JAKARTA - Perbedaan Islam Sunni dan Syiah kerap menjadi topik yang ramai dibahas dalam sejarah dan pemikiran Islam. Secara kasat mata, penganut kedua aliran ini memang sulit dibedakan. Mereka sama-sama menjalankan ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Namun jika ditelusuri lebih jauh, terdapat sejumlah perbedaan mendasar terutama dalam hal akidah, kepemimpinan, serta sumber ajaran.
Islam sendiri merupakan agama terbesar kedua di dunia dengan jumlah umat mencapai sekitar 1,9 miliar jiwa. Dari jumlah tersebut, mayoritas umat Islam merupakan pengikut Sunni, sedangkan Syiah menjadi kelompok terbesar kedua dalam komunitas Muslim global.
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah tidak hanya berkaitan dengan sejarah politik awal Islam, tetapi juga menyentuh aspek teologi seperti rukun iman, rukun Islam, hingga pandangan terhadap kepemimpinan umat.
Perbedaan Rukun Islam
Salah satu perbedaan mendasar antara Islam Sunni dan Syiah terletak pada konsep rukun Islam.
Dalam ajaran Islam Sunni, rukun Islam terdiri dari lima perkara, yaitu:
-
Mengucapkan dua kalimat syahadat
-
Menegakkan salat
-
Menunaikan zakat
-
Berpuasa di bulan Ramadan
-
Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu
Konsep ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan tercatat dalam kitab hadis sahih seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Sementara itu, dalam ajaran Syiah, rukun Islam juga berjumlah lima tetapi memiliki susunan yang berbeda. Rukun tersebut meliputi salat, puasa, zakat, haji, dan wilayah.
Istilah wilayah dalam ajaran Syiah merujuk pada keyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad merupakan ketetapan ilahi yang diberikan kepada para imam dari keturunan Nabi.
Perbedaan Rukun Iman
Selain rukun Islam, perbedaan Islam Sunni dan Syiah juga terlihat pada konsep rukun iman.
Dalam tradisi Sunni, rukun iman terdiri dari enam perkara, yaitu:
-
Iman kepada Allah
-
Iman kepada malaikat
-
Iman kepada kitab-kitab Allah
-
Iman kepada nabi dan rasul
-
Iman kepada hari akhir
-
Iman kepada takdir atau qada dan qadar
Konsep ini didasarkan pada hadis yang menjelaskan dialog Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad mengenai iman, Islam, dan ihsan.
Sebaliknya, dalam ajaran Syiah terdapat lima prinsip utama keimanan yang dikenal sebagai ushuluddin, yaitu tauhid, keadilan Tuhan, kenabian, imamah, dan hari kebangkitan.
Perbedaan ini menunjukkan adanya pendekatan teologis yang berbeda dalam memahami struktur keimanan dalam Islam.
Perbedaan Kalimat Syahadat
Perbedaan lain antara Islam Sunni dan Syiah juga terlihat pada bentuk kalimat syahadat.
Dalam tradisi Sunni, syahadat hanya terdiri dari dua kalimat yaitu pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Sementara itu, dalam sebagian tradisi Syiah terdapat tambahan kesaksian yang berkaitan dengan kedudukan Imam Ali sebagai wali Allah. Tambahan ini berkaitan dengan keyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam harus berada dalam garis keturunan keluarga Nabi.
Perbedaan Pandangan tentang Kepemimpinan
Konsep kepemimpinan menjadi salah satu aspek paling mendasar dalam perbedaan Islam Sunni dan Syiah.
Dalam pandangan Sunni, khalifah atau pemimpin umat Islam dipilih melalui musyawarah umat. Posisi ini lebih bersifat administratif dan politik.
Sebaliknya, dalam pandangan Syiah, kepemimpinan umat berada pada para imam dari keturunan Nabi Muhammad yang dianggap memiliki otoritas spiritual dan keagamaan.
Keyakinan terhadap para imam ini menjadi salah satu unsur penting dalam teologi Syiah.
Perbedaan Hadis dan Mazhab
Perbedaan juga terlihat pada sumber hadis dan mazhab yang digunakan.
Umat Sunni umumnya merujuk pada enam kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan An-Nasa’i.
Selain itu, terdapat empat mazhab fikih yang berkembang dalam tradisi Sunni, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Di sisi lain, komunitas Syiah memiliki koleksi hadis dan mazhab tersendiri yang berkembang dalam tradisi keilmuan mereka.
Perbedaan yang Tetap Ada dalam Sejarah
Perbedaan Islam Sunni dan Syiah telah berlangsung sejak masa awal sejarah Islam dan terus berkembang hingga saat ini.
Meski memiliki sejumlah perbedaan dalam teologi dan praktik keagamaan, kedua kelompok ini tetap berbagi keyakinan yang sama terhadap Al-Qur’an, Nabi Muhammad, serta prinsip dasar keimanan kepada Allah.
Perbedaan tersebut juga menjadi bagian dari dinamika intelektual dalam sejarah panjang peradaban Islam yang berkembang di berbagai wilayah dunia.
Editor : Divka Vance Yandriana