Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Perang Dunia Ketiga Menguat, Presiden Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan Siap Perang demi Lindungi Indonesia

Natasha Eka Safrina • Senin, 2 Maret 2026 | 22:53 WIB

Ancaman perang dunia ketiga dibahas di Davos. Presiden ungkap risiko nuclear winter dan tegaskan politik luar negeri bebas aktif.
Ancaman perang dunia ketiga dibahas di Davos. Presiden ungkap risiko nuclear winter dan tegaskan politik luar negeri bebas aktif.

JAKARTA - Ancaman perang dunia ketiga kembali menjadi peringatan serius dari Presiden. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa situasi geopolitik global saat ini tidak dalam kondisi ideal. Ketegangan antarnegara besar, konflik bersenjata, hingga rivalitas blok kekuatan dunia dinilai berpotensi memicu perang skala global.

Ancaman perang dunia ketiga itu, menurut Presiden, bahkan menjadi pembahasan utama dalam forum internasional yang ia hadiri di Eropa. Di sela pertemuan para pemimpin dunia di Davos, banyak kepala negara mengaku khawatir terhadap eskalasi konflik global yang semakin sulit dikendalikan.

Presiden menegaskan, jika perang dunia ketiga benar-benar terjadi dan melibatkan senjata nuklir, Indonesia tetap akan terdampak meskipun tidak ikut bertempur. Karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan nasional dan penguatan strategi politik luar negeri bebas aktif.

Baca Juga: Ancaman Perang Dunia Ketiga Dibahas di Davos, Presiden Ungkap Skenario Nuclear Winter dan Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ideologi

Presiden mengingatkan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia sudah berdiri di tengah pusaran perang ideologi dunia. Setelah penyerahan kedaulatan, berbagai ancaman langsung muncul, termasuk upaya pembunuhan terhadap Presiden, Wakil Presiden, hingga Perdana Menteri saat itu.

Dunia kala itu terbelah menjadi dua blok besar: komunis dan antikomunis atau kapitalis. Situasi tersebut, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Polarisasi global masih terasa, hanya dalam bentuk dan kepentingan yang berbeda.

Konflik di Ukraina dan peristiwa di Gaza disebut sebagai contoh bahwa ketegangan internasional dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan politik Indonesia. “Kita tidak hidup sendiri,” tegasnya.

Skenario Perang Nuklir dan Nuclear Winter

Dalam forum di Davos, Presiden menyebut banyak pemimpin dunia merisaukan kemungkinan pecahnya perang dunia ketiga. Bahkan, sejumlah simulasi telah dilakukan untuk memetakan dampaknya.

Jika perang dunia ketiga melibatkan senjata nuklir, partikel radioaktif bisa menyebar lintas negara. Indonesia yang tidak terlibat konflik sekalipun berpotensi terkena dampaknya. Sektor perikanan dan pangan menjadi salah satu yang paling rentan.

Ia juga menyinggung potensi terjadinya nuclear winter. Debu dan partikel akibat ledakan nuklir dapat menutup atmosfer dan menghalangi sinar matahari selama bertahun-tahun. Para ahli memperkirakan kondisi itu bisa berlangsung puluhan tahun, bukan sekadar satu atau dua tahun.

Dampaknya bukan hanya krisis pangan, tetapi juga kehancuran sistem ekonomi global. Dalam situasi seperti itu, negara yang tidak memiliki ketahanan nasional kuat akan sangat terpukul.

Baca Juga: Ancaman Perang Dunia Ketiga Menghantui, Presiden Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan Nonblok demi Keselamatan Indonesia

Tegas Nonblok, Tapi Harus Siap Perang

Menghadapi realitas tersebut, Presiden menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan non aligned atau nonblok. Indonesia tidak akan bergabung dalam pakta militer mana pun.

Filosofi diplomasi Indonesia, katanya, adalah “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.” Prinsip itu menjadi landasan untuk menjaga hubungan baik dengan semua negara.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa dunia yang dihadapi saat ini adalah dunia nyata, bukan dunia ideal. “Yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki. Yang lemah akan menderita,” ujarnya.

Karena itu, meskipun Indonesia tidak menginginkan perang, kesiapan tetap harus dibangun. “Karena kita tidak mau perang, kita harus siap untuk perang,” tegas Presiden.

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Presiden kembali mengutip ajaran Soekarno tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Ia juga mengingatkan pesan Panglima Besar Sudirman agar bangsa Indonesia percaya pada kekuatan sendiri.

Indonesia, kata dia, merupakan negara kaya sumber daya alam. Kekayaan Nusantara inilah yang sejak ratusan tahun lalu menarik bangsa-bangsa asing datang, mulai dari Belanda, Portugis, hingga Jepang.

“Mereka datang bukan untuk wisata,” ujarnya.

Menurut Presiden, kekayaan alam Indonesia menjadi salah satu faktor yang membuat negara ini selalu berada dalam radar kepentingan global. Karena itu, kemandirian dan ketahanan nasional menjadi kunci utama.

Baca Juga: Presiden Waspadai Perang Dunia Ketiga: Simulasi Nuklir Picu Nuclear Winter, Indonesia Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Ia menegaskan bahwa tugas seorang presiden adalah menjaga bangsa dan melindungi rakyat. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, sikap emosional atau terlalu idealis tidak akan membantu.

Indonesia memilih bersikap baik kepada semua pihak demi kepentingan rakyatnya. Namun di saat yang sama, kesiapsiagaan tetap harus diperkuat agar bangsa ini tidak menjadi korban dalam percaturan dunia.

Ancaman perang dunia ketiga memang belum terjadi. Tetapi peringatan yang disampaikan Presiden menjadi sinyal bahwa Indonesia harus terus waspada, realistis, dan memperkuat diri di tengah dinamika global yang semakin keras.

Editor : Natasha Eka Safrina
#politik luar negeri bebas aktif #ketahanan nasional #Nuclear Winter #perang dunia ketiga