Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Perpecahan Sunni dan Syiah: Berawal dari Persoalan Suksesi Nabi hingga Tragedi Karbala yang Mengubah Wajah Dunia Islam

Novica Satya Nadianti • Senin, 16 Maret 2026 | 15:10 WIB
Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari suksesi Nabi hingga tragedi Karbala yang membentuk dua tradisi besar dalam Islam.
Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari suksesi Nabi hingga tragedi Karbala yang membentuk dua tradisi besar dalam Islam.

 

JAKARTA - Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan panjang peradaban Islam. Perbedaan antara dua kelompok terbesar umat Islam ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari peristiwa politik setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi.

Saat ini, umat Islam berjumlah lebih dari 1,5 miliar orang yang tersebar di berbagai wilayah dunia, mulai dari Maroko hingga Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 hingga 90 persen merupakan penganut Sunni, sementara sisanya adalah Syiah. Meski sama-sama berpegang pada Alquran dan ajaran Nabi Muhammad SAW, sejarah perpecahan Sunni dan Syiah menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat Islam.

Perpecahan ini kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dan tradisi keagamaan yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.

Baca Juga: Apa Itu Riya dalam Islam? Buya Yahya Jelaskan Perbedaan Riya, Ujub, dan Ikhlas yang Sering Disalahpahami

Ali bin Abi Thalib dan Awal Konflik Kepemimpinan

Tokoh penting dalam sejarah perpecahan Sunni dan Syiah adalah Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW dari klan Bani Hasyim di Mekah.

Sejak muda, Ali dikenal sangat dekat dengan Nabi. Ayahnya, Abu Thalib, bahkan menjadi orang yang merawat Nabi Muhammad ketika beliau masih kecil setelah kehilangan kedua orang tuanya. Ketika Nabi Muhammad menyatakan kenabiannya pada tahun 610 Masehi, Ali termasuk orang pertama yang menerima Islam.

Pada masa awal dakwah Islam di Mekah, Nabi dan para pengikutnya menghadapi tekanan dari masyarakat Quraisy yang masih menganut kepercayaan politeistik. Situasi ini akhirnya memaksa Nabi Muhammad dan para pengikutnya melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi awal kalender Islam.

Beberapa dekade kemudian, komunitas Muslim berhasil berkembang pesat hingga menguasai sebagian besar Jazirah Arab. Namun muncul pertanyaan besar menjelang akhir hayat Nabi: siapa yang akan memimpin umat Islam setelah beliau wafat.

Baca Juga: 7 HP Terbaik Harga 1 Jutaan Maret 2026: Advan X1, Itel S25 hingga Oppo A6, Spek Ngebut RAM 8 GB & Baterai Jumbo

Perdebatan tentang Suksesi Nabi

Salah satu peristiwa yang sering dikaitkan dengan perdebatan ini adalah khutbah Nabi di Ghadir Khum. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad disebut menggandeng tangan Ali dan mengatakan bahwa siapa pun yang menjadikan beliau sebagai “maula”, maka Ali juga merupakan “maula” bagi mereka.

Dalam pandangan Syiah, kata “maula” diartikan sebagai pemimpin atau penerus Nabi. Karena itu, mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad telah memberikan isyarat kuat tentang kepemimpinan Ali.

Sebaliknya, kalangan Sunni menafsirkan kata tersebut sebagai bentuk penghormatan atau kedekatan spiritual antara Nabi dan Ali, bukan penunjukan langsung sebagai pengganti.

Perbedaan tafsir inilah yang menjadi salah satu dasar munculnya perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat Islam.

Musyawarah Memilih Khalifah

Setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 Masehi, umat Islam menghadapi situasi tanpa kepemimpinan yang jelas. Sebuah pertemuan kemudian digelar di Madinah untuk menentukan pemimpin baru.

Dalam musyawarah tersebut, mayoritas sahabat akhirnya memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam. Ia merupakan sahabat dekat Nabi sekaligus ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW.

Namun sebagian kelompok merasa bahwa keputusan tersebut diambil tanpa melibatkan Ali bin Abi Thalib, yang saat itu sedang mengurus pemakaman Nabi. Beberapa pengikut Ali pada awalnya menolak keputusan tersebut, meskipun akhirnya Ali tetap mengakui kepemimpinan Abu Bakar.

Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinan umat Islam berlanjut kepada Umar bin Khattab dan kemudian Utsman bin Affan.

Baca Juga: Cara Menghindari Riya Menurut Imam Al-Ghazali: Luruskan Niat, Sembunyikan Amal, dan Ingat Selalu Diawasi Allah

Fitnah Pertama dan Konflik Internal

Ketegangan politik dalam kekhalifahan semakin meningkat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Sejumlah pihak menuduh adanya praktik nepotisme dalam pemerintahan, yang kemudian memicu pemberontakan.

Utsman akhirnya terbunuh pada tahun 656 Masehi. Setelah peristiwa tersebut, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah keempat.

Namun kepemimpinan Ali tidak berjalan mudah. Sejumlah tokoh penting, termasuk Muawiyah yang merupakan gubernur Suriah, menuntut agar para pembunuh Utsman segera dihukum. Ketegangan ini akhirnya memicu perang saudara pertama dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai Fitnah.

Baca Juga: 7 HP Terbaik Harga 1 Jutaan 2026: Samsung A07 hingga Tecno Spark 40, Spek Gahar RAM 8 GB dan Baterai Jumbo

Salah satu pertempuran besar yang terjadi adalah Perang Unta di dekat Basra, di mana pasukan Ali berhasil mengalahkan kelompok pemberontak.

Tragedi Karbala yang Mengubah Sejarah

Setelah Ali wafat akibat serangan kelompok Khawarij pada tahun 661 Masehi, konflik dalam dunia Islam terus berlanjut. Putra Ali, Hasan bin Ali, sempat diangkat sebagai khalifah namun kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah untuk menghindari pertumpahan darah.

Ketegangan kembali memuncak ketika Muawiyah menunjuk putranya Yazid sebagai penerus kekuasaan. Keputusan ini ditentang oleh Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 680 Masehi, Husain bersama keluarga dan pengikutnya menuju Kufah setelah menerima dukungan dari penduduk kota tersebut. Namun di tengah perjalanan, pasukan Yazid menghadangnya di Karbala.

Baca Juga: Daftar 7 HP terbaik harga 1 jutaan Maret 2026 seperti Samsung A07, Redmi 15C hingga Oppo A6 dengan baterai jumbo dan layar 120 Hz.

Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala, Husain dan sebagian besar pengikutnya gugur. Peristiwa ini menjadi simbol penting bagi komunitas Syiah dan diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Asyura.

Perbedaan yang Membentuk Dua Tradisi Besar

Sejak peristiwa Karbala, perbedaan antara Sunni dan Syiah semakin menguat. Syiah menekankan kepemimpinan spiritual keluarga Nabi atau Ahlul Bait, sementara Sunni tetap berpegang pada konsep pemilihan pemimpin melalui musyawarah.

Meski sering dianggap sebagai sumber konflik, sejarah juga menunjukkan bahwa kedua kelompok ini telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban Islam.

Perbedaan yang muncul dalam sejarah seharusnya menjadi bahan refleksi untuk memperkuat dialog dan saling menghormati di antara umat Islam, bukan justru memperdalam perpecahan.

Editor : Novica Satya Nadianti
#Ali bin Abi Thalib #sejarah islam #sunni dan syiah