JAKARTA – Kajian tentang genealogi Bani Israil menurut Al-Qur’an kembali menjadi perhatian publik setelah disampaikan oleh pendakwah Indonesia, Adi Hidayat. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan asal-usul keturunan Yahudi melalui penelusuran garis keluarga para nabi mulai dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Yaqub.
Penjelasan mengenai genealogi Bani Israil menurut Al-Qur’an ini muncul dalam konteks diskusi mengenai sejarah umat manusia dan keterkaitannya dengan peristiwa global, termasuk konflik yang terjadi di wilayah Palestina. Menurutnya, memahami asal-usul keturunan suatu umat dapat membantu masyarakat melihat sejarah secara lebih objektif.
Dalam kajian tersebut, Adi Hidayat menekankan bahwa genealogi Bani Israil menurut Al-Qur’an harus dipahami berdasarkan sumber-sumber keislaman seperti Al-Qur’an, hadis, dan literatur sejarah klasik.
Garis Keturunan dari Nabi Ibrahim
Dalam penjelasannya, Adi Hidayat memulai kajian dari sosok yang dikenal sebagai “Abul Anbiya” atau bapak para nabi, yakni Nabi Ibrahim.
Menurutnya, Nabi Ibrahim merupakan keturunan dari garis nabi sebelumnya yang bersambung hingga Nabi Nuh dan pada akhirnya kembali kepada manusia pertama, yaitu Nabi Adam.
Ia menjelaskan bahwa dari keturunan Nabi Nuh terdapat tiga garis besar manusia yang berkembang di berbagai wilayah dunia. Salah satu garis tersebut berasal dari putra Nabi Nuh bernama Sam yang kemudian melahirkan kelompok yang dikenal sebagai bangsa-bangsa Semitik.
Bangsa Semitik ini mencakup berbagai kelompok masyarakat di Timur Tengah, termasuk bangsa Arab dan keturunan yang kemudian dikenal sebagai Bani Israil.
Anak-anak Nabi Ibrahim
Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim memiliki beberapa istri yang melahirkan keturunan berbeda. Dua tokoh yang paling dikenal adalah Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.
Nabi Ismail merupakan putra dari Hajar dan dikenal sebagai leluhur bangsa Arab. Dari garis ini kemudian lahir keturunan yang berujung pada Nabi terakhir dalam Islam, yakni Nabi Muhammad.
Sementara itu, Nabi Ishaq adalah putra Nabi Ibrahim dari Sarah. Dari garis Nabi Ishaq inilah kemudian lahir keturunan yang berlanjut kepada Nabi Yaqub.
Nabi Yaqub dan Asal Istilah Bani Israil
Dalam kajian tersebut, Adi Hidayat menjelaskan bahwa nama Israel merujuk pada gelar yang diberikan kepada Nabi Yaqub.
Dalam bahasa Ibrani, kata “Isra” diartikan sebagai hamba, sedangkan “Il” merujuk kepada Tuhan. Dengan demikian, Israel dapat dimaknai sebagai “hamba Allah”.
Nabi Yaqub sendiri memiliki 12 anak yang kemudian menjadi cikal bakal suku-suku Bani Israil. Dari kedua belas anak inilah lahir berbagai generasi yang menyebar di berbagai wilayah.
Salah satu putra Nabi Yaqub yang terkenal adalah Nabi Yusuf. Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an menggambarkan perjalanan hidupnya yang penuh ujian hingga akhirnya menjadi tokoh penting di Mesir.
Menurut Adi Hidayat, istilah Bani Israil pada awalnya memiliki konotasi positif karena merujuk kepada keturunan Nabi Yaqub yang saleh.
Pentingnya Memahami Sejarah Secara Objektif
Adi Hidayat menegaskan bahwa Al-Qur’an menyampaikan kisah para nabi sebagai pelajaran bagi umat manusia. Ia juga mengingatkan bahwa sejarah harus dipahami secara ilmiah dan tidak digunakan untuk menimbulkan permusuhan antar umat.
Menurutnya, Al-Qur’an justru mendorong manusia untuk meneliti dan mengkaji kebenaran secara objektif.
Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an bahkan menantang manusia untuk menguji kebenaran isi wahyu jika masih meragukannya.
Karena itu, memahami sejarah keturunan para nabi bukan hanya bertujuan mengetahui asal-usul suatu bangsa, tetapi juga untuk mengambil hikmah dari perjalanan umat manusia sepanjang zaman.
Kajian tentang genealogi Bani Israil menurut Al-Qur’an ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan masyarakat mengenai sejarah keagamaan, sekaligus memahami hubungan antara berbagai kelompok manusia yang berkembang di dunia.
Editor : Divka Vance Yandriana