JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung potensi perang Iran–Israel dan dampaknya terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Dalam pernyataannya, Prabowo mengingatkan bahwa situasi global saat ini berada dalam fase yang sangat berbahaya dan berpotensi memicu perang dunia ketiga.
Pernyataan Prabowo Subianto soal perang Iran–Israel tersebut juga dikaitkan dengan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang terus memanas. Ia menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah bisa berkembang menjadi konflik global jika tidak dikendalikan.
Menurut Prabowo Subianto, situasi ini bukan sekadar isu politik luar negeri biasa, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan dunia. “This is very dangerous time,” ujar Prabowo dalam pidatonya, menggambarkan kondisi global yang ia pelajari secara intens setiap malam.
Konflik Iran–Israel dan Bayang-bayang Rusia
Dalam penjelasannya, Prabowo menggambarkan skenario yang menurutnya sangat mengkhawatirkan. Amerika Serikat disebut siap melakukan serangan terhadap Iran. Namun di sisi lain, Rusia menyatakan sikap tegas agar Iran tidak diserang.
“Kalau nyerang Iran, berhadapan dengan saya, Rusia. What does it mean?” ujar Prabowo menirukan dinamika geopolitik yang ia amati.
Ia menilai, jika konfrontasi antara Amerika Serikat dan Rusia benar-benar terjadi akibat konflik Iran, maka risiko perang dunia ketiga bukan lagi sekadar wacana. Apalagi jika konflik tersebut melibatkan senjata nuklir.
Nonblok Tak Menjamin Aman
Prabowo juga menegaskan bahwa meskipun Indonesia menganut politik luar negeri nonblok, hal itu tidak serta-merta menjamin keselamatan apabila perang global pecah.
“Kita sudah nonblok, kita sudah benar. Tapi kalau terjadi perang nuklir, kita nonblok saja kita akan kena,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan ilustrasi yang cukup lugas. Negara-negara yang memiliki senjata nuklir mungkin terdampak lebih cepat, tetapi negara non-nuklir seperti Indonesia pun tetap berpotensi terkena dampaknya, meski dalam skala waktu berbeda.
Pernyataan ini menegaskan bahwa dalam konflik berskala global, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal, tidak ada negara yang benar-benar aman dari efek domino ekonomi, sosial, maupun lingkungan.
Dampak ke Perekonomian Dunia
Selain aspek militer, Prabowo Subianto juga menyoroti dampak ekonomi dari perang Iran–Israel dan ketegangan Iran–Amerika Serikat. Konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, distribusi energi, hingga stabilitas harga minyak dunia.
Jika harga energi melonjak tajam, maka inflasi global bisa meningkat. Negara-negara berkembang seperti Indonesia akan menghadapi tekanan berat, mulai dari pelemahan nilai tukar hingga lonjakan harga bahan pokok.
Meski demikian, Prabowo menyatakan optimisme bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah fundamental dalam lima hingga delapan bulan ke depan untuk memperkokoh ekonomi nasional.
“Saya yakin dalam 5–8 bulan ke depan kita akan membuat langkah-langkah fundamental terobosan yang akan memperkokoh ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” tegasnya.
Ajakan Rukun di Tengah Situasi Berbahaya
Di tengah gambaran situasi global yang ia sebut sangat berbahaya, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap rukun dan bersatu. Ia menekankan pentingnya stabilitas nasional sebagai fondasi menghadapi gejolak eksternal.
“Dangerous time we are living,” ujarnya lagi, mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang berada dalam fase persaingan hegemoni yang berisiko tinggi.
Baca Juga: Bongkar Tuntas Fitnah Hamas Syiah, Pakar: Jangan Tertipu Standar Ganda Pemecah Belah Umat!
Menurutnya, perpecahan internal hanya akan memperlemah posisi Indonesia dalam menghadapi tekanan global. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengatasi persoalan nasional dengan semangat kebersamaan.
Pernyataan Prabowo Subianto soal perang Iran–Israel dan ancaman perang dunia ketiga ini pun menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik global memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi dan masa depan Indonesia. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, kewaspadaan dan persatuan dinilai menjadi kunci utama menjaga ketahanan nasional.
Editor : Natasha Eka Safrina