Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Perang Dunia Ketiga Dibahas di Davos, Presiden Ungkap Skenario Nuclear Winter dan Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Maret 2026 | 22:51 WIB

Ancaman perang dunia ketiga dibahas di Davos. Presiden ungkap risiko nuclear winter dan tegaskan politik luar negeri bebas aktif.
Ancaman perang dunia ketiga dibahas di Davos. Presiden ungkap risiko nuclear winter dan tegaskan politik luar negeri bebas aktif.

JAKARTA - Ancaman perang dunia ketiga menjadi perhatian serius para pemimpin dunia. Hal itu diungkapkan Presiden usai menghadiri pertemuan internasional di Eropa, termasuk forum bergengsi di Davos. Dalam forum tersebut, puluhan kepala negara disebut merisaukan potensi pecahnya konflik global berskala besar.

Ancaman perang dunia ketiga, menurut Presiden, bukan lagi sekadar wacana spekulatif. Ia menyebut kekhawatiran itu muncul di tengah situasi geopolitik dunia yang kian memanas, sementara banyak negara masih bergulat dengan dampak perubahan iklim dan krisis multidimensi.

Presiden menegaskan, jika perang dunia ketiga benar-benar terjadi, terutama dengan penggunaan senjata nuklir, Indonesia tetap akan terdampak meski tidak terlibat langsung. “Kita yang tidak terlibat saja pasti kena,” ujarnya dalam pidato yang disampaikan di hadapan jajaran pemerintahan.

Baca Juga: Ancaman Perang Dunia Ketiga Menghantui, Presiden Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan Nonblok demi Keselamatan Indonesia

Kekhawatiran Global di Forum Davos

Presiden mengungkapkan bahwa dalam pertemuan di Davos, hampir semua kepala negara menyinggung risiko eskalasi konflik global. Forum yang mempertemukan para pemimpin politik dan ekonomi dunia itu membahas berbagai tantangan, mulai dari krisis energi, perubahan iklim, hingga ketegangan geopolitik.

Menurutnya, situasi global saat ini berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Selain konflik bersenjata di berbagai kawasan, ketidakpastian ekonomi dan persaingan antarnegara besar turut memperbesar potensi gesekan.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan berat akibat perubahan iklim yang memicu peningkatan bencana alam. Namun, Presiden mengingatkan bahwa ancaman perang dunia ketiga memiliki dampak yang jauh lebih luas dan destruktif.

Baca Juga: Presiden Waspadai Perang Dunia Ketiga: Simulasi Nuklir Picu Nuclear Winter, Indonesia Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Skenario Perang Nuklir dan Dampaknya

Dalam pidatonya, Presiden memaparkan hasil simulasi yang dibahas para ahli internasional. Jika perang dunia ketiga melibatkan senjata nuklir, dampaknya tidak hanya dirasakan negara yang bertikai.

Partikel-partikel radioaktif berpotensi menyebar lintas batas negara. Indonesia, meski berada jauh dari pusat konflik, tetap bisa terkena paparan radiasi. Sektor perikanan, misalnya, disebut sangat rentan.

“Mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi semua,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan kemungkinan terjadinya nuclear winter atau musim dingin nuklir. Fenomena ini terjadi ketika debu dan partikel hasil ledakan nuklir menyelimuti atmosfer dan menghalangi sinar matahari.

Akibatnya, suhu bumi dapat turun drastis dan mengganggu sistem pertanian global. Presiden menyebut, para ahli memperkirakan dampak nuclear winter tidak hanya berlangsung satu atau dua tahun, tetapi bisa mencapai puluhan tahun.

Jika itu terjadi, krisis pangan global hampir tak terhindarkan. Negara-negara yang bergantung pada impor bahan makanan akan menghadapi tekanan besar, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Perang Dunia Ketiga Makin Nyata? Ini Strategi Bertahan Finansial Hadapi Krisis Global agar Tabungan Tak Jadi Debu

Konsisten pada Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Menghadapi situasi tersebut, Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan nonblok. Prinsip ini merupakan warisan para pendiri bangsa yang menempatkan Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun.

Sebagai negara berdaulat, Indonesia tidak akan bergabung dalam pakta militer atau aliansi pertahanan tertentu. Sikap non align atau non block dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga independensi dan ruang gerak diplomasi.

“Kita tidak akan ikut pakta militer manapun,” tegas Presiden.

Politik bebas aktif berarti Indonesia bebas menentukan sikap tanpa tekanan pihak luar, namun tetap aktif berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia. Pendekatan ini dianggap relevan di tengah polarisasi global yang kembali menguat.

Perkuat Ketahanan Nasional

Meski memilih jalur nonblok, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah. Dalam situasi global yang tidak menentu, ketahanan nasional harus diperkuat di berbagai sektor.

Mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga pertahanan dan keamanan, semuanya perlu diperkuat untuk mengantisipasi dampak krisis global. Kemandirian menjadi kata kunci agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pihak luar.

Ancaman perang dunia ketiga memang belum menjadi kenyataan. Namun, sinyal kewaspadaan dari forum internasional seperti di Davos menunjukkan bahwa dunia sedang berada dalam titik rawan.

Karena itu, pemerintah memilih tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif sembari meningkatkan kesiapsiagaan nasional. Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan mampu bertahan dan tetap stabil di tengah gejolak global yang semakin kompleks.

Editor : Natasha Eka Safrina
#davos #Prabowo Subianto #perang dunia ketiga