Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Analisis Ustaz Felix Siauw soal Konflik Israel Iran: Bukan Sekadar Agama, Ada Motif Ekonomi, Geopolitik hingga Isu Akhir Zaman

Divka Vance Yandriana • Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:30 WIB

Analisis Ustaz Felix Siauw soal konflik Israel Iran menyebut perang bukan sekadar agama, tapi terkait geopolitik, ekonomi, dan perebutan pengaruh.
Analisis Ustaz Felix Siauw soal konflik Israel Iran menyebut perang bukan sekadar agama, tapi terkait geopolitik, ekonomi, dan perebutan pengaruh.

JAKARTA - Analisis Ustaz Felix Siauw soal konflik Israel Iran kembali menjadi perbincangan publik setelah ia memaparkan pandangannya dalam sebuah podcast yang viral di media sosial. Dalam diskusi tersebut, Felix menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak bisa hanya dilihat sebagai perang agama semata, melainkan juga berkaitan dengan geopolitik global, perebutan sumber daya, hingga persaingan blok kekuatan dunia.

Menurut Felix, konflik antara Israel dan Iran selama ini sering dipersepsikan sebagai pertentangan ideologi atau agama. Namun jika ditelusuri lebih jauh, faktor utama yang memicu konflik justru berkaitan dengan kepentingan geopolitik dan pengaruh regional.

Dalam analisis Ustaz Felix Siauw soal konflik Israel Iran, ia menyebut bahwa Israel memiliki ambisi menjadi kekuatan dominan di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Update Transfer Pemain Asing Putri: Jakarta Pertamina Enduro Hadapi Beban Berat di Final For Proliga 2026

“Israel punya impian menjadi penguasa tunggal di kawasan itu. Salah satu negara yang dianggap menjadi penghalang terbesar adalah Iran,” kata Felix.

Ia menjelaskan bahwa setelah Irak dan Suriah mengalami konflik berkepanjangan, Iran menjadi salah satu kekuatan regional yang masih memiliki pengaruh besar di Timur Tengah.

Ambisi “Greater Israel”

Felix menyinggung konsep yang sering disebut sebagai “Greater Israel”. Konsep ini merujuk pada gagasan wilayah Israel yang diperluas hingga mencakup beberapa wilayah di Timur Tengah.

Dalam narasi tersebut, wilayah yang disebut meliputi area dari Sungai Eufrat hingga Sungai Nil. Artinya, beberapa negara seperti Lebanon, Yordania, Suriah, hingga sebagian wilayah Irak dan Iran masuk dalam cakupan tersebut.

Karena itulah, Iran dianggap sebagai hambatan bagi ambisi tersebut.

Baca Juga: Liga Champions 2026: Chelsea Tumbang di Paris, MU & Arsenal Berebut Transfer Tonali, Real Madrid Kembali Tunjukkan Dominasinya

“Selama Iran masih kuat, ambisi itu sulit terwujud,” ujar Felix dalam analisis Ustaz Felix Siauw soal konflik Israel Iran.

Ia menambahkan bahwa narasi mengenai ancaman nuklir Iran juga sering digunakan sebagai alasan politik untuk menekan negara tersebut di tingkat internasional.

Konflik Timur vs Barat

Felix juga menilai konflik ini tidak bisa dilepaskan dari persaingan kekuatan global antara blok Barat dan Timur.

Dalam pandangannya, dunia saat ini masih terbagi dalam dua kutub besar kekuatan.

Blok Barat dipimpin Amerika Serikat dan sekutunya, sementara blok Timur dipengaruhi oleh negara seperti Rusia dan China.

Iran, menurut Felix, cenderung berada di kubu Timur karena memiliki hubungan strategis dengan kedua negara tersebut.

“Ketika Iran diserang atau ditekan, reaksi pertama biasanya datang dari China atau Rusia,” jelasnya.

Baca Juga: Cara Pinjam Dana Kurban BRI 2026: Syarat Lengkap, Perlu Jaminan atau Tidak, Ini Panduan Resmi Pengajuannya

Ia menilai konflik yang terjadi di Timur Tengah sering kali menjadi bagian dari perang proksi antara dua blok kekuatan global tersebut.

Motif Ekonomi dan Sumber Daya

Selain faktor geopolitik, Felix juga menyoroti kepentingan ekonomi yang berada di balik konflik internasional.

Ia menyebut bahwa banyak konflik global pada akhirnya berkaitan dengan perebutan sumber daya alam, terutama energi.

Negara-negara besar, menurutnya, memiliki kepentingan untuk mengontrol sumber minyak dan jalur energi dunia.

Dalam konteks ini, kawasan Timur Tengah menjadi wilayah strategis karena memiliki cadangan energi yang sangat besar.

“Banyak narasi yang dibungkus dengan isu perdamaian, demokrasi, atau keamanan. Tapi sering kali motif aslinya adalah ekonomi dan geopolitik,” ujarnya.

Pandangan Islam tentang Jihad

Dalam kesempatan yang sama, Felix juga menyinggung konsep jihad dalam Islam yang sering disalahpahami di dunia Barat.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, jihad bukanlah ekspansi untuk menguasai wilayah atau sumber daya.

Ia menjelaskan bahwa jihad dalam konteks syariat lebih berkaitan dengan menghilangkan hambatan bagi penyampaian dakwah.

“Di dalam konteks Islam, jihad digunakan untuk menghilangkan halangan fisik bagi dakwah, bukan untuk ekspansi ekonomi atau kekuasaan,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai narasi yang menyebut Islam sebagai agama ekspansionis sering kali tidak sesuai dengan konteks sejarah.

Dikaitkan dengan Isu Akhir Zaman

Menariknya, dalam diskusi tersebut Felix juga menyinggung beberapa hadis yang berkaitan dengan tanda-tanda akhir zaman.

Salah satu hadis menyebut bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi dari wilayah Isfahan, yang kini berada di Iran.

Felix mengaitkan informasi tersebut dengan beberapa berita geopolitik yang beredar, meskipun ia menegaskan bahwa hal tersebut masih berupa kemungkinan dan tidak bisa dipastikan.

“Kita tidak bisa memastikan, tapi ada beberapa peristiwa yang kadang terasa seperti memiliki keterkaitan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa umat Islam sebaiknya tidak terburu-buru menarik kesimpulan atas setiap peristiwa politik yang terjadi.

Konflik yang Terus Berkembang

Felix menilai konflik di Timur Tengah kemungkinan masih akan berlangsung lama karena melibatkan banyak kepentingan global.

Selain faktor regional, persaingan antara Amerika Serikat dan China juga dinilai ikut memengaruhi dinamika politik internasional.

Ia berharap konflik tersebut tidak berkembang menjadi perang dunia yang lebih besar.

“Yang paling penting kita berharap konflik ini tidak meluas dan tidak membawa dunia pada perang yang lebih besar,” ujarnya.

Diskusi tersebut menjadi viral karena memadukan analisis geopolitik, perspektif agama, serta refleksi sejarah dalam melihat konflik yang sedang berlangsung.

Editor : Divka Vance Yandriana
#geopolitik #iran #Israeal