Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Perang Dunia Ketiga Menghantui, Presiden Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan Nonblok demi Keselamatan Indonesia

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Maret 2026 | 22:48 WIB

Presiden waspadai perang dunia ketiga dan nuclear winter, tegaskan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.
Presiden waspadai perang dunia ketiga dan nuclear winter, tegaskan politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

JAKARTA - Ancaman perang dunia ketiga kembali menjadi sorotan setelah Presiden menyinggung kekhawatiran global soal potensi konflik berskala besar, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir. Dalam pidatonya, Presiden mengingatkan bahwa perang dunia ketiga bukan sekadar isu jauh di luar negeri, tetapi bisa berdampak langsung pada Indonesia.

Ancaman perang dunia ketiga itu disampaikan Presiden usai menghadiri forum internasional di Eropa, termasuk pertemuan para pemimpin dunia di Davos. Ia mengungkapkan, mayoritas kepala negara yang hadir merisaukan situasi geopolitik global yang semakin memanas. Perang di Ukraina dan konflik di Gaza disebut sebagai contoh nyata bahwa dunia sedang berada dalam ketegangan tinggi.

Menurut Presiden, ancaman perang dunia ketiga harus disikapi dengan kewaspadaan dan kesadaran kolektif. Indonesia, tegasnya, tidak hidup sendiri. Setiap konflik global, sekecil apa pun, bisa berdampak pada stabilitas ekonomi, politik, hingga ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: Presiden Waspadai Perang Dunia Ketiga: Simulasi Nuklir Picu Nuclear Winter, Indonesia Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Belajar dari Sejarah Bangsa

Dalam pidatonya, Presiden juga mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa. Ia mengingatkan bagaimana para pendiri negara seperti Soekarno dan Mohammad Hatta menghadapi situasi genting setelah Indonesia menerima kedaulatan.

Kala itu, Indonesia langsung dihantam berbagai pemberontakan dan upaya kudeta. Salah satunya adalah gerakan Angkatan Perang Ratu Adil yang dipimpin oleh Raymond Westerling. Bahkan, hanya dua minggu setelah penyerahan kedaulatan, terjadi upaya pembunuhan terhadap Presiden, Wakil Presiden, hingga Perdana Menteri.

“Konsep Indonesia ini tidak disukai oleh banyak kekuatan di dunia,” ujar Presiden. Ia menekankan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia sudah berada di tengah pusaran perang ideologi global antara blok komunis dan blok antikomunis atau kapitalis.

Dunia Terbelah dan Dampaknya ke Indonesia

Presiden menjelaskan, sejak era Perang Dingin, dunia terpecah menjadi dua kekuatan besar. Situasi itu, menurutnya, belum sepenuhnya reda hingga kini. Konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah menjadi bukti bahwa rivalitas geopolitik masih berlangsung.

Ia menegaskan bahwa jika perang dunia ketiga benar-benar pecah dan melibatkan senjata nuklir, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang bertikai. Indonesia yang tidak terlibat langsung pun tetap berpotensi terdampak.

“Kalau terjadi perang nuklir, partikel radioaktif bisa menyebar. Ikan-ikan kita bisa terkontaminasi. Akan terjadi nuclear winter,” jelasnya.

Fenomena nuclear winter atau musim dingin nuklir disebut bisa berlangsung bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan puluhan tahun. Debu radioaktif yang menutup atmosfer berpotensi menghalangi sinar matahari dan memicu krisis pangan global.

Baca Juga: Perang Dunia Ketiga Makin Nyata? Ini Strategi Bertahan Finansial Hadapi Krisis Global agar Tabungan Tak Jadi Debu

Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Menghadapi ancaman perang dunia ketiga, Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan nonblok. Indonesia tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun.

Ia menyebut filosofi diplomasi Indonesia adalah “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak”. Prinsip ini, menurutnya, menjadi landasan untuk menjaga hubungan baik dengan semua negara tanpa terjebak dalam blok kekuatan tertentu.

Namun, Presiden juga mengingatkan konsekuensi dari sikap nonblok tersebut. Jika Indonesia benar-benar berdiri sendiri dan tidak berpihak pada kekuatan mana pun, maka dalam situasi genting tidak ada jaminan negara lain akan datang membantu.

“Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita. Nobody is going to help us,” tegasnya.

Karena itu, ia kembali mengutip ajaran Soekarno tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Ia juga mengingatkan pesan Panglima Besar Sudirman agar bangsa Indonesia percaya pada kekuatan sendiri.

Baca Juga: Dampak Perang Iran-Israel Kian Nyata: PBNU Peringatkan Ancaman Blokade Selat Hormus, Harga BBM di Indonesia Terancam Melejit!

Waspada dan Perkuat Ketahanan Nasional

Di tengah ancaman perang dunia ketiga dan perubahan iklim yang memicu bencana, Presiden meminta seluruh elemen pemerintahan meningkatkan kewaspadaan. Ketahanan nasional, baik di sektor pertahanan, ekonomi, maupun pangan, harus diperkuat.

Ia juga mengingatkan agar para pengambil kebijakan tidak lengah dengan dinamika global. Dunia saat ini bergerak cepat, dan setiap keputusan internasional bisa berdampak pada dalam negeri.

Pesan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa stabilitas Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik dunia. Dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia diharapkan tetap mampu menjaga kedaulatan, sekaligus menghindari pusaran konflik global yang lebih luas.

Ancaman perang dunia ketiga mungkin belum menjadi kenyataan. Namun, kewaspadaan dan kemandirian nasional, seperti yang ditekankan Presiden, dinilai menjadi kunci agar Indonesia tetap bertahan di tengah ketidakpastian global.

 

Editor : Natasha Eka Safrina
#Perang Dunia Ke 3 #politik luar negeri bebas aktif