JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah serangan langsung yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran. Menanggapi situasi yang kian memanas, Wakil Ketua Badan Pengembangan Jaringan Internasional PBNU, Prof. Ahmad Muncit, memberikan peringatan keras mengenai dampak perang Iran-Israel yang bisa merembet hingga ke tanah air. Meskipun secara geografis letaknya jauh, keterhubungan ekonomi global membuat Indonesia tidak akan bisa lepas dari guncangan ini.
Menurut Prof. Muncit, salah satu dampak perang Iran-Israel yang paling mengkhawatirkan adalah potensi blokade Selat Hormus oleh Iran. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia, di mana sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintas di sana. Jika Iran merealisasikan ancamannya untuk menutup selat tersebut sebagai balasan atas serangan militer, maka krisis energi global tidak akan terhindarkan.
"Jika Selat Hormus diblokade, dampaknya akan sangat serius dan langsung terasa bagi Indonesia, terutama melalui lonjakan harga minyak mentah dunia yang akan memicu kenaikan harga BBM domestik," ujar Prof. Muncit dalam wawancara eksklusif tersebut. Ia menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada stabilitas di kawasan Teluk, sehingga pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi strategis atas dampak perang Iran-Israel ini.
Posisi Politik Bebas Aktif Indonesia
Di tengah tarikan kepentingan kekuatan besar, Prof. Muncit menekankan agar Indonesia tetap teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Indonesia diminta untuk tidak terseret dalam polarisasi antara blok Amerika Serikat dengan sekutunya maupun blok Rusia-Cina. Sebaliknya, Indonesia harus lebih lantang menyuarakan inisiatif perdamaian melalui forum internasional seperti Board of Peace.
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai anggota lembaga perdamaian internasional harus dimanfaatkan untuk menekan Israel dan Amerika Serikat agar segera menghentikan serangan. Ketegangan yang berkepanjangan hanya akan merugikan semua pihak. "Kita tidak boleh hanya menjadi penggembira di panggung konflik dunia. Indonesia harus aktif melakukan tekanan diplomasi untuk menghentikan agresi yang merusak stabilitas regional," tambahnya.
Perlindungan WNI dan Evakuasi Darurat
Terkait keselamatan warga negara Indonesia (WNI), PBNU mendesak pemerintah untuk segera memberikan peringatan dini (warning system) yang kuat. Saat ini, serangan balasan Iran dilaporkan mulai menyasar pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di beberapa negara Arab seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, hingga Yordania.
Pemerintah Indonesia diharapkan terus memantau kebutuhan evakuasi bagi para pekerja migran maupun pelajar di kawasan tersebut. Meskipun saat ini protokol di beberapa negara masih sebatas imbauan Work From Home (WFH) dan tetap berada di dalam ruangan, risiko rudal nyasar yang bisa jatuh sewaktu-waktu tetap menjadi ancaman nyata. Keamanan jalur penerbangan internasional dari dan menuju Timur Tengah juga sudah mulai terganggu, yang menjadi sinyal awal perlunya kesiapsiagaan tinggi.
Obsesi Politik dan Keterlibatan Kekuatan Global
Menelisik akar konflik, Prof. Muncit melihat adanya obsesi pribadi dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang sejak tahun 1996 konsisten ingin melumpuhkan rezim Iran. Momentum serangan ini juga diduga kuat berkaitan dengan kepentingan politik domestik Israel menjelang pemilihan umum. Netanyahu disebut berhasil memengaruhi sikap keras Amerika Serikat, bahkan di tengah upaya perdamaian yang sebelumnya sempat memunculkan titik terang.
Mengenai potensi keterlibatan Rusia dan Cina, pengamatan PBNU menunjukkan bahwa kedua negara tersebut kemungkinan besar tidak akan terlibat secara militer langsung. Namun, dukungan dalam bentuk suplai teknologi dan persenjataan kepada Iran diprediksi akan terus berjalan. Jika konflik ini bergeser dari perang regional menjadi perang terbuka yang melibatkan kekuatan nuklir, maka dampaknya bagi kemanusiaan akan jauh lebih mengerikan dari sekadar krisis ekonomi.
Editor : Natasha Eka Safrina