meski jumlah pengikutnya relatif kecil.
Persamaan dalam Akidah
Terlepas dari perbedaan, Sunni dan Syiah memiliki sejumlah kesamaan mendasar. Keduanya sepakat tentang tauhid, yakni keesaan Allah SWT. Mereka juga meyakini Nabi Muhammad sebagai utusan terakhir serta mempercayai adanya hari kebangkitan atau kiamat.
Kesamaan lainnya terletak pada rukun Islam seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Namun, dalam praktik dan konsep teologis, terdapat perbedaan signifikan.
Konsep Imamah Jadi Pembeda Utama
Salah satu perbedaan paling mendasar antara Islam Sunni dan Syiah adalah konsep imamah. Dalam pandangan Syiah, kepemimpinan umat bukan sekadar jabatan politik, melainkan bagian dari ajaran agama yang bersifat ilahiah.
Syiah meyakini para imam, yang merupakan keturunan Nabi melalui Ali dan Fatimah, sebagai pemimpin yang maksum atau terjaga dari kesalahan. Khusus Syiah Imamiyah, mereka percaya pada 12 imam, dengan imam terakhir diyakini sebagai Imam Mahdi yang ghaib.
Sebaliknya, dalam pandangan Sunni, khalifah atau imam hanyalah pemimpin politik dan administratif. Jabatan tersebut tidak termasuk dalam rukun iman dan tidak dianggap sebagai bagian dari akidah.
Perbedaan Mazhab dan Fikih
Di kalangan Sunni, terdapat empat mazhab fikih utama: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Mazhab Syafi’i banyak dianut di Indonesia dan Asia Tenggara. Masing-masing mazhab memiliki metode ijtihad dan penafsiran hukum yang berbeda, tetapi tetap dalam koridor ahlusunah wal jamaah.
Sementara di kalangan Syiah, dikenal mazhab Imamiyah (Itsna Asyariah), Ismailiyah, dan Zaidiyah. Imamiyah merupakan mazhab terbesar dan dominan di Iran.
Perbedaan mazhab ini berdampak pada praktik ibadah. Misalnya, dalam tata cara wudu. Syiah mengusap kaki sebagai bagian dari wudu berdasarkan penafsiran Surah Al-Maidah ayat 6, sedangkan Sunni membasuh kaki berdasarkan hadis dan praktik Rasulullah.
Dalam hal hadis, Sunni mengakui enam kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sementara Syiah memiliki rujukan hadis sendiri yang berbeda jalur periwayatannya.
Rukun Iman dan Rukun Islam
Dalam konsep rukun iman, Sunni mengenal enam pilar: iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir. Syiah memiliki rumusan berbeda, yakni iman kepada Allah, nubuwah (kenabian), imamah, hari akhir, dan keadilan Allah.
Meski tidak menyebut malaikat dan kitab secara eksplisit, Syiah tetap mengimani unsur tersebut dalam konsep nubuwah.
Pada akhirnya, perbedaan Islam Sunni dan Syiah lebih banyak berkisar pada aspek kepemimpinan dan teologi politik. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, keduanya tetap berbagi fondasi ajaran Islam yang sama.
Perbedaan ini menjadi bagian dari dinamika sejarah panjang umat Islam. Tantangan ke depan adalah bagaimana membangun dialog dan toleransi agar perbedaan tidak lagi menjadi sumber konflik, melainkan kekayaan khazanah intelektual Islam.
Editor : Divka Vance Yandriana