Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Konflik Palestina: Dari Janji Tanah Suci hingga Lahirnya Zionisme dan Negara Israel

Divka Vance Yandriana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 19:40 WIB

Sejarah konflik Palestina dari kisah Bani Israil hingga lahirnya Zionisme dan berdirinya Israel pada 1948.
Sejarah konflik Palestina dari kisah Bani Israil hingga lahirnya Zionisme dan berdirinya Israel pada 1948.

JAKARTASejarah konflik Palestina merupakan salah satu persoalan geopolitik paling panjang dan kompleks dalam sejarah dunia. Wilayah kecil di Timur Tengah ini telah menjadi pusat perhatian internasional selama ribuan tahun karena nilai religius, sejarah, dan politik yang melekat padanya.

Bagi umat Islam, Palestina memiliki kedudukan penting karena di wilayah ini berdiri Masjid Al-Aqsa, salah satu situs suci dalam Islam. Selain itu, tanah Palestina juga disebut dalam berbagai kisah para nabi dalam Al-Qur’an, termasuk kisah kaum Bani Israil yang pernah diperintahkan untuk memasuki tanah suci tersebut.

Dalam Al-Qur’an, salah satu ayat yang sering dikaitkan dengan sejarah Bani Israil terdapat dalam Surah Al-Maidah ayat 21. Ayat tersebut menyebutkan perintah kepada Bani Israil untuk memasuki tanah yang telah ditetapkan bagi mereka.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Namun dalam perjalanan sejarahnya, wilayah ini tidak hanya menjadi tempat yang penuh nilai spiritual, tetapi juga arena konflik panjang antar bangsa dan kekuatan politik.

Palestina dalam Sejarah Para Nabi

Dalam tradisi Islam, wilayah Palestina dikenal sebagai tanah para nabi. Beberapa tokoh penting yang dikaitkan dengan wilayah ini antara lain Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, hingga Nabi Sulaiman.

Kota Yerusalem sejak lama menjadi pusat peradaban dan tempat berdirinya berbagai situs keagamaan penting bagi tiga agama besar dunia: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Menurut catatan sejarah, setelah kehancuran kerajaan Yahudi kuno oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M, banyak orang Yahudi menyebar ke berbagai wilayah dunia. Peristiwa ini dikenal sebagai diaspora Yahudi.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Sejak saat itu, komunitas Yahudi hidup di berbagai negara di Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah selama berabad-abad.

Kehidupan Diaspora Yahudi

Selama masa diaspora, komunitas Yahudi mengalami berbagai kondisi sosial yang berbeda di setiap wilayah tempat mereka tinggal. Di beberapa negara Eropa, mereka menghadapi diskriminasi dan pembatasan sosial.

Namun dalam sejumlah wilayah yang berada di bawah pemerintahan Islam, komunitas Yahudi mendapatkan perlindungan sebagai kelompok minoritas. Dalam sistem pemerintahan Islam klasik, mereka dikenal sebagai kelompok dzimmi yang memiliki hak perlindungan atas agama, harta, dan kehidupan mereka.

Beberapa sejarawan mencatat bahwa masa keemasan intelektual Yahudi pernah terjadi di wilayah Andalusia ketika kawasan tersebut berada di bawah kekuasaan Islam.

Baca Juga: Cara Lapor SPT Tahunan 2026 di Coretax DJP Sebelum 31 Maret, Panduan Lengkap agar Terhindar dari Denda Pajak

Munculnya Gerakan Zionisme

Memasuki abad ke-19, muncul sebuah gerakan politik yang dikenal dengan nama Zionisme. Gerakan ini muncul di Eropa dengan tujuan mendirikan tanah air bagi bangsa Yahudi.

Salah satu tokoh penting dalam gerakan ini adalah Theodor Herzl yang dianggap sebagai bapak Zionisme modern. Ia mengorganisasi Kongres Zionis pertama pada tahun 1897 yang membahas rencana pendirian negara Yahudi di Palestina.

Gerakan Zionisme mendapatkan momentum besar setelah keluarnya Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Deklarasi yang dikeluarkan pemerintah Inggris tersebut menyatakan dukungan terhadap pembentukan “tanah air nasional bagi bangsa Yahudi” di Palestina.

Saat itu Palestina masih berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Utsmaniyah sebelum akhirnya jatuh setelah berakhirnya Perang Dunia I.

Lahirnya Negara Israel

Setelah Perang Dunia I, Palestina berada di bawah mandat Inggris. Pada periode ini gelombang migrasi Yahudi ke Palestina meningkat secara signifikan.

Ketegangan antara penduduk Arab Palestina dan para imigran Yahudi pun semakin meningkat.

Situasi menjadi semakin kompleks setelah tragedi Holocaust pada masa Perang Dunia II yang menyebabkan jutaan orang Yahudi menjadi korban pembantaian di Eropa.

Peristiwa tersebut mendorong meningkatnya dukungan internasional terhadap gagasan pendirian negara Yahudi.

Pada tahun 1948, negara Israel secara resmi diproklamasikan. Deklarasi ini memicu konflik bersenjata dengan negara-negara Arab di sekitarnya dan menjadi awal dari rangkaian konflik panjang di kawasan tersebut.

Konflik yang Masih Berlanjut

Sejak berdirinya Israel, konflik di Palestina terus berlangsung hingga saat ini. Persoalan wilayah, status Yerusalem, serta hak pengungsi Palestina menjadi beberapa isu utama yang belum terselesaikan.

Wilayah Palestina, khususnya Gaza dan Tepi Barat, masih menjadi pusat ketegangan politik dan kemanusiaan yang mendapat perhatian luas dari masyarakat internasional.

Bagi banyak kalangan, konflik Palestina bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga berkaitan dengan sejarah panjang, identitas bangsa, dan nilai-nilai keagamaan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Editor : Divka Vance Yandriana
#bani israil #konflik palestina #zionis