Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perbedaan Syiah Menurut Ulama: Disebut Tambah Rukun Iman hingga Tuduh Al-Qur’an Diubah, Ini Penjelasannya

Davina Ar Raafika • Selasa, 3 Maret 2026 | 18:25 WIB

Perbedaan Syiah menurut ulama jadi sorotan. Benarkah ada tambahan rukun iman dan isu Al-Qur’an diubah?
Perbedaan Syiah menurut ulama jadi sorotan. Benarkah ada tambahan rukun iman dan isu Al-Qur’an diubah?

JAKARTA - Isu perbedaan Syiah menurut ulama kembali ramai diperbincangkan setelah sebuah ceramah yang beredar di YouTube membahas sejumlah poin yang dinilai membedakan ajaran Syiah dan Ahlusunah wal Jamaah. Dalam video tersebut, penceramah memaparkan lima perbedaan utama yang kerap disorot dalam diskursus teologi Islam.

Pembahasan mengenai perbedaan Syiah menurut ulama ini dinilai penting karena menyangkut persoalan akidah, rukun iman, hingga pandangan terhadap sahabat Nabi Muhammad SAW. Ceramah itu juga mengulas ciri-ciri yang disebut dapat dikenali dari praktik ibadah tertentu.

Dalam kajian tersebut, disebutkan bahwa salah satu perbedaan mendasar adalah soal rukun iman. Jika dalam ajaran Ahlusunah wal Jamaah rukun iman berjumlah enam, maka menurut penceramah, Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Dua Belas Imam menambahkan keyakinan terhadap dua belas imam sebagai bagian dari prinsip keimanan.

Penambahan Rukun Iman dan Konsep Dua Belas Imam

Penceramah menjelaskan bahwa dalam pandangan Syiah Dua Belas Imam, kepercayaan kepada dua belas imam merupakan fondasi penting ajaran mereka. Dua belas imam tersebut diyakini sebagai penerus kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dimulai dari Ali bin Abi Thalib hingga imam terakhir yang diyakini sebagai Imam Mahdi.

Dalam perspektif Ahlusunah wal Jamaah, konsep tersebut tidak termasuk dalam rukun iman. Perbedaan inilah yang kemudian disebut sebagai salah satu akar perbedaan teologis antara kedua kelompok.

Tuduhan terhadap Keaslian Al-Qur’an

Poin kedua yang disorot dalam ceramah tersebut adalah tuduhan bahwa sebagian kalangan Syiah meyakini Al-Qur’an telah mengalami perubahan. Penceramah menyatakan ada narasi yang menuding bahwa mushaf Al-Qur’an yang ada saat ini telah “diotak-atik” oleh sahabat tertentu.

Namun demikian, dalam berbagai literatur akademik dan pernyataan resmi ulama Syiah kontemporer, banyak yang menegaskan bahwa mereka tetap meyakini keaslian Al-Qur’an sebagaimana umat Islam pada umumnya. Isu ini memang menjadi salah satu polemik klasik dalam sejarah hubungan Sunni-Syiah.

Sikap terhadap Sahabat Nabi

Perbedaan berikutnya yang diangkat adalah pandangan terhadap sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dalam ceramah itu disebutkan bahwa sebagian penganut Syiah menilai kedua sahabat tersebut telah merebut hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.

Narasi ini kerap menjadi titik sensitif dalam perdebatan teologis. Dalam tradisi Ahlusunah wal Jamaah, Abu Bakar dan Umar dipandang sebagai sahabat utama yang memiliki kedudukan mulia. Sementara dalam sebagian literatur Syiah klasik, terdapat kritik keras terhadap kepemimpinan pasca-wafatnya Rasulullah.

Konsep Ketuhanan dan Ilmu Imam

Penceramah juga menyinggung soal konsep ketuhanan. Disebutkan adanya tudingan bahwa dalam sebagian ajaran ekstrem, imam dianggap memiliki pengetahuan yang sangat luas bahkan melebihi manusia biasa.

Namun, penting dicatat bahwa dalam studi perbandingan mazhab, terdapat spektrum pandangan yang beragam di internal Syiah sendiri. Tidak semua penganut Syiah memiliki pandangan teologis yang sama, terutama terkait sifat-sifat ketuhanan dan kedudukan imam.

Praktik Ibadah dan Turbah Karbala

Selain aspek teologi, ceramah tersebut juga menyinggung praktik ibadah, khususnya penggunaan turbah atau tanah yang dicetak, biasanya berasal dari Karbala, Irak, sebagai alas sujud saat salat.

Dalam tradisi Syiah, penggunaan turbah dipandang sebagai bentuk mengikuti praktik sujud di atas tanah. Sementara dalam Ahlusunah, sujud dapat dilakukan di atas sajadah atau alas lainnya selama suci.

Penceramah mengingatkan agar masyarakat memahami konteks sebelum menarik kesimpulan ketika melihat praktik tersebut di tengah masyarakat.

Seruan Bijak dalam Menyikapi Perbedaan

Di akhir ceramah, disampaikan pesan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan mazhab. Diskusi teologis sebaiknya dilakukan dengan ilmu dan adab, tanpa mencaci atau mengkafirkan pihak lain.

Perdebatan tentang perbedaan Syiah menurut ulama memang telah berlangsung lama dalam sejarah Islam. Namun, para tokoh agama kerap mengingatkan bahwa menjaga persatuan umat dan menghindari konflik horizontal tetap menjadi prioritas utama.

Masyarakat diimbau untuk memperdalam literasi keislaman dari sumber yang kredibel serta tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. Pemahaman yang utuh dan berimbang dinilai penting agar perbedaan tidak berujung pada perpecahan.

Editor : Davina Ar Raafika
#Syiah Dua Belas Imam #Syiah menurut ulama #Imamah #Sayyidah Aisyah #Abu Bakar Ash Shiddiq