JAKARTA - Perbedaan antara Sunni dan Syiah menjadi salah satu topik paling sering dibahas dalam sejarah Islam. Perpecahan Sunni dan Syiah bukan sekadar persoalan teologi, tetapi juga berkaitan erat dengan konflik politik dan kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Secara global, umat Islam merupakan kelompok agama terbesar kedua di dunia. Data World Population Review mencatat jumlah muslim mencapai lebih dari 1,9 miliar orang atau sekitar 24,7 persen populasi dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 87 hingga 90 persen merupakan Sunni, sementara 10 hingga 13 persen lainnya adalah Syiah.
Meski sama-sama berpegang pada Alquran dan ajaran Nabi Muhammad SAW, sejarah mencatat bahwa perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat menjadi awal mula perpecahan Sunni dan Syiah yang berlangsung hingga kini.
Awal Mula Perpecahan Sunni dan Syiah
Akar konflik Sunni dan Syiah bermula setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi. Saat itu, umat Islam menghadapi pertanyaan penting: siapa yang akan memimpin komunitas muslim setelah Nabi.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah ini adalah Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yang menikah dengan Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Nabi. Ali juga dikenal sebagai salah satu orang pertama yang memeluk Islam dan menjadi sahabat dekat Nabi.
Dalam pandangan kelompok Syiah, Ali dianggap sebagai sosok yang paling berhak menjadi penerus kepemimpinan umat Islam. Mereka merujuk pada peristiwa khutbah Nabi di Ghadir Khum, di mana Nabi menyebut Ali sebagai “maula”.
Namun, interpretasi kata tersebut menjadi sumber perbedaan. Kaum Sunni menafsirkan “maula” sebagai pelindung atau sahabat dekat, sedangkan Syiah mengartikannya sebagai pemimpin atau khalifah yang sah.
Perbedaan penafsiran inilah yang kemudian berkembang menjadi perdebatan panjang dalam sejarah Islam.
Musyawarah Pemilihan Khalifah
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, para sahabat berkumpul di Madinah untuk menentukan pemimpin baru. Dalam pertemuan tersebut, Abu Bakar akhirnya dipilih sebagai khalifah pertama.
Menariknya, Ali tidak hadir dalam musyawarah tersebut karena sedang mengurus pemakaman Nabi. Meski demikian, keputusan tetap diambil dan Abu Bakar dinyatakan sebagai pemimpin umat Islam.
Kelompok Sunni menerima keputusan tersebut sebagai hasil musyawarah yang sah. Sementara itu, sebagian pengikut Ali menilai bahwa kepemimpinan seharusnya berada di tangan keluarga Nabi atau Ahlul Bait.
Perbedaan pandangan ini semakin memperlebar jarak antara kedua kelompok.
Konflik Politik dan Perang Saudara
Ketegangan dalam dunia Islam terus berkembang seiring pergantian kepemimpinan khalifah. Setelah Abu Bakar dan Umar, kepemimpinan jatuh kepada Utsman bin Affan.
Namun, pemerintahan Utsman menghadapi banyak kritik, terutama terkait tuduhan nepotisme dan konflik antar suku. Situasi memanas hingga akhirnya Utsman terbunuh dalam pemberontakan pada tahun 656 Masehi.
Setelah kematian Utsman, Ali bin Abi Thalib akhirnya diangkat menjadi khalifah keempat. Namun kepemimpinannya tidak berjalan mulus.
Beberapa tokoh penting, termasuk Muawiyah yang merupakan gubernur Suriah dan kerabat Utsman, menuntut agar pelaku pembunuhan Utsman segera dihukum. Ketegangan politik ini memicu perang saudara pertama dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai Fitnah.
Salah satu pertempuran besar dalam konflik tersebut adalah Perang Unta yang terjadi di dekat Basra pada tahun 656 Masehi. Pasukan Ali berhasil memenangkan pertempuran tersebut, tetapi konflik tidak berhenti di sana.
Muawiyah tetap menolak mengakui kepemimpinan Ali, sehingga kedua pihak akhirnya berhadapan di tepi Sungai Efrat pada tahun 657 Masehi. Konflik tersebut berujung pada proses arbitrase yang justru memicu perpecahan baru di kalangan pendukung Ali.
Sebagian pengikutnya keluar dari barisan dan membentuk kelompok Khawarij.
Kematian Ali dan Lahirnya Simbol Syiah
Situasi politik semakin rumit hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh seorang anggota Khawarij pada tahun 661 Masehi saat sedang melaksanakan salat di Masjid Kufah.
Kematian Ali menjadi momen penting dalam sejarah Syiah. Peristiwa tersebut kemudian diikuti tragedi besar lainnya, yaitu Pertempuran Karbala yang menewaskan putra Ali, Husain bin Ali.
Tragedi Karbala menjadi simbol perjuangan dan pengorbanan bagi umat Syiah. Setiap tahun, peristiwa ini diperingati dalam perayaan Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Hingga kini, perbedaan Sunni dan Syiah masih menjadi bagian dari dinamika dunia Islam. Meski demikian, keduanya tetap berbagi banyak kesamaan dalam ajaran dasar agama, termasuk keimanan kepada Allah, Nabi Muhammad SAW, serta Alquran sebagai kitab suci.
Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa perpecahan Sunni dan Syiah tidak hanya dipengaruhi oleh perbedaan teologi, tetapi juga oleh konflik politik dan perebutan kepemimpinan pada masa awal Islam.
Editor : Novica Satya Nadianti