JAKARTA - Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan panjang peradaban Islam. Perbedaan antara dua kelompok terbesar umat Islam ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari peristiwa politik setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi.
Saat ini, umat Islam berjumlah lebih dari 1,5 miliar orang yang tersebar di berbagai wilayah dunia, mulai dari Maroko hingga Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 hingga 90 persen merupakan penganut Sunni, sementara sisanya adalah Syiah. Meski sama-sama berpegang pada Alquran dan ajaran Nabi Muhammad SAW, sejarah perpecahan Sunni dan Syiah menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat Islam.
Perpecahan ini kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dan tradisi keagamaan yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.
Ali bin Abi Thalib dan Awal Konflik Kepemimpinan
Tokoh penting dalam sejarah perpecahan Sunni dan Syiah adalah Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW dari klan Bani Hasyim di Mekah.
Sejak muda, Ali dikenal sangat dekat dengan Nabi. Ayahnya, Abu Thalib, bahkan menjadi orang yang merawat Nabi Muhammad ketika beliau masih kecil setelah kehilangan kedua orang tuanya. Ketika Nabi Muhammad menyatakan kenabiannya pada tahun 610 Masehi, Ali termasuk orang pertama yang menerima Islam.
Pada masa awal dakwah Islam di Mekah, Nabi dan para pengikutnya menghadapi tekanan dari masyarakat Quraisy yang masih menganut kepercayaan politeistik. Situasi ini akhirnya memaksa Nabi Muhammad dan para pengikutnya melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi, sebuah peristiwa yang kemudian menjadi awal kalender Islam.
Beberapa dekade kemudian, komunitas Muslim berhasil berkembang pesat hingga menguasai sebagian besar Jazirah Arab. Namun muncul pertanyaan besar menjelang akhir hayat Nabi: siapa yang akan memimpin umat Islam setelah beliau wafat.
Perdebatan tentang Suksesi Nabi
Salah satu peristiwa yang sering dikaitkan dengan perdebatan ini adalah khutbah Nabi di Ghadir Khum. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad disebut menggandeng tangan Ali dan mengatakan bahwa siapa pun yang menjadikan beliau sebagai “maula”, maka Ali juga merupakan “maula” bagi mereka.
Dalam pandangan Syiah, kata “maula” diartikan sebagai pemimpin atau penerus Nabi. Karena itu, mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad telah memberikan isyarat kuat tentang kepemimpinan Ali.
Sebaliknya, kalangan Sunni menafsirkan kata tersebut sebagai bentuk penghormatan atau kedekatan spiritual antara Nabi dan Ali, bukan penunjukan langsung sebagai pengganti.
Perbedaan tafsir inilah yang menjadi salah satu dasar munculnya perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan umat Islam.
Musyawarah Memilih Khalifah
Setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 Masehi, umat Islam menghadapi situasi tanpa kepemimpinan yang jelas. Sebuah pertemuan kemudian digelar di Madinah untuk menentukan pemimpin baru.
Dalam musyawarah tersebut, mayoritas sahabat akhirnya memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam. Ia merupakan sahabat dekat Nabi sekaligus ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW.
Namun sebagian kelompok merasa bahwa keputusan tersebut diambil tanpa melibatkan Ali bin Abi Thalib, yang saat itu sedang mengurus pemakaman Nabi. Beberapa pengikut Ali pada awalnya menolak keputusan tersebut, meskipun akhirnya Ali tetap mengakui kepemimpinan Abu Bakar.
Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinan umat Islam berlanjut kepada Umar bin Khattab dan kemudian Utsman bin Affan.
Fitnah Pertama dan Konflik Internal
Ketegangan politik dalam kekhalifahan semakin meningkat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Sejumlah pihak menuduh adanya praktik nepotisme dalam pemerintahan, yang kemudian memicu pemberontakan.
Utsman akhirnya terbunuh pada tahun 656 Masehi. Setelah peristiwa tersebut, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah keempat.
Namun kepemimpinan Ali tidak berjalan mudah. Sejumlah tokoh penting, termasuk Muawiyah yang merupakan gubernur Suriah, menuntut agar para pembunuh Utsman segera dihukum. Ketegangan ini akhirnya memicu perang saudara pertama dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai Fitnah.
Salah satu pertempuran besar yang terjadi adalah Perang Unta di dekat Basra, di mana pasukan Ali berhasil mengalahkan kelompok pemberontak.
Tragedi Karbala yang Mengubah Sejarah
Setelah Ali wafat akibat serangan kelompok Khawarij pada tahun 661 Masehi, konflik dalam dunia Islam terus berlanjut. Putra Ali, Hasan bin Ali, sempat diangkat sebagai khalifah namun kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah untuk menghindari pertumpahan darah.
Ketegangan kembali memuncak ketika Muawiyah menunjuk putranya Yazid sebagai penerus kekuasaan. Keputusan ini ditentang oleh Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.
Pada tahun 680 Masehi, Husain bersama keluarga dan pengikutnya menuju Kufah setelah menerima dukungan dari penduduk kota tersebut. Namun di tengah perjalanan, pasukan Yazid menghadangnya di Karbala.
Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Karbala, Husain dan sebagian besar pengikutnya gugur. Peristiwa ini menjadi simbol penting bagi komunitas Syiah dan diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Asyura.
Perbedaan yang Membentuk Dua Tradisi Besar
Sejak peristiwa Karbala, perbedaan antara Sunni dan Syiah semakin menguat. Syiah menekankan kepemimpinan spiritual keluarga Nabi atau Ahlul Bait, sementara Sunni tetap berpegang pada konsep pemilihan pemimpin melalui musyawarah.
Meski sering dianggap sebagai sumber konflik, sejarah juga menunjukkan bahwa kedua kelompok ini telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban Islam.
Perbedaan yang muncul dalam sejarah seharusnya menjadi bahan refleksi untuk memperkuat dialog dan saling menghormati di antara umat Islam, bukan justru memperdalam perpecahan.
Editor : Novica Satya Nadianti