KOTA BLITAR - Air sumur di Bumi Bung Karno rupanya tak sepenuhnya higienis. Indikasinya, dari sampel air yang diambil di 760 titik sumur, 70 persen di antaranya tercemar bakteri Escherichia coli alias E-coli yang notabene di atas ambang batas toleransi.
Bakteri ini umumnya mengganggu sistem pencernaan seperti diare dan penyakit lainnya. Parahnya, bisa memantik gizi buruk pada anak.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Blitar, drg Agus Sabtoni mengungkapkan, 70 persen sampel air dari 21 kelurahan yang tersebar di 3 kecamatan itu sejatinya tak layak konsumsi. Terlebih, cemaran bakteri yang menginfeksi anak dapat menghambat penyerapan gizi penting.
“Kalau diare pada anak, bahayanya zat gizi pada tubuh langsung keluar dan tidak bisa terserap di tubuh. Akhirnya berpengaruh pada angka gizi buruk,” ujarnya kemarin (24/2).
Air sumur yang tercemar bakteri ini tidak terjadi begitu saja. Secara garis besar, kata dia, E-coli berasal dari kotoran manusia alias tinja. Bakteri ini mengotori air lantaran jarak septic tank dengan sumur kurang dari 10 meter. E-coli bisa dengan mudah meresap ke tanah saat tampungan septic tank penuh dan tidak kedap.
Untuk mengantisipasi cemaran ini, Agus -sapaan akrabnya- menyarankan agar masyarakat membuat sumur yang jauh dari tampungan tinja. Selain itu, pembangunan dasar septic tank harus kedap agar tak meresap ke tanah.
“Kalau sudah hampir penuh (septic tank) bisa dibersihkan. Ini untuk meminimalisasi potensi air sumur tercemar,” sambungnya.
Pihaknya menyadari mayoritas masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih dari air sumur. Itu dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, bahkan konsumsi air minum juga dari air sumur. Dia menganjurkan agar masyarakat mengonsumsi air yang lebih higienis selain air sumur.
Nah, masyarakat bisa mengantisipasi pencemaran E-coli dengan mengakses layanan di puskesmas. Misalnya, mengecek kepekatan air dan meminta tablet sterilisasi air sumur. Penggunaannya yakni dimasukkan ke sumur hingga larut.
“Di Kota Blitar, air galonan sudah aman semua. Kami berharap masyarakat cek sumur ke faskes. Karena air yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari bebas cemaran, tidak berasa, berwarna, dan tidak berbau,” tandasnya. (luk/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni