JAKARTA – Pembahasan tentang tiga janji Allah kepada Bani Israil dalam Surah Al-Isra kembali menjadi perhatian publik setelah banyak kajian yang menyoroti makna ayat 4 sampai 7 dalam kitab suci Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut menjelaskan perjalanan panjang Bani Israil, mulai dari masa kejayaan, kerusakan, hingga konsekuensi yang mereka terima atas perbuatan mereka.
Dalam kajian tafsir Al-Qur’an, tiga janji Allah kepada Bani Israil dalam Surah Al-Isra sering dipahami sebagai gambaran siklus sejarah yang dialami oleh keturunan Nabi Yaqub yang juga dikenal dengan sebutan Israil. Secara bahasa, Bani Israil berarti keturunan Israil, yaitu keturunan Nabi Yaqub yang merupakan putra dari Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim.
Dalam Al-Qur’an, Bani Israil disebut sebagai kaum yang pernah mendapatkan banyak nikmat dari Allah. Mereka menerima kitab suci, diutus banyak nabi dari kalangan mereka, serta pernah berada dalam posisi mulia pada masanya.
Namun Al-Qur’an juga mencatat bahwa sebagian dari mereka melakukan pelanggaran terhadap ajaran para nabi, yang kemudian menjadi sebab datangnya teguran dan hukuman.
Kerusakan Pertama Bani Israil
Pembahasan tentang tiga janji Allah kepada Bani Israil dalam Surah Al-Isra dimulai dari ayat keempat yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan melakukan kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa selain melakukan kerusakan, mereka juga menunjukkan kesombongan yang besar. Para ulama tafsir menafsirkan kerusakan ini sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran Allah, pelanggaran terhadap perjanjian, serta tindakan kezaliman yang melampaui batas.
Sebagai konsekuensinya, Allah mendatangkan hukuman melalui datangnya kekuatan lain yang menaklukkan mereka. Dalam sejarah yang banyak dirujuk oleh para mufasir, peristiwa ini sering dikaitkan dengan kehancuran kerajaan Bani Israil pada masa lampau ketika kekuatan besar datang menaklukkan wilayah mereka.
Akibatnya, banyak dari mereka tercerai-berai dan hidup dalam diaspora di berbagai wilayah dunia.
Fase Kebangkitan Kembali
Janji kedua yang disebut dalam ayat selanjutnya menjelaskan bahwa setelah mengalami kehancuran, Bani Israil akan kembali memperoleh kekuatan.
Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah memberikan kembali kekuatan berupa harta, keturunan, dan jumlah yang lebih besar sehingga mereka mampu bangkit dari keterpurukan.
Dalam perjalanan sejarah modern, sebagian kalangan mengaitkan fase kebangkitan ini dengan munculnya gerakan politik yang dikenal sebagai Zionisme serta berdirinya negara Israel pada tahun 1948 di wilayah Palestina.
Sejak saat itu Israel berkembang menjadi negara dengan kekuatan militer dan ekonomi yang cukup signifikan di kawasan Timur Tengah.
Namun para ulama juga menekankan bahwa ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang sejarah politik, melainkan juga menggambarkan pola umum dalam kehidupan manusia.
Prinsip Balasan atas Perbuatan
Ayat ketujuh dalam Surah Al-Isra menegaskan prinsip penting dalam ajaran Islam, yaitu bahwa setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya.
Jika seseorang berbuat baik, maka manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, jika melakukan kejahatan, maka dampaknya juga akan kembali kepada dirinya.
Ayat ini juga menyebutkan bahwa ketika kerusakan kembali terjadi, maka hukuman Allah dapat kembali datang sebagai konsekuensi dari perbuatan tersebut.
Sebagian mufasir berpendapat bahwa bagian akhir ayat ini merujuk pada peristiwa yang sudah terjadi dalam sejarah masa lampau. Namun ada pula yang menilai bahwa ayat tersebut masih berkaitan dengan peristiwa yang akan terjadi di masa depan.
Perbedaan pandangan ini muncul karena cara membaca sejarah dan konteks tafsir yang berbeda.
Perbedaan Istilah Bani Israil, Yahudi, dan Israel
Para ulama juga menekankan pentingnya membedakan beberapa istilah yang sering dianggap sama.
Bani Israil adalah keturunan Nabi Yaqub secara genealogis. Yahudi merujuk pada pengikut agama Yahudi. Sementara Israel adalah nama negara modern yang berdiri pada abad ke-20.
Mencampuradukkan ketiga istilah tersebut dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun sejarah.
Dalam Al-Qur’an sendiri, pembahasan tentang Bani Israil tidak hanya berisi teguran, tetapi juga mengingatkan bahwa mereka pernah mendapatkan berbagai nikmat dari Allah.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam tidak ditentukan oleh keturunan atau identitas suatu bangsa.
Sebaliknya, kemuliaan ditentukan oleh iman, ketaatan, dan amal saleh yang dilakukan oleh manusia.
Karena itu, kisah Bani Israil dalam Al-Qur’an sering dipahami sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia tentang bagaimana ketaatan dapat membawa kemuliaan, sementara kesombongan dan kezaliman dapat membawa kehancuran.
Editor : Divka Vance Yandriana