Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengulik Manfaat Hati Ayam, Zat Besinya Lebih Tinggi dari Daging Sapi

Endah Sriwahyuni • Selasa, 21 Februari 2023 | 17:00 WIB

Memenuhi kebutuhan nutrisi pada bayi ternyata tidak terlalu sulit. Bahkan, bahan-bahan yang dibutuhkan banyak tersedia di sekitar. Misalnya saja hati ayam kampung yang padat nutrisi. Mulai dari protein hingga vitamin B6. Bahkan, organ dalam unggas ini disebut-sebut menjadi salah satu alternatif untuk menghindari stunting alias gizi buruk.

“Iya betul, hati ayam hati ayam (sumber, Red) protein hewani,” ujar Ahli gizi rumah sakit umum daerah (RSUD) Srengat, Reny Siskha Wiedhowati S.Gz.

Ini berlaku untuk jenis ayam kampung ataupun ayam broiler. Meski ada sedikit perbedaan pada komposisi nutrisi pada organ tersebut. Misalnya, hati ayam broiler memiliki kandungan lemak yang sedikit lebih tinggi ketimbang ayam kampung.

Reny menegaskan, kandungan kolesterol pada hati ayam broiler memang lebih tinggi dibandingkan bagian daging ayam lainnya. Tapi, selama dikonsumsi sesuai takaran itu masih tergolong aman. Terutama untuk anak di masa pertumbuhan. “Anak stunting sangat butuh kandungan gizi, protein dan lemak nya,” jelas dia.

Yang menjadi pertimbangan, kata dia, kadang justru soal budget atau biaya yang dikeluarkan untuk belanja sumber protein ini. Sebab, ada perbedaan yang cukup tinggi antara harga hati ayam kampung dan ayam broiler.

Menurut Reni, kemampuan setiap orang tua berbeda. Alhasil, ini bisa menjadi pemicu kurangnya asupan pada bayi karena kurangnya informasi mengenai komposisi yang sama pada organ unggas tersebut. “Kalau lebih mahal tentu mempengaruhi daya beli. Kalau tidak bisa beli tentu tidak bisa memenuhi asupan gizi,”ucapnya.

Tumbuh dan berkembang optimal menjadi dambaan setiap orang tua terhadap buah hatinya. Tentunya hal itu dapat terjadi jika pola dan asupan gizinya cukup. Sebaliknya, stunting alias gizi buruk menjadi ancaman jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi.

Reny mengungkapkan, kandungan zat besi pada hati ayam lebih jika dibandingkan dengan daging sapi. Dengan catatan, jumlah atau ukuran yang digunakan adalah sama. Untuk itu, sambung dia, hati ayam bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada anak atau bayi.

Namun, perlakuan dan porsi yang diberikan pada tiap anak memiliki takaran berbeda. Menurut dia, kementerian kesehatan telah mengeluarkan pedoman untuk porsi makan bada anak. Mulai dari saat belajar makan atau usia 6 bulan hingga anak usia 5 tahun. “Bisa menggunakan pedoman ‘Isi Piringku’,”ujarnya.

Secara umum, arahan dari Kementerian Kesehatan perihal komposisi makanan bayi ini menyeimbangkan asupan sayur, buah, karbohidrat dan protein.

Untuk bayi usia 6 bulan sampai 23 bulan, komposisis protein menjadi yang terbesar seteleh karbohidrat. Secara berurutan, 35 persen komposisi karbohirat, 30 persen protein, 25 persen sayur da buah, dan 10 persen kacang-kacangan. “Karbohidrat bisa dari nasi, kentang, ubi, jagung dan yang lain. Sedangkan protein hewani bisa didapat dari daging sapi, daging ayam, telur dan ikan,” katanya.

Untuk anak 24 bulan atau 2 tahun hingga 5 tahun porsi karbohidrat dan protein seimbang di 35 persen. 30 persen sisanya adalah sayur dan buah.

Reny menambahkan, faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap stunting adalah tingkat kecukupan gizi dan penyakit infeksi. Tingkat kecukupan gizi meliputi, zat gizi makro seperti Karbohidrat, Protein, Lemak. Sedangkan zat gizi mikro adalah vitamin dan mineral yang merupakan komponen yang memiliki pengaruh penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. “Salah satu mineral yang berperan terhadap kejadian stunting adalah zat besi. Itu juga ada terkandung dalam hati ayam,”katanya.

Kekurangan zat besi, kata dia, dapat menyebabkan seseorang mengalami anemia. Seorang ibu yang memiliki riwayat anemia selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan, sehingga akan lebih berisiko melahirkan bayi stunting. Bayi maupun balita stunting yang mengalami defisiensi zat besi, dapat menyebabkan gangguan kognitif dan fisik. “ Itu dikarenakan zat besi memegang peran untuk mengedarkan oksigen ke semua jaringan tubuh,”jelas dia.

Jika oksigenasi ke jaringan tulang berkurang, maka tulang tidak akan tumbuh maksimal. Selain itu defisiensi zat besi juga berhubungan dengan menurunnya fungsi kekebalan yang dapat mengakibatkan tubuh menjadi resitensi terhadap penyakit infeksi. Balita yang mengalami defisiensi zat besi lebih mudah terserang mikroorganisme. Kekurangan zat besi juga berhubungan erat dengan kerusakan kemampuan fungsional dari mekanisme kekebalan tubuh yang penting untuk masuknya penyakit atau infeksi. (hai)

Bukan Hormonal Aman Dikonsumsi

Saat ini sebagian masyarakat, enggan menggunakan hati ayam utamanya ayam broiler sebagai sumber nutrisi bagi bayi. Alasannya, unggas ini dipelihara dengan metode khusus dan dicurigai menyimpan bahaya untuk pertumbuhan bayi dan anak. “Ayam broiler itu tidak beda dengan ayam kampung,” ujar Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, drg Nanang Miftahudin.

Dia mengungkapkan, ayam broiler dikembangan melalui perubahan genetik. Sehingga pertumbuhan unggas tersebut jauh lebih cepat ketimbang ayam kampung. “Selama ini rumor beredar bahwa perkembangan cepat itu karena hormonal, itu salah. Tidak ada tambahan hormon khusus sehingga mempercepat pertumbuhan ayam jenis ini,” katanya.

Nanang tidak menampik, dulu hal itu pernah terjadi. Namun sudah sejak lama pengembangan menggunakan sistem tersebut dilarang. Dia juga memastikan, nutrisi yang diberikan dalam budidaya ayam tersebut aman dari bahan bahan kimiawi. Sehingga tidak berbahaya untuk dikonsumsi, begitu juga pada bayi dan anak. “Kenapa perkembangannya cepat, salah satunya karena nutrisi melalui pakan sangat tinggi. Sehingga dalam kurun waktu sebulan bisa dipanen,” jelas dia.

Pria berkacamata ini mengatakan, ada sedikit perbedaan pada ayam broiler jika dibandingan dengan ayam kampung. Misalnya kandungan lemak.

Menurutnya, ayam broiler memiliki lemak yang lebih banyak. Itu tidak terkecuali pada organ dalamnya, seperti hati. “Tapi seinggat saya komponen tertentu ayam broiler ini menjadi menu wajib untuk anak dengan kondisi tertentu. Misalnya anak autis itu dianjurkan untuk makan ceker ayam broiler,”tandasnya. (hai) Editor : Endah Sriwahyuni
#Kabupaten Blitar #hati ayam #manfaat hati ayam #Kota Blitar