Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Panjang Kebencian terhadap Yahudi: Dari Diaspora, Antisemitisme Eropa, hingga Konflik Israel–Palestina

Divka Vance Yandriana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 19:30 WIB

Sejarah panjang antisemitisme: dari diaspora Yahudi, konflik di Eropa, hingga dampaknya pada konflik Israel–Palestina modern.
Sejarah panjang antisemitisme: dari diaspora Yahudi, konflik di Eropa, hingga dampaknya pada konflik Israel–Palestina modern.

JAKARTA – Sejarah kebencian terhadap Yahudi atau antisemitisme merupakan fenomena yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Dalam berbagai periode sejarah, komunitas Yahudi mengalami pengusiran, diskriminasi, hingga kekerasan massal di banyak wilayah dunia. Namun para sejarawan menilai fenomena ini tidak bisa dijelaskan secara sederhana karena berkaitan dengan faktor agama, politik, ekonomi, dan identitas sosial.

Dalam literatur sejarah, istilah antisemitisme mulai populer di Eropa pada abad ke-19. Namun sentimen negatif terhadap Yahudi sebenarnya sudah muncul jauh lebih awal, bahkan sejak masa kekaisaran kuno di Timur Tengah dan Mediterania.

Banyak peneliti menyebut bahwa komunitas Yahudi memiliki karakter sosial yang unik. Mereka sering mempertahankan identitas budaya dan agama yang kuat meskipun hidup sebagai minoritas di berbagai negara. Hal ini membuat mereka tetap bertahan sebagai komunitas diaspora selama berabad-abad.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Diaspora Yahudi dan Konflik Sejarah

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Yahudi adalah penghancuran Yerusalem oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M. Setelah pemberontakan Yahudi dipadamkan, banyak orang Yahudi diusir dari wilayah Palestina dan menyebar ke berbagai wilayah Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat.

Peristiwa ini dikenal sebagai awal diaspora Yahudi, yaitu penyebaran komunitas Yahudi ke berbagai negara di dunia.

Selama masa diaspora, komunitas Yahudi sering hidup sebagai minoritas yang mempertahankan hukum agama, bahasa, dan tradisi mereka sendiri. Di satu sisi, hal ini membantu mereka menjaga identitas budaya. Namun di sisi lain, perbedaan tersebut kadang memicu kecurigaan dari masyarakat mayoritas.

Baca Juga: Kenapa Israel Sangat Menginginkan Palestina? Ceramah Ustaz Abdul Somad Ungkap Keyakinan Zionis, Mesiah hingga Al-Masih Dajjal

Sejarawan mencatat bahwa di banyak wilayah Eropa abad pertengahan, orang Yahudi sering dibatasi dalam pekerjaan tertentu, terutama di sektor perdagangan dan keuangan. Kondisi ini terjadi karena banyak profesi lain tertutup bagi mereka akibat aturan sosial dan keagamaan pada masa itu.

Antisemitisme di Eropa Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan, muncul berbagai tuduhan dan mitos terhadap komunitas Yahudi yang kemudian memperkuat sentimen antisemitisme.

Beberapa di antaranya adalah tuduhan blood libel, yaitu mitos bahwa Yahudi menggunakan darah anak-anak Kristen untuk ritual tertentu. Tuduhan ini tidak memiliki bukti sejarah yang kuat, tetapi sempat memicu kekerasan terhadap komunitas Yahudi di berbagai kota Eropa.

Selain itu, pada masa wabah Black Death abad ke-14, banyak komunitas Yahudi juga dijadikan kambing hitam. Mereka dituduh meracuni sumur atau menyebarkan penyakit, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Baca Juga: Cara Lapor SPT Tahunan 2026 di Coretax DJP Sebelum 31 Maret, Panduan Lengkap agar Terhindar dari Denda Pajak

Akibatnya, ratusan komunitas Yahudi di Eropa mengalami pogrom, yaitu serangan brutal yang sering kali didukung oleh otoritas lokal.

Holocaust dan Puncak Antisemitisme Modern

Sentimen antisemitisme mencapai puncaknya pada abad ke-20 ketika rezim Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler melakukan kebijakan diskriminasi dan genosida terhadap Yahudi.

Melalui propaganda dan hukum rasial, pemerintah Nazi menggambarkan Yahudi sebagai ancaman bagi bangsa Jerman. Kebijakan ini kemudian berkembang menjadi tragedi Holocaust, di mana sekitar enam juta orang Yahudi terbunuh selama Perang Dunia II.

Holocaust menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern dan mengubah cara dunia memandang antisemitisme.

Lahirnya Negara Israel dan Konflik Modern

Setelah Perang Dunia II, dukungan internasional terhadap pembentukan negara Yahudi semakin kuat. Pada tahun 1948, berdirilah negara Israel di wilayah yang sebelumnya menjadi bagian dari Palestina Mandat Inggris.

Namun pembentukan negara ini juga memicu konflik berkepanjangan dengan rakyat Palestina yang telah tinggal di wilayah tersebut selama berabad-abad.

Konflik antara Israel dan Palestina kemudian berkembang menjadi salah satu konflik geopolitik paling kompleks di dunia hingga saat ini.

Perspektif Beragam dalam Sejarah

Para sejarawan menekankan bahwa sejarah Yahudi tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang. Dalam perjalanan sejarah, komunitas Yahudi pernah menjadi korban diskriminasi berat, namun mereka juga berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan budaya di banyak negara.

Perdebatan tentang sejarah, politik, dan konflik modern masih terus berlangsung hingga sekarang. Oleh karena itu, memahami konteks sejarah secara utuh menjadi langkah penting untuk melihat persoalan ini secara lebih objektif.

Editor : Divka Vance Yandriana
#antisemitisme #konflik Eropa #yahudi