JAKARTA – Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 akan menjadi salah satu fenomena astronomi paling dinantikan tahun depan. Jalur bayangan Bulan akan melintasi Greenland, Islandia, hingga Spanyol Utara dan mengubah siang hari menjadi gelap selama maksimal 2 menit 18 detik. Sayangnya, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung.
Fenomena tersebut diperkirakan menarik perhatian ilmuwan dan pengamat langit dari berbagai negara. Selain menghadirkan pemandangan langit yang langka, gerhana juga menjadi kesempatan penting untuk penelitian ilmiah mengenai Matahari 2026.
Jalur Gerhana Melintasi Greenland hingga Spanyol
Gerhana Matahari Total akan melewati wilayah Greenland, Islandia, hingga Spanyol Utara dengan durasi totalitas terpanjang mencapai 2 menit 18 detik.
Saat Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, langit di wilayah yang berada dalam jalur totalitas akan berubah gelap seperti malam. Kondisi tersebut juga dapat disertai penurunan suhu udara secara signifikan selama beberapa menit.
Fenomena ini menjadi salah satu gerhana matahari total yang paling dinantikan karena melintasi sejumlah wilayah daratan yang mudah dijangkau oleh para pengamat langit.
Ilmuwan Siapkan Penelitian Korona Matahari
Ratusan ilmuwan dari berbagai negara dilaporkan telah mempersiapkan puluhan balon penelitian untuk mengamati korona Matahari, yaitu lapisan atmosfer terluar Matahari yang biasanya tertutup cahaya terang Matahari.
Data yang diperoleh selama fase totalitas diharapkan dapat membantu mengungkap berbagai fenomena yang terjadi di atmosfer luar Matahari serta memperkaya penelitian di bidang astronomi.
Indonesia Baru Akan Dilintasi Gerhana Total pada 2042
Masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 karena saat fenomena berlangsung wilayah Indonesia sudah memasuki malam hari.
Indonesia terakhir kali mengalami gerhana matahari total pada Maret 2016. Berdasarkan informasi dalam transkrip, jalur gerhana matahari total baru akan kembali melintasi Indonesia pada 20 April 2042.
Meski tidak dapat diamati secara langsung dari Indonesia, fenomena ini tetap menjadi salah satu peristiwa astronomi penting yang menarik perhatian dunia karena menggabungkan nilai ilmiah dan keindahan alam dalam satu
(Source YouTube METRO TV)
Editor : Valentyo Samuel Putra Widodo