Radar Tulungagung - Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menangkap momen berharga dalam hidupnya. Bagiku, kamera bukan hanya alat, tapi jendela kecil yang membawaku menjelajahi dunia dari sudut pandang yang berbeda. Mengabadikan gambar lewat lensa adalah perpaduan antara kepekaan rasa, ketelitian teknis, dan intuisi artistik. Di sinilah aku ingin berbagi sekelumit pengalaman saat berada di balik kamera ketika dunia terasa berhenti sejenak, tepat dalam satu jepretan.
Segalanya dimulai dari keisengan memotret bunga di halaman rumah dengan kamera ponsel. Tapi entah mengapa, ada rasa puas yang tak bisa dijelaskan ketika berhasil menangkap cahaya yang jatuh sempurna pada kelopak. Dari situ, perlahan aku mulai mendalami teknik dasar fotografi: exposure, komposisi, hingga cara memanfaatkan cahaya alami.
Lalu datang momen pertama menggunakan kamera DSLR pinjaman. Getaran di tangan saat menekan shutter-nya menjadi candu. Rasanya seperti bisa berbicara tanpa kata-kata, bercerita tanpa suara.
Mengabadikan gambar membuatku menjadi pengamat yang lebih peka. Saat orang lain hanya melihat matahari terbenam sebagai pergantian hari, aku melihat lukisan cahaya yang berubah tiap detik. Saat orang lalu lalang di jalan, aku menangkap emosi di wajah-wajah mereka letih, bahagia, penasaran, bahkan kehilangan.
Suatu waktu, aku memotret seorang kakek penjual balon di pasar pagi. Sorot matanya bercerita lebih dari seribu kata. Foto itu bukan yang paling teknis atau paling tajam, tapi bagiku itu adalah potret jiwa.
Tak selalu mudah. Ada kalanya hujan turun tiba-tiba saat hunting foto outdoor, atau momen terbaik lewat begitu cepat tanpa sempat terabadikan. Pernah juga hasil jepretan gagal total karena kesalahan pengaturan ISO. Tapi justru dari kesalahan itu, aku belajar. Fotografi bukan hanya soal hasil, tapi proses. Sabar, teliti, dan terus mencoba.
Kini, setiap kali menggenggam kamera, aku tahu bahwa aku sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar gambar aku mencari rasa, cerita, dan koneksi. Fotografi mengajariku tentang kesabaran, cara memandang dunia, dan cara mencintai keheningan.
Karena di balik setiap jepretan, ada secuil kisah yang tak bisa diulang. Dan aku merasa beruntung bisa menjadi penulis kisah itu tanpa pena, tapi dengan cahaya.
Kalau kamu, momen seperti apa yang paling ingin kamu abadikan?
Editor : Yoga Dany Damara