JAKARTA – Perdebatan mengenai apakah Allah Yahudi dan Islam sama kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah diskusi panjang antara seorang narasumber Yahudi dan seorang podcaster viral di media sosial. Dalam percakapan tersebut, mereka membahas secara mendalam konsep ketuhanan, praktik ibadah, hingga pandangan teologis antara Yahudi, Islam, dan Kristen.
Topik utama yang menjadi perhatian adalah pertanyaan klasik: apakah Allah yang disembah umat Yahudi dan Islam sama? Narasumber yang berasal dari komunitas Yahudi menjelaskan bahwa dalam banyak aspek teologis, konsep Tuhan dalam Yudaisme memiliki kesamaan mendasar dengan konsep tauhid dalam Islam.
Menurutnya, baik Yahudi maupun Islam sama-sama menolak konsep Tuhan yang berwujud manusia. Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Yahudi, menggambarkan Tuhan dalam bentuk manusia merupakan pelanggaran terhadap ajaran Taurat.
“Dalam pemahaman Yahudi, Tuhan tidak memiliki bentuk. Tidak boleh ada patung, gambar, atau ikon yang menggambarkan Tuhan. Itu dianggap sebagai penyembahan berhala,” jelasnya dalam diskusi tersebut.
Masjid Dianggap Tempat Menyembah Tuhan Yang Esa
Menariknya, dalam percakapan tersebut juga dibahas bahwa seorang Yahudi diperbolehkan beribadah di masjid jika tidak menemukan sinagoga. Hal ini karena masjid dianggap sebagai tempat penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa tanpa praktik penyembahan berhala.
Sebaliknya, ia menyebut sebagian komunitas Yahudi memiliki batasan ketika memasuki gereja karena di dalamnya terdapat simbol atau ikon yang dianggap mendekati praktik penyembahan berhala.
Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Yahudi, adanya patung atau gambar yang dikaitkan dengan objek ibadah bisa dianggap sebagai bentuk avoda zarah, yaitu penyembahan kepada sesuatu selain Tuhan.
“Di masjid tidak ada patung, tidak ada gambar manusia yang disembah. Karena itu secara teologis lebih dekat dengan konsep ibadah dalam Yahudi,” katanya.
Kesamaan Nama Tuhan dalam Bahasa Semitik
Diskusi tersebut juga menyinggung kesamaan istilah Tuhan dalam bahasa Semitik. Dalam bahasa Ibrani, Tuhan sering disebut dengan berbagai gelar seperti Hasyem, Elion, atau Hakadosh, yang menggambarkan sifat-sifat Tuhan.
Narasumber menjelaskan bahwa istilah-istilah tersebut memiliki makna yang mirip dengan sifat Tuhan dalam Islam seperti Subhanahu wa Ta’ala atau Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
“Bahasa Ibrani dan Arab berasal dari rumpun bahasa Semitik. Jadi banyak istilah yang sebenarnya memiliki akar makna yang sama,” jelasnya.
Ia bahkan menunjukkan bahwa dalam beberapa terjemahan Taurat ke bahasa Arab, kata yang digunakan untuk menyebut Tuhan adalah Allah.
Hal ini memperkuat pandangan bahwa secara linguistik dan teologis, konsep ketuhanan Yahudi dan Islam memiliki banyak titik temu.
Perbedaan Dengan Konsep Ketuhanan Kristen
Dalam diskusi tersebut, perbedaan paling mencolok muncul ketika membahas konsep ketuhanan dalam Kekristenan. Narasumber menyatakan bahwa Yudaisme tidak menerima konsep Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
Ia menegaskan bahwa Taurat secara tegas melarang penyembahan terhadap manusia atau objek fisik yang dianggap sebagai representasi Tuhan.
Karena itu, konsep Yesus sebagai Tuhan dalam teologi Kristen tidak sejalan dengan pemahaman Yahudi maupun Islam.
“Dalam Taurat disebutkan bahwa Tuhan bukan manusia. Jadi gagasan Tuhan menjadi manusia bertentangan dengan prinsip itu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam tradisi Yahudi, keselamatan manusia tidak bergantung pada pengorbanan seseorang, melainkan pada perbuatan dan ketaatan terhadap hukum Tuhan.
Diskusi Teologis yang Memicu Perdebatan
Percakapan tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Banyak warganet menilai dialog seperti ini penting untuk memahami perbedaan dan persamaan antaragama secara lebih objektif.
Namun sebagian lainnya mengingatkan agar diskusi teologis dilakukan secara hati-hati karena menyangkut keyakinan yang sangat sensitif bagi umat beragama.
Terlepas dari perdebatan yang muncul, diskusi tersebut membuka ruang baru bagi masyarakat untuk memahami bahwa sejarah dan konsep ketuhanan dalam agama-agama Abrahamik memiliki keterkaitan yang kompleks.
Satu hal yang menjadi kesimpulan dalam diskusi itu adalah bahwa Allah Yahudi dan Islam sama-sama dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa, meskipun interpretasi teologis dan praktik keagamaannya tetap memiliki perbedaan mendasar.
Editor : Divka Vance Yandriana