JAKARTA – Pertanyaan mengapa Iran menjadi negara mayoritas Syiah kerap muncul dalam diskusi sejarah Islam. Padahal, setelah penaklukan Persia oleh pasukan Muslim pada abad ke-7, wilayah yang kini bernama Iran sempat berabad-abad mengikuti mazhab Sunni.
Masuknya Islam ke Persia terjadi pada masa Khilafah Rasyidin. Sejak itu hingga sekitar sembilan abad berikutnya, mayoritas penduduknya menganut mazhab Ahlussunnah wal Jamaah. Namun perubahan besar terjadi pada awal abad ke-16 dengan berdirinya Dinasti Safawi.
Peran Dinasti Safawi
Transformasi Iran menjadi pusat Syiah dunia tidak terjadi secara instan. Titik baliknya dimulai ketika Syah Ismail I mendirikan Dinasti Safawi pada 1501.
Setelah menobatkan diri sebagai penguasa di Tabriz, Ismail I menetapkan Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariah) sebagai mazhab resmi negara. Kebijakan ini menjadi fondasi perubahan besar dalam lanskap keagamaan Persia.
Sebelum era Safawi, terdapat beberapa cabang Syiah seperti Ismailiyah dan Zaidiyah. Namun aliran Dua Belas Imam saat itu justru tergolong minoritas. Berkat dukungan politik dan militer Safawi, mazhab ini kemudian berkembang pesat dan menjadi arus utama di Iran hingga hari ini.
Pendekatan Politik dan Militer
Dalam mengokohkan kekuasaan, Safawi didukung oleh pasukan Qizilbash, kelompok militer Turki yang menjadi tulang punggung kerajaan. Mereka berperan penting dalam menegakkan kebijakan keagamaan baru di wilayah kekuasaan Safawi.
Sejumlah sumber sejarah menyebut proses perubahan mazhab di Iran berlangsung melalui kombinasi pendekatan politik, dakwah, serta tekanan kekuasaan. Selain itu, pemerintahan Safawi juga mendatangkan ulama-ulama Syiah dari luar Persia, terutama dari wilayah Jabal Amil (kini bagian dari Lebanon), untuk memperkuat legitimasi teologis mazhab resmi negara.
Langkah ini dinilai efektif karena pada masa awal berdirinya Safawi, Iran belum memiliki struktur ulama Syiah yang mapan. Kehadiran para ulama tersebut kemudian membentuk tradisi keilmuan Syiah yang berkembang pesat di Iran.
Identitas Berbeda dari Ottoman
Penetapan Syiah sebagai mazhab resmi juga memiliki dimensi politik. Safawi ingin membangun identitas berbeda dari Kesultanan Ottoman yang berbasis Sunni. Rivalitas geopolitik antara dua kekuatan besar itu mempertegas batas teologis sekaligus politik di kawasan.
Sejak periode Safawi (1501–1722), Iran perlahan bertransformasi menjadi pusat spiritual Syiah global. Tradisi keulamaan Syiah berkembang kuat, sementara komunitas Sunni di Iran secara bertahap menyusut menjadi minoritas. Saat ini, sekitar 90 persen penduduk Iran menganut Syiah, sementara Sunni diperkirakan sekitar 5–10 persen.
Warisan Hingga Kini
Perubahan mazhab yang terjadi pada abad ke-16 tersebut memiliki dampak jangka panjang terhadap identitas nasional Iran modern. Sistem Republik Islam Iran saat ini pun menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai fondasi ideologis negara.
Sejarah ini menunjukkan bahwa dinamika keagamaan Iran bukan sekadar persoalan teologi, tetapi juga terkait erat dengan politik, kekuasaan, dan pembentukan identitas negara.
Editor : Divka Vance Yandriana