JAKARTA – Kebencian terhadap orang Yahudi yang dikenal dengan istilah antisemitisme tidak muncul tiba-tiba pada masa rezim Nazi di Jerman. Para sejarawan menyebut bahwa sentimen anti-Yahudi sudah berkembang di Eropa selama berabad-abad sebelum munculnya rezim Adolf Hitler pada abad ke-20.
Sejarah panjang diskriminasi ini menjadi salah satu faktor yang kemudian dimanfaatkan oleh propaganda Nazi ketika mereka berkuasa di Jerman.
Diskriminasi Sejak Zaman Yunani dan Romawi
Menurut berbagai catatan sejarah, konflik sosial antara komunitas Yahudi dan masyarakat mayoritas sudah terjadi sejak era Yunani dan Romawi kuno.
Komunitas Yahudi dikenal menganut kepercayaan monoteisme, yaitu menyembah satu Tuhan. Hal ini berbeda dengan kepercayaan politeistik yang umum di dunia Yunani dan Romawi pada masa itu.
Perbedaan keyakinan tersebut sering membuat komunitas Yahudi dianggap tidak mengikuti tradisi keagamaan negara. Dalam beberapa periode, mereka bahkan dikenai pajak tambahan atau pembatasan tertentu oleh penguasa Romawi.
Situasi ini membuat komunitas Yahudi sering hidup sebagai kelompok minoritas yang terpisah dari masyarakat mayoritas.
Narasi Antisemit di Abad Pertengahan
Sentimen anti-Yahudi semakin berkembang ketika agama Kristen menjadi agama dominan di Eropa pada abad pertengahan.
Beberapa interpretasi teologis pada masa itu menyalahkan orang Yahudi atas kematian Yesus Kristus. Meskipun pandangan ini kemudian banyak ditolak oleh teolog modern, narasi tersebut sempat memicu diskriminasi luas terhadap komunitas Yahudi selama berabad-abad.
Pada masa ini orang Yahudi sering menghadapi berbagai pembatasan sosial. Mereka tidak diperbolehkan menduduki jabatan pemerintahan, bergabung dengan militer, atau menjadi anggota serikat pekerja di banyak wilayah Eropa.
Selain itu muncul pula berbagai tuduhan tidak berdasar, seperti mitos “blood libel”, yaitu tuduhan bahwa orang Yahudi melakukan ritual dengan mengorbankan anak-anak Kristen. Tuduhan semacam ini sering memicu kekerasan terhadap komunitas Yahudi di berbagai kota Eropa.
Ghetto dan Isolasi Sosial
Dalam beberapa wilayah Eropa, komunitas Yahudi juga dipaksa tinggal di kawasan khusus yang disebut ghetto.
Mereka sering diwajibkan memakai tanda pengenal khusus agar mudah dibedakan dari penduduk lainnya. Praktik ini memperkuat isolasi sosial antara komunitas Yahudi dan masyarakat mayoritas.
Karena banyak profesi tertutup bagi mereka, sebagian komunitas Yahudi akhirnya bekerja di bidang perdagangan, keuangan, atau peminjaman uang.
Beberapa di antaranya berhasil mencapai kesuksesan ekonomi. Namun keberhasilan ini kadang memicu kecemburuan sosial dan melahirkan berbagai teori konspirasi tentang dominasi ekonomi oleh orang Yahudi.
Narasi tersebut kemudian berkembang luas di berbagai negara Eropa.
Ideologi Rasial dan Teori Eugenika
Memasuki abad ke-19 dan awal abad ke-20, gagasan antisemitisme mulai berubah dari isu agama menjadi isu ras.
Pada masa ini muncul teori pseudoscience yang dikenal sebagai Eugenics. Teori ini mengklaim bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam ras-ras yang memiliki sifat biologis tertentu.
Sebagian pendukung teori ini berpendapat bahwa ada ras yang dianggap lebih unggul dibandingkan ras lainnya. Meskipun kemudian terbukti tidak ilmiah, gagasan tersebut sempat populer di Eropa dan Amerika pada awal abad ke-20.
Ide-ide rasial semacam ini kemudian mempengaruhi ideologi Nazi.
Pengaruh Lingkungan terhadap Hitler
Banyak sejarawan percaya bahwa pemikiran antisemit Hitler dipengaruhi oleh pengalaman masa mudanya di kota Wina, Austria.
Pada masa itu Wina dipimpin oleh walikota Karl Lueger yang dikenal menggunakan retorika antisemit dalam kampanye politiknya.
Lingkungan politik tersebut diyakini ikut membentuk pandangan Hitler tentang nasionalisme Jerman dan antisemitisme.
Ketika kemudian bergabung dengan partai yang kelak menjadi Partai Nazi, Hitler mulai menggunakan propaganda anti-Yahudi untuk mendapatkan dukungan politik.
Ia menuduh orang Yahudi sebagai penyebab berbagai masalah Jerman, termasuk kekalahan dalam Perang Dunia I dan krisis ekonomi yang melanda negara itu.
Kebijakan Nazi dan Holocaust
Ketika Hitler menjadi pemimpin Jerman pada 1933, kebijakan antisemitisme mulai dilembagakan oleh negara.
Orang Yahudi dilarang bekerja di banyak sektor, dipisahkan dari masyarakat umum, dan dipaksa tinggal di ghetto. Mereka juga diwajibkan memakai simbol bintang Daud sebagai tanda identitas.
Diskriminasi ini akhirnya berkembang menjadi kebijakan genosida yang dikenal sebagai Holocaust.
Selama Perang Dunia II, sekitar enam juta orang Yahudi terbunuh akibat kebijakan Nazi melalui kamp konsentrasi, eksekusi massal, dan kelaparan.
Pelajaran dari Sejarah
Para sejarawan menilai tragedi Holocaust menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari bahaya propaganda kebencian dan rasisme yang dilembagakan oleh negara.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat penting tentang bagaimana stereotip, teori konspirasi, dan diskriminasi yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi kekerasan massal.
Editor : Divka Vance Yandriana