JAKARTA - Konflik Sunni dan Syiah kerap dipandang sebagai pertentangan teologis dalam Islam. Namun sejumlah sejarawan menilai akar perpecahan tersebut sebenarnya berawal dari persoalan politik, terutama mengenai siapa yang berhak memimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi.
Seiring berjalannya waktu, konflik Sunni dan Syiah berkembang menjadi identitas keagamaan yang kuat. Padahal pada awalnya, perbedaan tersebut lebih berkaitan dengan suksesi kepemimpinan. Dari peristiwa itu, lahir dua arus besar dalam Islam yang hingga kini masih memiliki pengaruh besar dalam dinamika dunia Muslim.
Saat ini umat Islam berjumlah lebih dari 1,8 miliar orang di seluruh dunia. Mayoritas di antaranya adalah Sunni, sementara Syiah menjadi mayoritas di beberapa negara seperti Iran serta sebagian wilayah Irak, Bahrain, dan Azerbaijan.
Ketegangan antara dua arus ini bahkan meluas hingga ke ranah geopolitik modern. Rivalitas antara Iran yang mayoritas Syiah dan negara-negara Arab Sunni, terutama Arab Saudi, kerap disebut sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi konflik di Timur Tengah.
Sakifah dan Awal Perpecahan
Peristiwa penting yang sering disebut sebagai awal konflik Sunni dan Syiah adalah pertemuan di Sakifah Bani Saidah di Madinah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Dalam catatan sejarawan klasik seperti At-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wal Muluk, kelompok Ansar berkumpul untuk membahas siapa yang akan memimpin umat Islam. Kaum Muhajirin kemudian bergabung dalam pertemuan tersebut.
Setelah melalui perdebatan, mayoritas sahabat akhirnya membaiat Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dalam pandangan Sunni, keputusan tersebut dianggap sebagai hasil musyawarah yang sah.
Namun sebagian muslim meyakini bahwa kepemimpinan seharusnya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Sejarawan modern Wilferd Madelung dalam bukunya The Succession to Muhammad menilai bahwa posisi Ali memiliki legitimasi genealogis dan spiritual yang kuat.
Perbedaan pandangan tentang kepemimpinan inilah yang kemudian berkembang menjadi garis pemisah antara kelompok yang kelak disebut Sunni dan Syiah.
Tragedi Karbala dan Pembentukan Identitas
Jika Sakifah menjadi titik awal konflik, tragedi Karbala pada tahun 680 Masehi dianggap sebagai peristiwa yang memperdalam perpecahan.
Dalam peristiwa tersebut, Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, terbunuh oleh pasukan Yazid bin Muawiyah dari Dinasti Umayyah. Banyak sumber sejarah, termasuk karya At-Tabari dan Ibnu Katsir, mencatat tragedi tersebut sebagai salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah Islam.
Bagi komunitas Syiah, tragedi Karbala menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan terhadap keluarga Nabi atau Ahlul Bait. Sementara bagi Sunni, peristiwa tersebut dipandang sebagai tragedi sejarah yang menyedihkan tetapi tidak menjadi dasar utama teologi.
Sejak saat itu, konsep kepemimpinan dalam Islam mulai berkembang berbeda. Syiah mengembangkan konsep imamah, yakni kepemimpinan spiritual yang diyakini sebagai hak ilahi keluarga Nabi. Sementara Sunni mengembangkan konsep khilafah yang menekankan musyawarah dalam pemilihan pemimpin.
Iran dan Transformasi Mazhab Negara
Menariknya, wilayah Iran pada awalnya bukan pusat Syiah seperti saat ini. Setelah penaklukan Persia pada abad ke-7, wilayah tersebut justru mayoritas Sunni selama berabad-abad.
Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-16 ketika Shah Ismail I mendirikan Dinasti Safawi. Ia menetapkan Syiah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negara.
Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menyebut keputusan tersebut sebagai langkah politik strategis untuk membedakan Persia dari rival utamanya saat itu, yaitu Kesultanan Ottoman yang bermazhab Sunni.
Dalam beberapa dekade, Iran mengalami transformasi besar hingga akhirnya dikenal sebagai pusat Syiah dunia.
Rivalitas Iran dan Arab Saudi
Rivalitas antara Iran dan Arab Saudi semakin tajam setelah Revolusi Iran tahun 1979 yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini. Revolusi tersebut menggulingkan monarki Shah Iran dan mendirikan Republik Islam Iran.
Analis politik Vali Nasr dalam bukunya The Shia Revival menyebut revolusi tersebut sebagai momen kebangkitan identitas politik Syiah yang mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Di sisi lain, Arab Saudi memiliki posisi strategis sebagai penjaga dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah. Status tersebut memberikan pengaruh besar dalam dunia Sunni.
Persaingan antara kedua negara ini sering terlihat dalam konflik regional seperti di Suriah, Irak, Yaman, hingga Lebanon. Banyak analis menilai konflik tersebut sering dilabeli sebagai konflik sektarian, padahal yang dipertaruhkan sebenarnya adalah pengaruh geopolitik di kawasan.
Konflik Identitas atau Perebutan Kekuasaan?
Sejumlah pengamat menilai bahwa konflik Sunni dan Syiah modern tidak semata-mata didorong oleh perbedaan teologi. Mazhab sering kali digunakan sebagai identitas mobilisasi dalam perebutan kekuasaan regional.
Meski demikian, di banyak wilayah umat Sunni dan Syiah hidup berdampingan selama berabad-abad tanpa konflik besar. Keduanya sama-sama mengimani Alquran, Nabi Muhammad SAW, serta menjalankan rukun Islam yang sama.
Sejarah panjang konflik ini menunjukkan bahwa perbedaan mazhab tidak selalu menjadi sumber perpecahan. Dalam banyak kasus, faktor politik dan kepentingan kekuasaan justru memainkan peran yang jauh lebih besar dalam membentuk dinamika hubungan Sunni dan Syiah hingga saat ini.
Editor : Novica Satya Nadianti