Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perang Dunia ke 3 di Depan Mata? Serangan Amerika ke Iran Picu Ancaman Krisis Global, Ini Dampaknya ke Indonesia

Davina Ar Raafika • Selasa, 3 Maret 2026 | 19:00 WIB

Perang Dunia ke 3 dipicu konflik Amerika-Iran? Simak dampak global dan ancamannya bagi ekonomi Indonesia.
Perang Dunia ke 3 dipicu konflik Amerika-Iran? Simak dampak global dan ancamannya bagi ekonomi Indonesia.

JAKARTA - Isu Perang Dunia ke 3 kembali mencuat setelah memanasnya konflik di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Serikat ke Iran dan balasan yang dikabarkan menyasar sejumlah titik strategis di kawasan tersebut. Analis pasar modal sekaligus investor, Elen May, menilai situasi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.

Dalam pemaparannya di kanal YouTube pribadinya, Elen menyebut Perang Dunia ke 3 bisa saja dipicu oleh ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyoroti dampak strategis jika Iran benar-benar menjadi pusat eskalasi konflik global.

“Ini bukan cuma soal perang langsung. Ini soal struktur supply chain global, jalur energi, dan arsitektur keuangan dunia,” ujarnya.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Salah satu titik krusial yang disorot adalah Selat Hormuz. Sekitar 30 persen perdagangan minyak dunia dan hampir 20 persen LNG melewati jalur tersebut. Tak hanya itu, lebih dari 30 persen perdagangan pupuk global juga transit di kawasan itu.

Jika Selat Hormuz terganggu akibat konflik, harga energi global dipastikan melonjak. Kenaikan harga minyak, gas, dan batu bara akan mendorong biaya produksi dunia naik. Energi merupakan komponen dasar hampir semua sektor industri.

Dampaknya? Inflasi global meningkat. Harga barang konsumsi naik. Daya beli masyarakat tertekan. Bahkan bukan tidak mungkin memicu krisis finansial baru.

Bukan Sekadar Nuklir, Tapi Keseimbangan Kekuatan

Menurut Elen, konflik ini bukan semata isu nuklir. Yang dipertaruhkan adalah power equilibrium atau keseimbangan kekuatan global. Iran berada di titik strategis antara Timur Tengah, Asia Tengah, Laut Kaspia, dan jalur energi Eurasia.

Jika Iran berubah blok atau jatuh ke pengaruh Barat, peta geopolitik akan bergeser drastis.

Negara pertama yang terdampak adalah Tiongkok. China mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan energinya, dengan sekitar 15 persen pasokan minyak berasal dari Iran. Bahkan keduanya memiliki perjanjian kerja sama jangka panjang hingga 25 tahun.

Selain energi, Iran juga memiliki cadangan litium sekitar 8,5 juta ton. Litium adalah bahan utama baterai kendaraan listrik (EV). Jika Iran dan China membangun rantai pasok litium di luar sistem dolar Amerika, dominasi teknologi dan finansial AS bisa terancam.

Dampak ke India dan Rusia

Tak hanya China, India juga berkepentingan terhadap Iran. India membutuhkan akses pelabuhan Chabahar di Iran untuk jalur perdagangan menuju Asia Tengah, guna mengimbangi dominasi China-Pakistan.

Jika Iran berubah arah, India bisa kehilangan jalur strategisnya dan harus bergantung pada Pakistan, rival lamanya.

Sementara itu, Rusia melihat Iran sebagai buffer strategis di selatan. Selama Iran tidak berada di bawah pengaruh Barat, Rusia masih memiliki akses alternatif logistik dan militer. Jika tidak, tekanan terhadap Moskow akan semakin kuat.

Pertarungan Sistem Keuangan Global

Dimensi lain yang tak kalah penting adalah kekuatan dolar AS. Iran, Rusia, dan China mulai melakukan transaksi non-dolar untuk mengurangi ketergantungan terhadap USD.

Jika sistem ini berkembang, permintaan dolar bisa menurun dan mempersulit pembiayaan defisit Amerika. Dengan kata lain, konflik ini bukan hanya soal militer, tetapi juga perebutan dominasi sistem keuangan global.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Menurut Elen, dampaknya ke Indonesia bersifat struktural. APBN 2026 mengasumsikan harga minyak sekitar USD 70 per barel. Jika melonjak ke USD 100-120, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan berat.

Pertama, menambah subsidi agar harga BBM tidak melonjak. Konsekuensinya, defisit anggaran melebar dan penerbitan surat utang meningkat. Risiko penurunan peringkat kredit pun terbuka.

Jika rating kredit turun, dana asing bisa keluar, rupiah melemah, dan harga barang impor naik. Indonesia yang masih bergantung pada impor pangan dan bahan baku akan terdampak langsung.

Skenario kedua, harga BBM mengikuti pasar. Jika itu terjadi, ongkos logistik naik, harga sembako terdorong naik, dan inflasi inti meningkat.

Tak hanya minyak, 33 persen perdagangan pupuk dunia juga melewati Selat Hormuz. Jika terganggu, harga pupuk naik, biaya tanam melonjak, dan harga beras ikut terdorong.

Efek berantai ini bisa menekan laba perusahaan, meningkatkan risiko PHK, serta mendorong rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Elen menekankan bahwa masyarakat tak punya kendali atas konflik global. Namun, individu bisa memperkuat fondasi keuangan pribadi.

Ia menyarankan memperkuat likuiditas, mengurangi utang konsumtif, menjaga arus kas, dan melakukan diversifikasi investasi. Dalam situasi penuh ketidakpastian, prinsip survival dinilai lebih penting daripada mengejar keuntungan maksimal.

“Yang bertahan itu yang disiplin, bukan yang spekulatif,” tegasnya.

Perang Dunia ke 3 memang belum tentu terjadi. Namun, dinamika geopolitik yang memanas menjadi pengingat bahwa ekonomi global saling terhubung. Ketika satu simpul terguncang, efeknya bisa merambat hingga ke rumah tangga.

 

Editor : Davina Ar Raafika
#Indonesia 2026 #Konflik Geopolitik #Gosip terbaru Perang Dunia ke 3 #Ramalan Perang Dunia ke 3 #perang dunia ketiga