Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perdebatan Tuhan, Mesias, dan Kitab Suci: Dialog Islam–Yahudi Ungkap Perbedaan Besar Antara Yudaisme, Kristen, dan Islam

Divka Vance Yandriana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 19:45 WIB

Perdebatan konsep Tuhan dan Mesias antara Yudaisme, Kristen, dan Islam mengungkap perbedaan besar dalam kitab suci dan teologi.
Perdebatan konsep Tuhan dan Mesias antara Yudaisme, Kristen, dan Islam mengungkap perbedaan besar dalam kitab suci dan teologi.

JAKARTA - Perdebatan teologis antara agama besar dunia kembali menjadi sorotan setelah sebuah diskusi panjang membahas perbedaan konsep Tuhan dan Mesias antara Yudaisme, Kristen, dan Islam. Dialog tersebut menyinggung akar kitab suci, konsep keselamatan, hingga klaim tentang kedatangan Mesias yang masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Dalam diskusi itu dijelaskan bahwa konflik pemahaman teologis terutama terjadi antara agama Yahudi dan Kristen. Penyebab utamanya adalah perbedaan dalam memahami konsep ketuhanan, keselamatan, serta figur Mesias. Hal ini menjadi menarik karena kitab suci Kristen sebagian besar mengambil sumber dari kitab Yahudi atau Perjanjian Lama.

Kitab Perjanjian Lama sendiri berasal dari teks Yahudi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani melalui karya yang dikenal sebagai Septuaginta. Dari sinilah kemudian banyak bagian kitab Yahudi digunakan oleh tradisi Kristen sebagai dasar teologi mereka.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Namun sejumlah kalangan Yahudi menilai bahwa banyak interpretasi Kristen tidak sesuai dengan makna asli teks tersebut.

Konsep Tuhan dalam Yudaisme dan Islam

Salah satu pembahasan utama dalam diskusi tersebut adalah konsep ketuhanan dalam Yudaisme. Dalam tradisi Yahudi, Tuhan dipandang sebagai entitas yang sepenuhnya transenden dan tidak mungkin menjelma menjadi manusia.

Pandangan ini juga sejalan dengan konsep ketuhanan dalam Islam yang menegaskan bahwa Tuhan tidak menyerupai makhluk apa pun.

Dalam kitab Taurat, nama Tuhan sering disebut melalui istilah tetragrammaton yang terdiri dari empat huruf Ibrani: YHWH. Dalam praktik Yahudi, nama tersebut tidak diucapkan secara langsung dan biasanya diganti dengan sebutan seperti “Hashem” yang berarti “Nama”.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Diskusi tersebut juga menyinggung bahwa dalam berbagai bahasa Semitik terdapat kesamaan istilah untuk menyebut Tuhan. Misalnya dalam bahasa Arab digunakan kata “Allah”, sedangkan dalam tradisi Ibrani terdapat berbagai gelar Tuhan seperti El, Elohim, atau Elyon.

Kesamaan istilah tersebut sering dianggap sebagai bukti bahwa ketiga agama Abrahamik memiliki akar konsep ketuhanan yang serupa.

Alasan Yahudi Boleh Masuk Masjid

Dialog tersebut juga membahas praktik ibadah yang menarik dalam hubungan antara agama Yahudi dan Islam.

Menurut penjelasan seorang tokoh Yahudi dalam diskusi itu, umat Yahudi diperbolehkan masuk ke masjid jika tidak menemukan sinagoga untuk beribadah.

Hal ini karena dalam pandangan mereka, masjid tidak memiliki unsur penyembahan berhala. Dalam tempat ibadah Islam tidak terdapat patung atau gambar yang dijadikan objek penghormatan.

Baca Juga: Cara Lapor SPT Tahunan 2026 di Coretax DJP Sebelum 31 Maret, Panduan Lengkap agar Terhindar dari Denda Pajak

Sebaliknya, dalam beberapa gereja terdapat simbol atau patung yang dianggap oleh sebagian kalangan Yahudi sebagai bentuk representasi manusia dalam ibadah.

Dalam hukum Taurat sendiri terdapat larangan keras membuat patung atau gambar untuk tujuan penyembahan. Larangan ini menjadi prinsip penting dalam tradisi monoteisme Yahudi.

Konsep Keselamatan dalam Taurat

Perbedaan mendasar lainnya antara Yudaisme dan Kristen adalah konsep keselamatan manusia.

Dalam tradisi Yahudi, keselamatan tidak diperoleh melalui penebusan dosa oleh figur tertentu. Sebaliknya, keselamatan diperoleh melalui ketaatan pada hukum Taurat dan pertobatan pribadi.

Seseorang dianggap memperoleh kehidupan yang baik di akhirat jika memilih perbuatan benar dan menjauhi kejahatan.

Pandangan ini berbeda dengan konsep keselamatan dalam sebagian tradisi Kristen yang menekankan penebusan dosa melalui pengorbanan tokoh sentral dalam iman mereka.

Bagi tradisi Yahudi, setiap individu bertanggung jawab atas dosa dan amalnya sendiri. Prinsip ini disebutkan dalam berbagai ayat kitab Taurat yang menegaskan bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain.

Perdebatan Tentang Mesias

Topik yang paling banyak dibahas dalam diskusi tersebut adalah konsep Mesias.

Dalam tradisi Yahudi, Mesias dipahami sebagai pemimpin manusia yang akan datang di masa depan. Ia dianggap sebagai keturunan Raja Daud yang akan memimpin dunia menuju era damai.

Dalam kitab nabi-nabi, Mesias digambarkan sebagai manusia yang dipenuhi kebijaksanaan dan takut kepada Tuhan. Ia akan membawa perdamaian dunia, menyatukan bangsa-bangsa, serta mengakhiri peperangan.

Sementara itu, dalam tradisi Kristen, figur Mesias diidentikkan dengan sosok Yesus Kristus yang diyakini telah datang dan memiliki peran sebagai penyelamat umat manusia.

Perbedaan pandangan inilah yang membuat konsep Mesias menjadi salah satu titik perdebatan paling besar antara Yudaisme dan Kristen hingga saat ini.

Dialog Antaragama Semakin Penting

Diskusi panjang tersebut menunjukkan bahwa perbedaan teologi antara agama-agama besar dunia memiliki akar sejarah yang sangat panjang.

Namun para peserta dialog juga menekankan pentingnya saling memahami perspektif masing-masing agama agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Melalui dialog terbuka, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa perbedaan keyakinan merupakan bagian dari dinamika sejarah dan tradisi intelektual yang berkembang selama ribuan tahun.

Dengan memahami konteks sejarah dan ajaran masing-masing agama secara lebih mendalam, perdebatan teologis dapat menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya wawasan, bukan sekadar sumber konflik.

Editor : Divka Vance Yandriana
#islam #yudaisme #kristen #Mesias