JAKARTA – Gerhana matahari kembali menjadi perhatian publik menjelang pertengahan Agustus. Fenomena ini menarik untuk diamati sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang proses, dampak, dan cara aman melihatnya.
Gerhana matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau seluruhnya. Peristiwa ini hanya terjadi saat ketiganya hampir segaris.
Meski dianggap langka, gerhana matahari terjadi sekitar dua kali setahun pada musim gerhana karena kemiringan orbit Bulan.
Gerhana Matahari Terjadi Saat Bulan Menutupi Matahari
Gerhana terjadi ketika Bulan menghalangi cahaya Matahari ke Bumi. Jenisnya meliputi total, cincin, sebagian, dan hibrida, tergantung posisi dan bayangan Bulan.
Fenomena ini hanya bisa dilihat dari wilayah tertentu sesuai lintasan bayangan Bulan.
Baca Juga: Ketua IGTK Kabupaten Tulungagung: Suasana Belajar yang Menyenangkan Jadi Kunci Anak Betah di Sekolah
Gerhana Dapat Memengaruhi Lingkungan Sementara
Saat gerhana, cahaya Matahari berkurang sehingga suhu bisa turun, angin berubah, dan tekanan udara ikut terpengaruh.
Hewan dapat menunjukkan perilaku seperti malam hari, dan fotosintesis tanaman terganggu sementara. Semua efek ini hanya berlangsung singkat.
Melihat Gerhana Tanpa Pelindung Berisiko Merusak Mata
Bahaya utama gerhana adalah cara mengamatinya. Melihat Matahari langsung tanpa pelindung dapat merusak retina dan menyebabkan kebutaan permanen.
Pengamatan aman harus menggunakan kacamata gerhana standar atau metode proyeksi seperti kamera lubang jarum. Kacamata biasa atau alat tidak standar tidak aman.
Gerhana matahari adalah fenomena alam, bukan hal mistis. Dengan memahami prosesnya dan mengamati dengan benar, masyarakat dapat menikmatinya dengan aman.
Source YouTube Kompascom reporter On location
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo