Ketegangan perang Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke wilayah Israel pada Minggu malam waktu setempat. Serangan tersebut tidak hanya memicu kepanikan warga, tetapi juga berdampak pada ekonomi global, termasuk melonjaknya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Dalam rekaman siaran televisi lokal Israel, beberapa rudal terlihat menghantam wilayah sekitar Tel Aviv. Warga yang berada di kawasan tersebut dilaporkan tidak sempat berlindung karena peringatan sirene datang terlambat. Situasi tersebut membuat banyak warga panik dan berusaha mencari tempat perlindungan darurat.
Serangan tersebut diduga merupakan aksi balasan Iran atas ledakan kilang minyak di Teheran beberapa waktu sebelumnya. Konflik terbaru ini semakin memperkeruh situasi perang Timur Tengah yang sebelumnya sudah memanas akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Baca juga:Rudal Iran Tembus Sistem Pertahanan Israel
Laporan awal menyebutkan beberapa rudal balistik Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel. Sistem tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu teknologi pertahanan udara paling canggih di dunia.
Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, beberapa di antaranya dilaporkan jatuh di wilayah perkotaan. Insiden ini memicu kepanikan massal di Tel Aviv dan kota-kota sekitarnya.
Gempuran rudal bahkan sempat terekam secara langsung oleh stasiun televisi lokal Israel yang tengah melakukan siaran langsung. Tayangan tersebut memperlihatkan kilatan cahaya di langit malam serta suara ledakan yang menggema di beberapa wilayah.
Pengamat geopolitik menilai eskalasi konflik ini berpotensi memperluas dampak perang Timur Tengah ke berbagai sektor global, terutama energi dan pasar keuangan.
Baca juga:Harga Minyak Dunia Meroket
Dampak langsung dari konflik tersebut terlihat pada lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Minggu, 8 Maret, harga minyak mentah global melonjak hingga menembus USD 100 per barel.
Minyak mentah jenis Brent bahkan tercatat naik sekitar 18 persen hingga mencapai USD 108,68 per barel. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.
Lonjakan harga energi dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu sumber utama energi global.
Selain konflik militer, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh keputusan beberapa produsen energi utama di kawasan tersebut untuk memangkas produksi minyak.
Baca juga:Warga Amerika Serikat Panik Beli Bensin
Dampak konflik juga dirasakan di Amerika Serikat, khususnya di negara bagian California. Warga di Los Angeles dilaporkan berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengisi bensin sebelum harga kembali naik.
Harga bensin di beberapa wilayah bahkan dilaporkan mencapai sekitar USD 7 per liter. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Tidak sedikit pula SPBU yang mengalami kehabisan stok akibat lonjakan permintaan masyarakat. Gangguan distribusi di Selat Hormuz serta penutupan beberapa kilang minyak turut memperparah situasi tersebut.
Baca juga:Rupiah dan IHSG Ikut Tertekan
Ketegangan perang Timur Tengah juga berdampak pada pasar keuangan Indonesia. Nilai tukar rupiah dilaporkan melemah hingga menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.010 per dolar AS atau turun sekitar 90 poin dibanding penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan hingga turun hampir lima persen ke level 7.374.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pelemahan pasar tidak sepenuhnya disebabkan oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai sentimen negatif di pasar dipicu oleh narasi pesimistis yang berkembang di kalangan ekonom.
Menurutnya, sejumlah pihak menyebarkan pandangan bahwa Indonesia menuju krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998. Namun pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih dalam tahap ekspansi.
Baca juga:Pemerintah Tegaskan Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Pemerintah memastikan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam keadaan stabil meskipun terjadi guncangan global akibat konflik geopolitik.
Presiden juga menegaskan Indonesia harus siap menghadapi dampak dari perang Timur Tengah, namun masyarakat tidak perlu panik.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan ekonomi serta sumber daya yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan global.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan negara secara lebih baik, termasuk dengan memperkuat upaya pemberantasan korupsi di berbagai sektor.
Presiden menilai kebocoran anggaran akibat korupsi dapat mengurangi kemampuan negara dalam menghadapi krisis global. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen memperketat pengawasan dan meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan negara.
Di tengah gejolak global yang terus berlangsung, pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi internasional guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor : Ayu Dhea Cheryl