Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Iran: Dari Persia Kuno, Revolusi 1979, hingga Kekuatan Militer dan Tradisi Asyura

Divka Vance Yandriana • Senin, 2 Maret 2026 | 18:50 WIB

Sejarah Iran dari Persia, Revolusi 1979, kepemimpinan Ali Khamenei, kekuatan militer, hingga tradisi Asyura kaum Syiah.
Sejarah Iran dari Persia, Revolusi 1979, kepemimpinan Ali Khamenei, kekuatan militer, hingga tradisi Asyura kaum Syiah.

JAKARTA – Nama Iran kerap dikaitkan dengan Syiah, konflik geopolitik, dan ketegangan dengan Barat. Namun di balik citra politik tersebut, Iran adalah negeri dengan sejarah panjang, budaya kaya, serta dinamika sosial yang kompleks.

Wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Islam Iran dulunya bernama Persia, merujuk pada peradaban besar yang pernah membentang dari Balkan hingga Lembah Indus. Nama Iran sendiri resmi digunakan pada 1935 pada masa pemerintahan Reza Shah Pahlavi.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak Tajam, Tembus USD 5.200! Sinyal Menuju 10.000 atau Awal Bubble Ekonomi?

Dari Sunni ke Syiah

Secara historis, mayoritas Muslim Persia awalnya menganut mazhab Sunni. Pergeseran besar menuju Syiah terjadi pada awal abad ke-16 saat berdirinya Dinasti Safawi yang dipimpin Syah Ismail I.

Ia menetapkan Syiah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negara dan membangun identitas politik yang berbeda dari Kekaisaran Ottoman Sunni. Sejak saat itu, Iran berkembang menjadi pusat spiritual Syiah dunia. Kini sekitar 90 persen penduduk Iran menganut Syiah.

Baca Juga: Live TikTok Purbaya Yudhi Sadewa Banjir Gift Jutaan Rupiah, KPK Buka Suara soal Dugaan Gratifikasi dan Respons Netizen

Era Pahlavi dan Revolusi Islam

Pada abad ke-20, Iran berada di bawah Dinasti Pahlavi yang mendorong modernisasi bergaya Barat. Reza Shah melakukan reformasi hukum, pendidikan, serta pembangunan infrastruktur, sekaligus membatasi peran ulama dalam urusan negara.

Namun kebijakan sekuler dan gaya kepemimpinan otoriter memicu ketidakpuasan luas. Puncaknya terjadi pada 1979 ketika Revolusi Islam menggulingkan monarki dan mengubah Iran menjadi republik Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini.

Sejak saat itu, Iran menerapkan konstitusi berbasis prinsip-prinsip Islam dan menegaskan sikap antiimperialisme, khususnya terhadap Amerika Serikat.

Baca Juga: Strategi Averaging Down yang Benar Saat IHSG 8.000-an, Investor Ini Bongkar Kesalahan Fatal di Saham BBRI

Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, posisi Pemimpin Tertinggi dipegang oleh Ali Khamenei yang masih menjabat hingga kini.

Kekuatan Militer dan Teknologi

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran menempati posisi signifikan dalam peringkat kekuatan militer global. Negara ini memiliki ratusan ribu personel aktif dan cadangan, termasuk pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Meski menghadapi sanksi internasional, Iran terus mengembangkan teknologi pertahanan, termasuk rudal balistik, drone, serta program antariksa dan nuklir yang kerap menjadi sorotan dunia.

Selain sektor militer, Iran juga berinvestasi pada bidang biomedis, nanoteknologi, dan kecerdasan buatan sebagai bagian dari strategi kemandirian teknologi nasional.

Kehidupan Sosial dan Tradisi Asyura

Di luar panggung politik, kehidupan masyarakat Iran dikenal ramah dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Tradisi menjamu tamu dengan hangat menjadi bagian penting budaya sosial mereka.

Sebagai negara mayoritas Syiah, Iran memiliki tradisi keagamaan yang kuat, terutama peringatan Asyura setiap bulan Muharram. Jutaan warga mengenang wafatnya Imam Husain dalam peristiwa Karbala melalui prosesi duka, ceramah, dan ritual keagamaan.

Bagi komunitas Syiah, Karbala menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan. Sementara di kalangan Sunni, Asyura umumnya diperingati dengan puasa dan doa.

Poros Geopolitik Timur Tengah

Di panggung internasional, Iran memposisikan diri sebagai kekuatan yang menentang dominasi Barat dan kebijakan Israel di Timur Tengah. Sikap ini menjadikannya aktor geopolitik yang berpengaruh sekaligus kontroversial.

Terlepas dari berbagai tekanan eksternal, Iran tetap mempertahankan identitas revolusionernya, mengembangkan kemampuan domestik, dan menjaga tradisi keagamaan yang mengakar kuat di masyarakat.

Iran hari ini adalah perpaduan antara warisan Persia kuno, ideologi revolusi Islam, dinamika modernisasi, serta kompleksitas geopolitik global.

Editor : Divka Vance Yandriana
#syiah #iran #persia