Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Syi’ah Menurut Ulama: Ini Penjelasan Lengkap Akar Akidah, Sejarah Sahabat, dan Awal Mula Perbedaan dalam Islam

Davina Ar Raafika • Selasa, 3 Maret 2026 | 18:40 WIB

Syi’ah menurut ulama dijelaskan dari akar sejarah sahabat, akidah, dan awal mula perbedaan dalam Islam.
Syi’ah menurut ulama dijelaskan dari akar sejarah sahabat, akidah, dan awal mula perbedaan dalam Islam.

JAKARTA - Isu Syi’ah menurut ulama kembali menjadi perhatian publik setelah beredarnya ceramah yang membahas sejarah akidah Islam sejak masa Rasulullah hingga era sahabat.

Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa untuk memahami Syi’ah secara utuh, umat perlu lebih dulu memahami fondasi akidah, kesinambungan ajaran, serta dinamika politik pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Pembahasan tentang Syi’ah menurut ulama tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah awal Islam.

Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW ditegaskan telah sempurna, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Fondasi utama ajaran itu adalah tauhid dan enam rukun iman.

Seluruh aspek syariat, baik akidah, ibadah, maupun muamalah, merujuk pada wahyu dan sunnah Rasul.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa generasi sahabat adalah generasi terbaik yang menerima langsung bimbingan Rasulullah.

Mereka hidup bersama Nabi, memahami bahasa Al-Qur’an secara langsung, dan dikenal memiliki kepatuhan tinggi terhadap perintah agama.

Prinsip “sami’na wa atha’na” atau “kami dengar dan kami taat” menjadi karakter dominan generasi awal Islam.

Kesempurnaan Ajaran dan Estafet Kepemimpinan

Setelah Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada masa beliau, tantangan utama adalah menjaga stabilitas umat, termasuk menghadapi gelombang kemurtadan dan penolakan zakat. Dalam dua tahun kepemimpinannya, fondasi persatuan umat berhasil dijaga.

Kepemimpinan kemudian berlanjut kepada Umar bin Khattab selama sekitar sepuluh tahun. Di era ini, wilayah Islam meluas hingga berbatasan dengan Romawi dan Persia. Sistem administrasi pemerintahan semakin tertata. Umar dikenal menempatkan pejabat berdasarkan kapabilitas dan integritas, bukan kedekatan personal.

Setelah Umar, kepemimpinan dilanjutkan oleh Utsman bin Affan dan kemudian Ali bin Abi Thalib. Pada masa inilah mulai muncul dinamika politik yang lebih kompleks, termasuk fitnah besar yang memicu perpecahan di tubuh umat.

Awal Mula Munculnya Syi’ah

Dalam perspektif sejarah, kemunculan Syi’ah berawal dari dukungan politik terhadap Ali bin Abi Thalib sebagai figur yang dianggap paling berhak melanjutkan kepemimpinan setelah Rasulullah. Kata “syi’ah” sendiri secara bahasa berarti kelompok atau pendukung.

Perbedaan pandangan mengenai siapa yang paling berhak menjadi khalifah inilah yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis. Sejumlah ulama menjelaskan bahwa pada awalnya, perbedaan tersebut bersifat politik, bukan akidah. Namun seiring waktu, muncul doktrin-doktrin yang berkembang di luar konsensus mayoritas sahabat.

Dalam kajian akidah Ahlus Sunnah, seluruh sahabat dipandang sebagai generasi yang adil dan memiliki keutamaan. Sementara dalam doktrin Syi’ah tertentu, terdapat pandangan yang mengkritik bahkan menolak legitimasi sebagian sahabat. Di sinilah letak perbedaan mendasar yang sering dibahas para ulama.

Syi’ah Menurut Ulama Ahlus Sunnah

Mayoritas ulama Ahlus Sunnah memandang bahwa kecintaan kepada keluarga Nabi atau Ahlul Bait adalah bagian dari ajaran Islam. Namun, mereka menolak sikap berlebihan yang menempatkan figur tertentu pada posisi yang melampaui batas syariat.

Sejumlah ulama klasik menegaskan pentingnya menjaga objektivitas sejarah dan tidak terjebak dalam fanatisme kelompok. Perbedaan politik pada masa awal Islam tidak boleh menjadi alasan untuk merusak prinsip persaudaraan umat.

Di sisi lain, para ulama juga menekankan bahwa persoalan akidah harus kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Setiap keyakinan yang tidak memiliki landasan kuat dari dua sumber tersebut perlu dikaji secara ilmiah dan proporsional.

Pentingnya Sikap Bijak dan Ilmiah

Kajian ini mengingatkan bahwa pembahasan tentang Syi’ah tidak boleh didasarkan pada emosi atau provokasi. Umat Islam didorong untuk memahami sejarah secara utuh, membaca referensi yang kredibel, dan merujuk kepada ulama yang kompeten.

Perbedaan pandangan dalam sejarah Islam adalah fakta yang tidak bisa dihapus. Namun, yang terpenting adalah menjaga persatuan, mengedepankan akhlak, dan tetap menjadikan tauhid sebagai fondasi utama kehidupan beragama.

Dengan memahami Syi’ah menurut ulama secara komprehensif, umat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah. Sebaliknya, pemahaman yang utuh justru dapat memperkuat kedewasaan dalam menyikapi perbedaan di tengah masyarakat.

Editor : Davina Ar Raafika
#Ali bin Abi Thalib #Abu Bakar As Siddiq #Imamah 12 Imam #Sejarah Syiah #Perang Shiffin