JAKARTA – Ceramah Gus Baha tentang tobat dan istighfar kembali viral di media sosial. Dalam pengajian yang beredar luas di YouTube dan berbagai platform digital, ulama asal Rembang itu menjelaskan perbedaan konsep tobat antara umat Nabi Muhammad dan umat Nabi Musa.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad termasuk umat yang dimuliakan Allah karena proses tobatnya tidak seberat umat terdahulu. Menurutnya, cukup dengan istighfar yang tulus, seorang Muslim sudah bisa memohon ampun kepada Allah.
Penjelasan ceramah Gus Baha tentang tobat dan istighfar tersebut menarik perhatian banyak jamaah karena disampaikan dengan gaya santai, penuh humor, namun tetap sarat pesan keagamaan.
Tobat Umat Nabi Musa Sangat Berat
Gus Baha menjelaskan bahwa dalam sejarah Bani Israel, bentuk tobat pernah sangat berat. Salah satu contohnya adalah ketika kaum Nabi Musa melakukan kesalahan besar dengan menyembah patung anak sapi.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tobat mereka dilakukan dengan cara ekstrem, yaitu saling membunuh di antara mereka sebagai bentuk penebusan dosa.
Menurut Gus Baha, hal ini menunjukkan bahwa syariat pada masa itu memiliki konsekuensi yang sangat berat bagi pelanggaran tertentu.
“Kaumnya Nabi Musa kalau tobat itu sampai diperintah membunuh diri sendiri. Itu berat sekali,” jelasnya.
Ia kemudian membandingkan dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad.
Umat Nabi Muhammad Cukup Istighfar
Berbeda dengan Bani Israel, umat Nabi Muhammad disebut sebagai “ummatun marhumah”, yaitu umat yang mendapatkan banyak rahmat dari Allah.
Karena itu, cara tobatnya jauh lebih ringan.
Menurut Gus Baha, umat Islam cukup membaca istighfar dengan penuh kesadaran dan penyesalan atas dosa yang telah dilakukan.
Ia juga menegaskan bahwa kemudahan ini seharusnya membuat umat Islam semakin bersyukur.
“Umat Nabi Muhammad itu dimudahkan. Tobatnya cukup istighfar,” kata Gus Baha.
Namun ia mengingatkan agar istighfar tidak dilakukan sekadar formalitas.
Istighfar harus disertai kesadaran bahwa manusia memiliki banyak dosa sekaligus tetap mengingat nikmat Allah.
Jangan Hanya Mengingat Dosa
Dalam ceramahnya, Gus Baha juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak hanya mengingat dosa semata.
Menurutnya, terlalu fokus pada dosa justru bisa menjadi jebakan setan yang membuat seseorang kehilangan semangat berbuat baik.
Ia mencontohkan bahwa seseorang mungkin pernah melakukan kesalahan, tetapi di sisi lain tetap menjalankan banyak kebaikan seperti salat, sedekah, dan menolong orang lain.
“Kalau hanya ingat dosa terus, orang bisa kehilangan semangat berbuat baik,” ujarnya.
Karena itu, seorang Muslim harus mampu menyeimbangkan antara penyesalan atas dosa dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Pentingnya Mengingat Nikmat Allah
Gus Baha menjelaskan bahwa dalam doa Sayyidul Istighfar, terdapat ajaran penting mengenai keseimbangan tersebut.
Dalam doa itu, seorang hamba mengakui dosa sekaligus mengakui nikmat yang diberikan Allah.
Menurutnya, sikap ini menunjukkan kerendahan hati sekaligus rasa syukur kepada Tuhan.
Dengan cara itu, seseorang tidak hanya terfokus pada kesalahan, tetapi juga menyadari bahwa hidupnya penuh dengan karunia.
“Kalau hanya menyebut dosa saja, seolah-olah kita mengabaikan nikmat Allah,” jelasnya.
Kisah Ulama dan Sahabat Nabi
Dalam ceramahnya, Gus Baha juga menyampaikan berbagai kisah ulama dan sahabat Nabi yang sarat hikmah.
Ia menyinggung kisah ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap mempertahankan keyakinannya tentang Al-Qur’an sebagai kalam Allah meski mengalami tekanan berat.
Selain itu, ia juga menyebut kisah tokoh humor dalam sejarah Islam seperti Abu Nawas dan sahabat Nabi bernama Nu’aiman yang dikenal suka bercanda namun tetap memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasul.
Menurut Gus Baha, kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki karakter yang beragam.
Tidak semua orang sempurna, tetapi selama masih mencintai Allah dan Rasul-Nya, masih ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Pesan Gus Baha untuk Umat Islam
Di akhir ceramahnya, Gus Baha mengajak umat Islam untuk lebih banyak bersyukur atas kemudahan yang diberikan dalam syariat Nabi Muhammad.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah putus asa dari rahmat Allah.
Menurutnya, selama seseorang masih mau beristighfar dan memperbaiki diri, pintu ampunan Allah selalu terbuka.
Pesan ini menjadi salah satu alasan mengapa ceramah Gus Baha sering viral dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Selain disampaikan dengan bahasa sederhana, ceramah tersebut juga menghadirkan perspektif keislaman yang menenangkan dan penuh hikmah
Editor : Divka Vance Yandriana