Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Perpecahan Sunni dan Syiah: Dari Konflik Suksesi Nabi Muhammad hingga Tragedi Karbala yang Mengubah Dunia Islam

Divka Vance Yandriana • 2026-03-14 14:45:00

Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari konflik suksesi Nabi Muhammad hingga tragedi Karbala yang membentuk dunia Islam.
Sejarah perpecahan Sunni dan Syiah bermula dari konflik suksesi Nabi Muhammad hingga tragedi Karbala yang membentuk dunia Islam.

JAKARTA - Perpecahan Sunni dan Syiah menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang masih berpengaruh hingga sekarang. Perbedaan antara dua kelompok besar umat Islam ini berawal dari konflik mengenai suksesi kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Saat ini terdapat lebih dari 1,5 miliar umat Islam di dunia yang tersebar dari Maroko hingga Indonesia. Meski memiliki kitab suci yang sama, yaitu Al-Qur’an, umat Islam tidak sepenuhnya berada dalam satu pandangan. Perbedaan tafsir terhadap sejarah dan peristiwa politik awal Islam menjadi salah satu faktor munculnya dua cabang besar, yakni Sunni dan Syiah.

Kelompok Sunni menjadi mayoritas dengan jumlah sekitar 85 hingga 90 persen dari total umat Islam di dunia. Sementara Syiah menjadi kelompok minoritas yang memiliki pengaruh kuat di beberapa wilayah, terutama Iran dan sebagian Timur Tengah.

Baca Juga: Tutorial Lapor SPT Tahunan Karyawan di Coretax DJP , Begini Cara Mudah Login hingga Unduh Bukti Lapor

Peran Ali bin Abi Thalib dalam Sejarah Islam

Untuk memahami sejarah perpecahan Sunni dan Syiah, kisahnya tidak bisa dilepaskan dari sosok Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad dan termasuk orang pertama yang memeluk Islam.

Ali lahir di Mekah dari klan Bani Hasyim yang berpengaruh. Ayahnya, Abu Thalib, juga dikenal sebagai tokoh yang membesarkan Nabi Muhammad ketika masih kecil. Kedekatan ini membuat Ali tumbuh dalam lingkungan keluarga Nabi.

Ketika Nabi Muhammad mulai menyampaikan dakwah Islam pada tahun 610 Masehi, Ali termasuk orang pertama yang menerima ajaran tersebut. Ia dikenal karena keberanian dan kontribusinya dalam berbagai pertempuran yang mempertahankan umat Islam di masa awal.

Baca Juga: KUR BRI 2026 Resmi Dibuka, Pinjaman Hingga Rp500 Juta Tanpa Agunan Tambahan untuk Plafon Tertentu

Peristiwa Ghadir Khum dan Awal Perbedaan Tafsir

Perbedaan pandangan antara Sunni dan Syiah mulai muncul setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632 Masehi. Salah satu peristiwa yang sering dijadikan dasar perdebatan adalah khotbah Nabi di Ghadir Khum.

Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad disebut menggandeng tangan Ali dan menyampaikan bahwa siapa pun yang menjadikan Nabi sebagai pemimpin maka Ali juga menjadi “maula”-nya. Namun kata “maula” memiliki banyak arti dalam bahasa Arab.

Kaum Syiah menafsirkan kata tersebut sebagai pemimpin atau penerus Nabi. Sebaliknya, kaum Sunni memahami kata tersebut sebagai sahabat dekat atau orang yang dicintai.

Perbedaan tafsir ini menjadi salah satu fondasi utama munculnya dua pandangan berbeda dalam dunia Islam.

Baca Juga: Cara Aktivasi DANA Plus: Fitur Pinjaman Saldo DANA Tanpa Ribet yang Diklaim Bisa Cair Instan, Begini Panduan Lengkapnya

Musyawarah Pemilihan Khalifah

Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat berkumpul di Madinah untuk menentukan pemimpin umat Islam berikutnya. Dalam pertemuan tersebut, Abu Bakar akhirnya dipilih sebagai khalifah pertama.

Ali bin Abi Thalib pada saat itu tidak hadir karena sedang mengurus pemakaman Nabi. Keputusan tersebut sempat memicu ketegangan karena sebagian sahabat menganggap Ali juga merupakan kandidat kuat untuk memimpin umat.

Meski demikian, Ali akhirnya menerima kepemimpinan Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, kemudian Utsman bin Affan.

Baru setelah wafatnya Utsman pada tahun 656 Masehi, Ali diangkat menjadi khalifah keempat dalam sejarah Islam.

Perang Saudara Islam Pertama

Masa kepemimpinan Ali berlangsung di tengah situasi politik yang sangat bergejolak. Konflik muncul setelah terbunuhnya Khalifah Utsman yang memicu tuntutan agar pelakunya dihukum.

Situasi ini kemudian memicu perang saudara pertama dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai “Fitnah”. Salah satu pertempuran besar adalah Pertempuran Unta yang terjadi di dekat Basra.

Konflik semakin memanas ketika Gubernur Suriah saat itu, Muawiyah, menolak mengakui Ali sebagai khalifah. Kedua pihak akhirnya berhadapan dalam pertempuran di Siffin pada tahun 657 Masehi.

Perang tersebut berakhir dengan proses arbitrase, namun keputusan yang dihasilkan justru memunculkan kelompok baru yang dikenal sebagai Khawarij.

Tragedi Karbala yang Mengubah Sejarah

Setelah Ali wafat pada tahun 661 Masehi, konflik politik terus berlanjut. Putra Ali, Hasan, sempat menjadi khalifah tetapi kemudian mengundurkan diri demi menghindari pertumpahan darah.

Namun ketegangan kembali muncul ketika Muawiyah menunjuk putranya, Yazid, sebagai penerus. Keputusan ini menimbulkan penolakan dari sebagian umat Islam.

Puncak konflik terjadi pada tahun 680 Masehi ketika Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, menentang kekuasaan Yazid. Husain bersama keluarga dan pengikutnya akhirnya dibunuh dalam peristiwa tragis yang dikenal sebagai Tragedi Karbala.

Peristiwa ini menjadi momen yang sangat penting bagi komunitas Syiah dan diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura.

Dampak Sejarah hingga Masa Kini

Peristiwa-peristiwa tersebut akhirnya memperkuat perbedaan antara Sunni dan Syiah. Bagi Syiah, keluarga Nabi atau Ahlul Bait memiliki kedudukan khusus dalam kepemimpinan umat.

Sementara itu, dalam tradisi Sunni, kepemimpinan umat Islam dianggap sebagai urusan politik yang dapat ditentukan melalui musyawarah.

Meski memiliki perbedaan sejarah dan teologis, kedua kelompok ini tetap menjadi bagian dari peradaban Islam yang sama dan sama-sama berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban dunia.

Editor : Divka Vance Yandriana
#sunni dan syiah #perpecahan