JAKARTA - Pembahasan tentang Syiah menurut ulama kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya sebuah video ceramah yang mengulas sejarah kemunculan Syiah, perbedaannya dengan Ahlusunah wal Jamaah, hingga tradisi Asyura yang kerap viral di media sosial.
Dalam video tersebut, pemateri membuka dengan pertanyaan mendasar: siapa itu Syiah? Apakah mereka bagian dari Islam atau memiliki ajaran berbeda? Isu Syiah menurut ulama ini kemudian dijelaskan melalui pendekatan sejarah, terutama peristiwa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Menurut penjelasan dalam ceramah itu, titik awal perbedaan bermula dari peristiwa pertemuan di Saqifah Bani Saidah.
Setelah Rasulullah wafat, kaum Ansar berkumpul untuk membahas siapa yang akan menjadi pemimpin umat Islam.
Dalam pertemuan tersebut, sempat muncul nama Sa’ad bin Ubadah sebagai kandidat khalifah.
Namun, kaum Muhajirin seperti Abu Bakar dan Umar kemudian hadir dalam musyawarah tersebut.
Setelah diskusi, disepakati bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah pertama. Keputusan ini diterima oleh mayoritas sahabat.
Awal Munculnya Kelompok Syiah
Dalam kajian sejarah aliran Islam, istilah “Syiah” secara bahasa berarti kelompok atau pendukung. Seiring waktu, muncul kelompok kecil yang berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah karena kedekatannya dengan Rasulullah serta hubungan kekerabatan.
Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi Syiah. Dalam perspektif Ahlusunah wal Jamaah, keputusan pengangkatan Abu Bakar dipandang sah melalui musyawarah. Sementara dalam keyakinan Syiah, kepemimpinan umat Islam dianggap sebagai penunjukan ilahi yang harus berada di tangan Ali dan keturunannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya setelah wafatnya Utsman bin Affan, pemikiran Syiah disebut semakin terstruktur dan berkembang hingga menjadi mazhab teologis dengan konsep dua belas imam sebagai penerus kepemimpinan.
Polemik Pandangan terhadap Sahabat
Salah satu poin yang paling sering menjadi sorotan dalam diskursus Syiah menurut ulama adalah sikap terhadap sahabat Nabi. Dalam ceramah tersebut disebutkan bahwa sebagian kalangan Syiah meyakini mayoritas sahabat telah melanggar ketentuan ilahi dengan tidak mengangkat Ali sebagai khalifah pertama.
Namun, penceramah juga menegaskan bahwa tidak semua penganut Syiah mencaci sahabat. Ia mengakui adanya spektrum pemahaman di internal Syiah sendiri, dari yang moderat hingga ekstrem.
Dalam perspektif Ahlusunah, sahabat Nabi memiliki kedudukan mulia karena mereka menerima langsung ajaran Rasulullah. Argumen yang kerap disampaikan adalah bahwa transmisi Al-Qur’an dan hadis berlangsung melalui para sahabat tersebut.
Tradisi Asyura dan Peristiwa Karbala
Isu lain yang kerap viral adalah tradisi sebagian penganut Syiah saat peringatan Asyura, khususnya ritual melukai diri sebagai bentuk duka atas wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala.
Peristiwa Karbala sendiri merupakan tragedi besar dalam sejarah Islam, di mana Husain bin Ali gugur dalam konflik politik pada masa itu. Dalam tradisi Syiah, peringatan Asyura menjadi momen refleksi dan duka mendalam.
Namun, praktik melukai diri tersebut tidak mewakili seluruh penganut Syiah dan juga menuai perdebatan di internal mereka sendiri. Banyak ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah, yang tidak menganjurkan praktik tersebut.
Soal Takfir dan Sikap Ulama
Bagian penting dari ceramah itu adalah peringatan agar tidak mudah mengkafirkan kelompok lain. Dalam diskursus Syiah menurut ulama, persoalan apakah suatu kelompok keluar dari Islam atau tidak disebut sebagai ranah yang sangat sensitif.
Penceramah menekankan bahwa banyak ulama besar memilih berhati-hati dalam mengeluarkan vonis kafir terhadap individu atau kelompok. Mengkafirkan seseorang tanpa dasar yang jelas justru berisiko bagi yang mengucapkannya.
Karena itu, masyarakat dianjurkan fokus pada penguatan akidah dan pemahaman agama yang benar, serta berhati-hati dalam memilih lembaga pendidikan berbasis keagamaan dengan memastikan manhaj dan akidahnya jelas.
Perdebatan mengenai Syiah memang telah berlangsung berabad-abad dalam sejarah Islam. Namun, di tengah perbedaan tersebut, sikap bijak, ilmiah, dan tidak emosional menjadi kunci agar diskursus tetap dalam koridor akademik dan tidak memicu perpecahan.
Editor : Davina Ar Raafika